Benny Moerdani, Dekat dengan Gus Dur yang Minta Dibacakan Yasin Sebelum Wafat

Benny Moerdani, Dekat dengan Gus Dur yang Minta Dibacakan Yasin Sebelum Wafat
info gambar utama

Peristiwa Tanjung Priok adalah kerusuhan yang melibatkan tentara dan warga di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada 12 September 1984. Kerusuhan ini merupakan salah satu kerusuhan besar yang terjadi pada masa Orde Baru.

Tragedi Tanjung Priok dihujani aksi penembakan yang menyebabkan 24 orang tewas dan 55 orang luka-luka. Namun, jumlah korban secara pasti tak diketahui hingga saat ini.

Kasus ini pun menyeret Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) saat itu, Jenderal Benny Moerdani. Benny diduga terlibat dalam kasus pelanggaran HAM yang menewaskan puluhan orang itu.

10 jam terjadinya insiden berdarah Moerdani menyebut posisi sulit 15 prajuritnya yang harus menghadapi massa berjumlah sekira 1.500 orang. Kendati demikian, Moerdani mengatakan sesungguhnya pihak aparat telah melakukan tahapan persuasif namun ditolak mentah-mentah oleh massa.

Para prajurit lantas melepaskan tembakan ke udara, namun tak digubris jua akhirnya terpaksa dilepaskan tembakan langsung.

“Karena massa terus menyerang dengan mengayunkan senjata clurit dan berusaha merebut senjata petugas keamanan,” ujar Moerdani dalam biografinya, Profil Prajurit Negarawan karya Julius Pour.

Peristiwa Tanjung Priok menyebabkan citra Benny Moerdani menjadi buruk di sebagian kalangan Islam. Situasi tersebut menyebabkan Benny Moerdani harus melakukan klarifikasi kepada Menteri Agama Munawir Sjadzali.

Dikutip dari Buku "Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto" karya Salim Said, Benny membantah dirinya anti Islam. Menurut Salim Said, saat ditanya mengenai dirinya anti Islam, muka Benny Moerdani memerah. Benny terdiam cukup lama, lalu kemudian menyangkal.

Berkeliling ke pesantren

Benny Moerdani kemudian bergerak cepat. Sebulan setelah peristiwa Tanjung Priok, awal November 1984, ditemani Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Benny bersafari ke pesantren-pesantren NU.

Dirinya pergi ke Lirboyo, Kediri, yang dipimpin Kiai Machrus Ali, di hadapan sekitar 800 ulama--termasuk Kiai As'ad Syamsul Arifin, sesepuh yang paling berpengaruh di kalangan nahdliyin saat itu--Benny berkunjung. Kunjungan itu atas undangan Kiai Machrus.

Dilansir dari Majalah Tempo, Benny telah berjalan jauh. Sebelumnya, ia telah mengunjungi Pesantren Salafiyah, Sukorejo, Situbondo, asuhan Kiai As'ad.

Dari Lirboyo, ia bergerak ke Tebuireng, Jombang, kemudian ke Pesantren Futuhiyah pimpinan Kiai M. Sodik Lutfi di Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Dalam pertemuan pada pagi hari itu, Benny disambut meriah. Umbul-umbul warna-warni menghiasi jalan masuk ke pesantren dan ratusan santri berjajar di sana.

Berseragam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dengan empat bintang di pundak, lebih dari satu jam Benny berbicara di depan seribuan ulama Jawa Tengah dan Yogyakarta. Ia menyesalkan masih ada orang yang menganggap ABRI menyudutkan umat Islam.

Pada prinsipnya, kata dia, ABRI tidak akan menangkap umat Islam yang menjalankan agamanya dengan baik."Yang ditangkap adalah perusuh yang kebetulan beragama Islam, jadi bukan Islamnya yang ditangkap," ujarnya seperti dikutip Tempo edisi 17 November 1984.

Kekuatan Militer Indonesia adalah yang Terbaik di Asia Tenggara, 15 Besar di Dunia

Menurut Greg Burton dalam dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography (2003:155), Benny memang sangat tidak dipercaya oleh para pemimpin Muslim, khususnya dari kalangan mordenis kota. Oleh karena itulah ia mendekati para pemimpin Islam tradisional di pesantren-pesantren, termasuk kedekatannya dengan Gus Dur.

Menurut Salahuddin Wahid (Gus Solah), Hubungan Gus Dur-Benny sangat baik. Gus Dur disebut mengagumi Benny meski berbeda pandangan, keduanya sama-sama pluralis dan nasionalis.

"Memegang pendirian bahwa harus ada perbedaan yang tegas antara mana yang menjadi tanggungjawab negara dan mana milik agama itu sendiri," tulis Gus Dur dalam tulisannya di buku LB Moerdani: Langkah Perjuangan (2005).

Mereka berteman sejak 1970-an. Gus Dur mudah dekat karena dia saat itu tokoh Islam yang pandangannya paling terbuka. Saat itu, tidak banyak orang seperti itu.

Kiai Hasyim Muzadi dan Buya Syafii Maarif belum muncul. Di generasi mereka, mungkin baru Nurcholish Madjid (Cak Nur) di kalangan intelektual muslim yang lebih dulu punya pemikiran terbuka

Lahir dari keluarga Islam

Sebuah tulisan di buku L.B. Moerdani, 1932-2004, menyebut kalau Benny "100 persen Katolik", meski ke-Katolik-an itu tak diekspresikan secara gamblang dalam kehidupan sehari-hari. Baginya agama sebagai wilayah privat. Sebagai urusan kebatinan dan keterhubungan mutlak dengan Sang Pencipta harus tinggal dalam wilayah yang suci

Dalam memoarnya, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998 (2014), Jusuf Wanandi bercerita bagaimana Fikri Jufri bertanya pada Benny, “Kenapa Anda tidak mau masuk Islam supaya kami bisa memilih Anda sebagai Presiden Republik ini?”

Semua yang hadir terdiam. Benny menatap tajam Fikri dan bilang, “Apa kamu pikir saya semurah itu?” dengan nada marah. “Meninggalkan keyakinan saya hanya untuk mendapat suatu jabatan? Never!”

Benny terlahir dari pasangan berbeda agama. Menurut Julius Pour dalam Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan (1995), ayah Benny yang bernama Moerdani Sosrodirjo adalah seorang pegawai jawatan kereta api kolonial, dan Dia muslim.

Di Balik Cerita Patung Jenderal Soedirman yang Berdiri di Jepang

Sementara istrinya, guru TK bernama Jeanne Roech—yang berdarah setengah Jerman—beragama Katolik. Kesepuluh anak dari perkawinan mereka semua ikut ajaran Katolik.

Walau dianggap Katolik yang taat, dirinya juga memiliki sahabat dekat beragama Islam yaitu Adnan Ganto. Benny sendiri punya leluhur beragama Islam. Suatu kali, ketika Try Sutrisno masih menjadi Panglima Kodam Jakarta Raya, ia diajak Benny sowan ke Bima, Nusa Tenggara Barat.

Disebutkan dalam buku Keputusan Sulit Adnan Ganto itu, bahwa Try Sutrisno diajak Benny untuk berziarah ke makam leluhur-leluhurnya. Sambil menunjuk nisan-nisan itu, ia berkata, “Try, lihat, kamu baca. Ini nenek moyang saya. Orang Islam semua, kan? Pangeran semua.”

Kain kafan dan lantunan Yasin saat wafat

Adnan, seperti diceritakan dalam buku Keputusan Sulit Adnan Ganto, juga pernah diajak ke makam oleh Benny. Bukan makam leluhur Benny di Bima, melainkan makam orang tua Benny di Solo pada 1980-an. Di situlah Benny memberi wasiat penting kepada Adnan.

“Nan, saya kasih tahu kamu, ya, siapa tahu kamu lihat saya pada saat saya meninggal. Tolong kamu atur, supaya saya dimandikan secara Islam. Dikafani.”

Dikabarkan Tirto, Adnan minta izin pada Benny untuk menyampaikan wasiat Benny itu juga kepada Hartini Moerdani, istri Benny. Benny memperbolehkannya.

Adnan pun menyampaikan wasiat Benny itu kepada Hartini sebulan kemudian. Hartini tak banyak berkomentar dan berkata, "Terserah Benny, lah.” Adnan pun lega.

Apakah TNI Perlu Membeli Pesawat Canggih V-22 Osprey ini?

“Kalau saya dikafani secara Islam, kamu baca [surat] Yasin, kalau Tina ada, dia baca syahadat 25 kali,” ucap Benny menambahkan.

Tina yang dimaksud Benny adalah istri Adnan, Agustina Cholida Soetomo Soemowardoyo.

Saat Benny kritis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Adnan pun langsung datang dari New York. Setelah dihubungi oleh putri samata wayang Benny.

“Saya datang ke Rumah Sakit RSPAD pukul 20.00 dan terus menunggu pak Benny sampai meninggal dan membacakan syahadat sampai hembusan nafas terakhir,” ujar Adnan dalam biografinya.

Beberapa jam sebelum Benny wafat pada 29 Agustus 2004, Try Sutrisno hadir. Di kamar Benny, Try melihat Adnan dan Tina membacakan Yasin dan syahadat.

Try pun bertanya kepada Hartini. “Bu Benny, ini Tina baca Yasin boleh?” tanya Try. "Boleh," jawab Hartini. Kepada istri Adnan Ganto, Try pun berkata, “Tina, kamu terus baca, ya.”

Laksamana Widodo AS juga datang ke rumah duka. Begitu juga pastor yang hendak mengurus jenazah Benny. Sang pastor, seperti ditulis Nezar Patria dan Rusdi Mathari, kaget melihat Benny dikafani.

"Ini amanat,” Hartini berusaha menjelaskan.

Sang pastor bereaksi, “Oh ya?? dikafani?”

"Dikafani dan dimandikan secara Islam,” balas Hartini.

Pastor bertanya lagi, “Bukan pakai celana dan jas, ya?”

Hartini tak menjawab. Selain pastor dan Hartini, di ruangan itu ada Adnan, Tina, Ria, Widodo, dan Robby Kethek Sumampow. Widodo pun ikut menjelaskan, “Pastor, ini permintaan beliau.”

Pastor bergeming. Hartini pasrah, lalu ia berkata kepada Adnan, “Adnan, ya, sudahlah. Yang penting kita sudah mandikan secara Islam.”

Kafan pun dilepaskan dari tubuh Benny dan ia dikenakan pakaian lengkap dinas militer. Jenazahnya pun kemudian dimasukkan ke dalam peti. Benny akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, berdasarkan agama di KTP-nya: Katolik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini