Seberapa Optimistis Anak Muda Soal Kemajuan Indonesia di Tahun Kedua Pandemi?

Seberapa Optimistis Anak Muda Soal Kemajuan Indonesia di Tahun Kedua Pandemi?
info gambar utama

Good News From Indonesia (GNFI) kembali melakukan survei indeks optimisme untuk keempat kalinya sejak 2008. Pada survei 2021, GNFI bekerja sama dengan lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), untuk mengukur seberapa optimistis generasi muda terhadap masa depan Indonesia.

Seperti tahun lalu, survei ini juga bertujuan untuk mengukur bagaimana dampak pandemi Covid-19 yang telah mengubah perilaku, kebiasaan, dan dinamika, kehidupan masyarakat di tengah pandemi yang belum surut.

Survei tahun ini membagi perhatian pada lima isu utama, yang meliputi:

  • Pendidikan dan Kebudayaan,
  • Kebutuhan Dasar,
  • Ekonomi dan Kesehatan,
  • Kehidupan Sosial, dan
  • Politik dan Hukum.

Survei ini dilakukan pada 8-15 Juli 2021 melalui wawancara telepon dengan response rate 14,46 persen dari 5.524 panel. Responden survei ini tersebar di 11 kota besar Indonesia, yakni:

  • Jabodetabek,
  • Bandung,
  • Semarang,
  • Yogyakarta,
  • Surakarta,
  • Surabaya,
  • Denpasar,
  • Medan,
  • Palembang,
  • Banjarmasin, dan
  • Makassar.

Generasi muda paling optimis pada sektor Pendidikan dan Kebudayaan

Hasil Indeks Optimisme 2021 | GNFI
info gambar

Generasi muda merasa optimistis terhadap masa depan Indonesia dengan net index 67,0 persen. Kemudian, berdasarkan lima sektor yang diteliti, tingkat optimisme paling tinggi berada pada sektor pendidikan dan kebudayaan dengan net index 83,9 persen.

Faktor yang menyebabkan tingginya optimisme generasi muda ada pada sub-sektor pendidikan, yang disebabkan semakin mudahnya akses pendidikan berkualitas di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan tersedianya fasilitas pendidikan tinggi pada setiap daerah di Indonesia.

Sedangkan pada sub-sektor kebudayaan, diterimanya produk kerajinan tangan Indonesia pada level dunia menjadi faktor yang menyebabkan tingginya optimisme generasi muda pada sektor kebudayaan.

Sektor berikutnya adalah kebutuhan dasar dengan net index 75,1 persen. Menariknya, di tengah perlambatan ekonomi dan terbatasnya peralatan medis akibat dampak pandemi Covid-19, sektor ekonomi dan kesehatan mampu mencatatkan net index sebesar 64,5 persen.

Selanjutnya, sektor kehidupan sosial mencatatkan net index sebesar 50,5 persen. Secara persentase, angka tersebut lebih rendah dari ketiga sektor sebelumnya, namun indeks optimismenya masih bisa dikategorikan tinggi.

Terakhir, Sektor politik dan hukum mendapat persentase paling rendah dengan hanya mencatat net index 28,1 persen.

Tingkat optimisme paling rendah berada pada sektor Politik dan Hukum

Sektor politik dan hukum dalam indeks optimisme 2021 | GNFI
info gambar

Sama seperti survei tahun lalu, bidang politik dan hukum menjadi sektor dengan tingkat optimisme paling rendah. Sektor ini hanya mencatat net index 28,1 persen, dengan klasifikasi rendah.

Persepsi bahwa praktik korupsi di Indonesia masih sangat tinggi merupakan alasan utama sektor hukum dan politik menjadi sektor dengan tingkat optimisme terendah ketimbang sektor lainnya.

Selain itu, responden juga masih merasa pesimistis terhadap penegakan hukum di Indonesia yang tidak diskriminatif di masa depan. Dari semua aspek yang ada, isu korupsi dan penegakan hukum menjadi permasalahan yang paling banyak diragukan responden dengan net index 30,8 persen.

Permasahan utama di Indonesia

Permasalahan utama di Indonesia | GNFI
info gambar

Generasi muda memandang Covid-19 menjadi masalah utama yang mereka lihat saat ini dengan persentase 73,3 persen.

Hal itu tercermin dari makin meningkatnya kasus Covid-19, terutama di bulan Juni dan Juli 2021. Penambahan kasus per 1 Juni 2021 tercatat 4.824 kemudian melonjak menjadi 56.757 kasus pada 15 Juli 2021. Angka tersebut merupakan rekor penambahan kasus harian tertinggi sejak Maret 2020.

Adanya penerapan kebijakan PPKM darurat dan PPKM level 3-4, membuat operasional sektor industri dan perekonomian di berbagai tingkat terganggu, sehingga mengakibatkan roda ekonomi melambat.

Selain Covid-19, para responden generasi muda ini melihat empat hal lain yang menjadi permasalahan. Di antaranya, kebijakan pemerintah yang menyulitkan dan tidak tegas diungkapkan oleh 4,3 pesren responden, fasilitas kesehatan dan vaksin 3,6 persen, masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan (prokes) 3,5 persen, dan masih maraknya praktik KKN 3,5 persen.

Isu dan rencana prioritas generasi muda

Isu yang paling mendapat perhatian generasi muda, yakni terkait kebijakan pemerintah yang menyulitkan dan tidak tegas dengan persentase 25,8 persen. Beberapa indikasinya bisa tercermin dari kebijakan larangan mudik, penyaluran bantuan sosial, hukuman bagi koruptor, hingga polemik rangkap jabatan pejabat Indonesia.

Kemudian, lapangan pekerjaan mendapat porsi tertinggi kedua dengan persentase 17,1 persen, lalu perekonomian dengan 11,4 persen, keamanan dan kriminalitas 6,5 persen, politik dan pemerintahan 5,5 persen, pendidikan 4 persen, karakter masyarakat 3,4 persen, penyaluran bansos tidak merata 0,9 persen, dan isu lainnya (biaya internet mahal, demokrasi, kebebasan berpandapat, dll) dengan porsi 1,5 persen.

Sukses di pekerjaan/usaha menjadi rencana prioritas utama bagi genersi muda dengan porsi 28,5 persen. Empat rencana prioritas utama lainnya meliputi menjadi pengusaha 19,5 persen, mendapat pekerjaan 13,1 persen, sukses di pendidikan (lulus tepat waktu, IPK bagus, dll) 6,1 persen, dan membeli/renovasi rumah dengan persentase 5,5 persen.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Iip M. Aditiya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Iip M. Aditiya.

IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini