Gastrodiplomasi dan Mimpi Besar Nation Branding Indonesia

Gastrodiplomasi dan Mimpi Besar Nation Branding Indonesia
info gambar utama

Makanan secara historis menjadi penghubung untuk masyarakat antara jarak budaya dan geografis. Pariwisata adalah fenomena lain yang menghubungkan masyarakat dan bangsa dan memainkan peran dalam membangun identitas nasional.

Diplomasi makanan dan pariwisata sejatinya telah lama muncul dan diakui dengan istilah diplomasi gastronomi atau disingkat gastrodiplomasi. Gastrodiplomasi dapat didefinisikan sebagai ranah kebijakan dan praktik di mana aktor negara dan non-negara berusaha untuk menumbuhkan citra positif dengan nation brand yang ditunjukkan kepada publik asing, menggunakan wisatawan asing yang dinilai sebagai potensi berharga untuk dapat meningkatkan pendapatan negara serta citra negara.

Gastrodiplomasi adalah sarana pencampuran antara diplomasi budaya, diplomasi kuliner, dan nation branding untuk menjadikan budaya asing berwujud dan menyentuh, seperti dalam penelitian yang ditulis oleh Paul s Rockower bertajuk Recipes for gastrodiplomacy, Place Branding and Public Diplomacy.

Wajah Jepang di gastrodiplomasi |
info gambar

Hal ini kemudian menjadi suatu acuan bagi negara untuk dapat mewujudkan tujuan negara melalui sektor kuliner nasional agar dapat menciptakan pengalaman baru bagi turis asing mencapai tujuan nasional suatu negara.

Dalam gastrodiplomasi, makanan digunakan sebagai strategi diplomatik dalam diplomasi antar pemerintah. Banyak negara telah menerapkan kampanye gastrodiplomasi selama dekade terakhir untuk meningkatkan pengaruh budaya mereka di dunia internasional.

Tujuan utama dari gastrodiplomasi tentu saja adalah untuk meningkatkan pendapatan ekonomi suatu negara dengan melibatkan aspek promosi yang dilakukan untuk mendukung penyebaran pengaruh budaya suatu negara. Gastrodiplomasi sendiri memanfaatkan budaya kuliner secara strategis untuk membangun citra, yang berkaitan dengan mempengaruhi persepsi publik asing terhadap budaya suatu bangsa.

Diplomasi gastronomi beda dengan diplomasi kuliner. Jika kuliner lebih menekankan pada proses masak-memasak dan seni menikmati makanan, maka gastronomi mempelajari dimensi sejarah, filosofi, dan latar budaya dari makanan.

Karena di sana ada dimensi sejarah, filosofi, dan budayanya, kelindan gastronomi dengan promosi budaya tak terhindarkan. Juga, karena mengandung elemen budaya, dalam khasanah diplomasi, gastronomi dimasukkan ke klaster diplomasi kebudayaan. Maka itu, dikenallah istilah gastrodiplomasi.

Kini ada di semua negara |
info gambar

Seorang pengamat gastrodiplomasi, Anna Lipscomb, dari The Yale Review of International Studies dalam peneleitiannya berjudul Culinary Relations: Gastrodiplomacy in Thailand, South Korea, and Taiwan (2019), mengatakan bahwa karena gastrodiplomasi terkait dengan upaya membangun citra bangsa melalui makanan, ia berada dalam ranah perjuangan diplomasi kebudayaan suatu negara untuk menumbuhkan rasa saling pengertian antarbangsa.

Dari penelitiannya di tiga negara itu, ia menyimpulkan bahwa setiap negara berupaya mengoneksikan makanan khasnya dengan ‘identitas nasional’ masing-masing (national identity).

Dari opini Lipscomb dan Rockower, dapat ditarik benang merah bahwa setidaknya ada dua konsep terkait citra suatu bangsa. Pertama, nation brand yang lebih banyak terkait reputasi kasatmata suatu negara, misalnya keindahan alam, kemajuan ekonomi, pencapaian teknologi, dan lainnya. Kedua, identitas nasional yang lebih merujuk kepada karakter bangsa, tradisi, budaya, dan bahasanya.

Korea Selatan misalnya, yang secara kasat mata negara ini dikenal karena reputasinya menghasilkan teknologi canggih kelas dunia, dan menjadi pusat dari sektor kreatif di Asia. Dalam konteks identitas nasional, Korsel dikenal dengan budayanya yang pekerja keras, demokratis, dan penganut tradisi konfusius yang kental, dan begitu menghargai arti keluarga--dalam mindset orang Korea Selatan, bangsa Korea adalah sebuah keluarga besar/extended family.

Berangkat dari dua konsep itu, pemahaman atas gastrodiplomasi mestinya tak hanya sebatas pada mempromosikan reputasi kasatmata suatu negara seperti lezatnya makanan. Lebih penting dari itu ialah memproyeksikan identitas nasional terkait karakter dan budaya bangsa. Ketika gastrodiplomasi juga menyentuh identitas budaya bangsa, sejati nya di sinilah letak irisan antara gastrodiplomasi dengan diplomasi kebudayaan.

Jepang juga bisa menjadi contoh. Bagi masyarakat Jepang, sushi adalah makanan khas yang mampu merepresentasikan Jepang dengan baik. Dalam proses pembuatannya sangatlah mengikuti aturan Jepang yaitu dalam permainan warna untuk estetika dan penggunaan bahan-bahan alami yang baik untuk kesehatan.

Pengolahan sushi cukup sederhana, dikarenakan sebagian besar kondimen sushi tidaklah diolah, hal ini bertujuan agar kondimen masih alami dan tidak banyak kehilangan zat gizinya. Dalam penyajian, permainan warna dan bentuk sushi yang bervariasi.

Dalam hal ini, sushi cukup mampu mewakili identitas bangsa Jepang, sebagai sebuah representasi budaya bangsa--dalam bentuk kuliner--yang mengandung sejarah dan filsafat tersendiri hal tersebut terjadi karena kecenderungan tradisional yang selalu mengutamakan estetika, nutrisi, dan tentu saja rasa.

Sushi juga telah menjadi menjadi identitas tak terpisahkan dari bangsa Jepang yang memiliki sejarah dan nilai-nilai yang khas. Ketika seseorang masuk ke sebuah restoran Jepang, dan memesan sushi misalnya, diharapkan yang terlintas dalam benaknya adalah kebudayaan masyarakat Jepang, kedisiplinan, kegigihan, dan karakternya yang tak mengenal menyerah.

Di Asia, kita bisa melihat bagaimana Korea Selatan melakukan gastrodiplomasinya. Negara tersebut secara masif menjalankan strategically coordinated branding program yang dimulai di bawah mantan Presiden Lee Myung Bak pada tahun 2009.

Program branding ini merupakan upaya untuk meningkatkan soft power Korea Selatan dan untuk menambah daya tarik bangsa tersebut agar makin dikenal dunia, dan salah satunya melalui dunia gastronominya.

Korea Selatan memanfaatkan popularitas dunia hiburannya (K-pop, K-movies, K-drama) yang sudah lebih dulu digrandungi miliaran orang di seluruh dunia, untuk mengenalkan kulinernya yang unik dan sehat. Kuliner Korsel di garis depan program ini adalah fermentasi lobak, lauk terkenal Korea, kimchi. Oleh karena itu, gastrodiplomasi Korea Selatan sering disebut dengan “Kimchi Diplomacy”.

Korea Selatan dilaporkan telah menghabiskan 77 juta dolar AS untuk kampanye “Korean Cuisine to the world". Kampanye dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari berpartner dengan media-media internasional, selebritis, dan politisi dunia, di samping juga pengembangan restoran-restoran korea di tempat-tempat strategis, hingga food truck yang menjual makanan korea.

Pemerintah Korea Selatan juga menyusun guideline dan standar khusus yang dibuat untuk menjadi pedoman pembuatan masakan Korea, juga penyusunan layout restorannya.

Singkatnya, soft power diplomacy Korea Selatan lengkap sudah. Musik, film, drama, teknologi, dan kini gastronominya, sudah dikenal dunia, dan menjadi promosi luar biasa dalam mengenalkan identitas nasional bangsa Korea, yang pada gilirannya akan mendatangkan rasa keingintahuan jutaan orang untuk datang langsung ke negara tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia?

Diplomasi soft power kita yang dilakukan tidak sebatas pada promosi keragaman budaya, keindahan alam, dan kelezatan makanan (diversity, beauty, delicacy). Untuk memproyeksikan citra Indonesia dalam perspektif yang lebih luas dan strategis, diplomasi kebudayaan dilakukan dalam narasi baru, yakni mencitrakan Indonesia yang demokratis, moderat, toleran, dan sangat beragam seni dan budayanya.

Hendaknya, inilah yang menjadi acuan untuk gastrodiplomasi kita. Gastrodiplomasi Indonesia seyogianya menarasikan makanan tertentu memiliki yang nilai simbolis yang memproyeksikan identitas nasional dan karakter bangsa.

Misalnya, nasi tumpeng dan gado-gado. Kedua panganan ini hampir selalu hadir di setiap acara gastrodiplomasi Indonesia di luar negeri.

Restoran Indonesia di Selandia Baru | "outside the Indonesian restaurant"by ladybugblue is licensed under CC BY-NC-SA 2.0

Jika gastrodiplomasi diletakkan dalam bingkai narasi baru diplomasi kebudayaan, makna simbolis dan filosofi dari kedua makanan itu harus dinarasikan kepada audiens. Nasi tumpeng yang bentuknya kerucut menunjuk ke atas menyimbolkan doa kita kepada Maha Pencipta akan sampai kepada-Nya. Ini simbol bangsa Indonesia yang religius.

Kerucut nasi kuningnya yang dikelilingi berbagai lauk-pauk warna-warni menunjukkan bangsa Indonesia yang beragam dalam etnik, suku, dan agama. Warna lauk pauk memberi keindahan dan kelezatan bagi kebinekaan Indonesia.

Pun gado-gado begitu. Beragam sayuran warna-warni jika sudah disatukan saus kacang akan terasa lebih lezat ketimbang dinikmati secara terpisah. Gado-gado juga berkarakter fleksibel dan moderat.

Indonesia juga sudah memiliki potensi kuliner untuk mencapai brand image kuliner diluar negeri. Beberapa masakan Indonesia terpilih dalam daftar World’s 50 Best Foods versi CNN antara lain: rendang, nasi goreng, soto ayam, dan bahkan rendang menduduki posisi pertama di tahun 2011 dan 2017.

Rendang bagi masyarakat Minang--tempat asalnya, memiliki filosofi yang sangat kuat. Orang Minang percaya bahwa saat memasak rendang ada tiga makna filosofis yang ada di baliknya, yaitu kesabaran, kebijaksanaan, dan kegigihan.

Saat memasak rendang, seseorang membutuhkan kesabaran dan kegigihan dalam mengaduk, serta kebijaksanaan dalam mengatur suhu api. Selain itu, kebijaksanaan juga diperlukan dalam memilih bahan-bahan seperti daging, cabai, dan rempah-rempah lain untuk mencapai cita rasa yang diinginkan.

Tidak hanya itu, aspek kesabaran dan pengalaman juga dibutuhkan untuk mencapai kesempurnaan dalam membuat rendang.

Indonesia, seperti yang kita ketahui, begitu kaya akan budaya, bahasa, dan tentu saja kuliner, seharusnya dapat menjadikan gastrodiplomasi sebagai peluang untuk memperluas persebaran budayanya ke kancah global. Masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua mengapa Indonesia belum bisa mencapai tujuan Nation Branding yang berusaha dibentuk melalui jalur diplomasi gastronomi ini.

Banyak program dan rencana jangka panjang bisa di jalankan. Pun ada banyak jalan yang sudah ditempuh negara lain yang berhasil, yang bisa kita contoh dan kembangkan. Thailand, Korea Selatan, dan Jepang, adalah sedikit di antaranya.

Namun, tentu saja semuanya dimulai dari satu hal kecil. Kita, anak bangsa Indonesia tentu harus lebih dulu mencintai kuliner-kuliner Indonesia, dan setelahnya menempatkannya dalam posisi terhormat di dalam negeri. Dari hal inilah, globalisasi kuliner Indonesia, pun gastrodiplomasi kita, bisa dimulai dengan lebih strategis.

Referensi:

Yulliana, Engga Ayu, et al. "MAKANAN SEBAGAI ALAT SOFT POWER: STUDI PERBANDINGAN GASTRODIPLOMASI JEPANG DAN KOREA SELATAN." NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial 8.2 (2021): 343-361.

L’Etang, Jacquie. "Public relations and sport in promotional culture." Public relations review 32.4 (2006): 386-394.

Setiawan, Rudi. "Memaknai Kuliner Tradisional diNusantara: Sebuah Tinjauan Etis." Respons: Jurnal Etika Sosial 21.01 (2016): 113-140.

Rockower, Paul S. "Recipes for gastrodiplomacy." Place Branding and Public Diplomacy 8.3 (2012): 235-246.

Lipscomb, Anna. "Culinary Relations: Gastrodiplomacy in Thailand, South Korea, and Taiwan." The Yale Review of International Studies 1.1 (2019): 1-3.

Zhang, Juyan. "The food of the worlds: Mapping and comparing contemporary gastrodiplomacy campaigns." International Journal of Communication 9 (2015): 24.

“Once Again! Indonesia's RENDANG And Nasi GORENG Crowned World's Best Foods.” Indonesia Travel, www.indonesia.travel/id/en/news/once-again-indonesia-s-rendang-and-nasi-goreng-crowned-world-s-best-foods.

Developer, Mediaindonesia.com. “Gastrodiplomasi Dan DIPLOMASI KEBUDAYAAN.” Media Indonesia, 3 Aug. 2020, mediaindonesia.com/opini/333731/gastrodiplomasi-dan-diplomasi-kebudayaan.

Tazaki, Kazue. "Green-tuff landslide areas are beneficial for rice nutrition in Japan." Anais da Academia Brasileira de Ciências 78 (2006): 749-763.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini