Berwisata ke Kabupaten Siak yang Penuh Tempat Bersejarah

Berwisata ke Kabupaten Siak yang Penuh Tempat Bersejarah
info gambar utama

Nama Kabupaten Siak mungkin masih tedengar asing. Siak merupakan kabupaten yang ada di Provinsi Riau, yang mungkin lebih terkenal dengan Kota Dumai dan Pekanbaru.

Pada zaman dahulu, kabupaten tersebut merupakan bagian dari Kesultanan Siak Sri Inderapura. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II merupakan Sultan Siak terakhir dan menyatakan bahwa kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia dan ditetapkan sebagai Kabupaten Siak pada tahun 1999 dengan ibu kota Siak Sri Indrapura.

Agar lebih mengenal Kabupaten Siak, cobalah mengunjunginya langsung bila ada kesempatan bertandang ke Provinsi Riau. Berikut rekomendasi objek wisata yang bisa didatangi:

Istana Siak Sri Inderapura

Pada tahun 1889 Istana Asserayah Hasyimiah dibangun sebagai kediaman resmi Sultan Siak pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim.

Istana yang merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura ini memiliki luas 32 ribu meter persegi dan terdiri dari empat istana, yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana Baroe.

Bangunan dengan arsitektur bernuansa Melayu, Arab, dan Eropa ini terdiri dari dua lantai. Di bawah, ada ruang tunggu para tamu, ruang untuk ramu kehormatan, ruang tamu pria, ruang tamu wanita, serta ruang sidang kerajaan yang juga digunakan sebagai ruangan pesta.

Sedangkan di atas merupakan tempat untuk Sultan dan para tamu beristirahat. Pengunjung dapat melihat ada enam patung burung elang di puncak bangunan dan sebuah bangunan kecil di belakang istana yang dulunya difungsikan sebagai penjara.

Uniknya, di istana ini ada koleksi peninggalan kerajaan berupa perahu kuno bernama Kapal Kato. Dulunya, perahu tersebut digunakan sultan untuk bepergian ke daerah-daerah kekuasaannya.

Di dalam istana juga terdapat barang-barang peninggalan lain seperti singgasana raja, replika mahkota raja, alat makan keramik, hingga kursi kristal buatan tahun 1896.

Fakta Menarik Petirtaan Air Jolotundo, Punya Cerita Romantis Hingga Mitos Awet Muda

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

Jembatan Tengku Agung Syarifah Latifah | @Imam Fahroji Shutterstock
info gambar

Salah satu ikon Kabupaten Siak ialah Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, juga dikenal dengan nama Jembatan Siak. Jembatan dengan panjang 1.196 meter dan lebar 16,95 meter ini membentang di atas Sungai Siak. Di kedua sisinya, terdapat dua buah trotoar dengan lebar 2,25 meter. Ketinggiannya sekitar 23 meter di atas pemukaan Sungai Siak.

Di atas jembatan, terdapat dua buah menara dengan tinggi 80 meter yang digunakan sebagai diorama teater dan rumah makan, lengkap dengan lift untuk naik ke atas. Untuk penamaan jembatan ini diambil dari nama gelar Tengku Syarifah Mariam binti Fadyl, permaisuri Sultan Syarif Kasim II yang memerintah dari tahun 1915-1946.

Pulau Manimbora dan Labuan Cermin, Surga Tersembunyi di Kalimantan Timur

Tangsi Belanda

Tangsi Belanda | @Ahmad Bahrein Shutterstock
info gambar

Kabupaten Siak memang menjadi kawasan yang menyimpan berbagai tempat bersejarah. Salah satu yang menarik dikunjungi ialah Tangsi Belanda, sebuah bangunan jadul yang dulunya merupakan penjara.

Tangsi Belanda yang sudah berusia 160-an tahun ini berjarak sekitar 110 km dari Pekanbaru. Letak bangunan ini menghadap ke Sungai Siak dan dulunya digunakan sebagai benteng pertahanan tentara Belanda saat menjajah Indonesia. Pun terdapat ruangan-ruangan untuk penjara, asrama, kantor, serta gudang senjata dan logistik. Di depan gedung, masih ada sumur tua yang aktif, dapur, dan ruangan pos penjagaan.

Hingga kini, bangunan masih berdiri kokoh dan diperkirakan dibangun pada abad ke-18 pada masa Sultan Siak IX, Sultan Asy-Syaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin yang memerintah tahun 1827-1864.

Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

Kelenteng Hock Siu Kiong

Kelenteng Hock Siu Kiong | @Imam Fahroji Shutterstock
info gambar

Jika ke Siak, jangan lewatkan mengunjungi Kelenteng Hock Siu Kiong di Jalan Sultan Syarif Kasim. Kelenteng yang terletak di tengah kota Siak Sri Indrapura dibangun tahun 1871 dan menjadi bangunan tertua yang ada di Siak.

Kelenteng ini merupakan tempat ibadah masyarakat Tionghoa di kota Siak yang masih aktif hingga saat ini, sekaligus jadi salah satu objek wisata karena arsitekturnya terbilang unik. Kelenteng ini memang memiliki keunikan dari segi bentuk, bahan, teknologi, pengerjaan, hingga ragam hias yang digunakan. Keberadaan bangunan ini dianggap sangat penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Bangunan yang didominasi warna merah menyala ini memang begitu mencolok. Kelenteng ini memiliki dua patung singa penjaga kelenteng dan di bagian dalamnya patung dewa-dewi berjajar rapi. Di sisi kanan-kiri, terdapat lukisan naga dan burung phoenix. Bila berjalan ke bagian luar, akan ada lukisan yang menceritakan legenda The Eight Immortals yang populer dalam mitologi Tiongkok.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini