Hampir Mirip! Ini Filosofis Jajanan Pasar Lemper dan Semar Mendem

Hampir Mirip! Ini Filosofis Jajanan Pasar Lemper dan Semar Mendem
info gambar utama
Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Awalnya, penulis sempat berpikiran kalau semar mendem ini adalah jajanan yang sudah cukup umum, khususnya di jajaran kudapan di pasar. Sekilas, memang terlihat mirip dengan lemper karena mereka memang satu geng di jajanan pasar.

Namun, kalau diperhatikan secara detail, mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Kira-kira, apa perbedaannya dari kedua jajanan ini?

Semar mendem dan lemper sama-sama kue basah yang dibuat dari nasi ketan, kemudian dimasak bersama dengan santan. Semar mendem merupakan kudapan khas Yogyakarta yang terbuat dari beras ketan, lalu diberi isian abon atau ayam suwir. Semar mendem hampir mirip dengan lemper, isian dari keduanya pun juga sama-sama menggunakan ayam suwir.

Bedanya terletak pada pembungkus dari keduanya. Jika lemper langsung dibungkus dengan daun pisang, sedangkan semar mendem dibungkus dengan lapisan kulit berbahan campuran adonan antara tepung terigu dan telur, dibentuk seperti dadar. Kurang lebih adonan pembungkus dari semar mendem mirip seperti adonan crepes. Kedua kue ini sudah pasti kalian sering temukan di jajanan pasar.

Filosofi dari semar mendem

Semar mendem yang dilapisi kulit seperti dadar | Foto: Pinterest
info gambar

Dilansir dari Travelingyuk bahwa secara bahasa, semar mendem artinya semar yang sedang mabuk. Kudapan semar mendem diambil dari nama tokoh pewayangan, yaitu Semar yang merupakan anggota dari Punakawan. Arti mendem sendiri dalam bahasa Jawa artinya mabuk.

Jika dilihat dari visual dan bentuknya, bentuk dari semar mendem terlihat lebih gemuk yang menandakan banyak isiannya. Hal ini juga senada dengan tokoh pewayangan Semar yang memang memiliki badan gemuk.

Mencicipi Nikmatnya Sepiring Nasi Boranan Khas Lamongan

Kemudian, konon katanya dinamakan mabuk lantaran saat makan jajanan semar mendem ini tidak akan berhenti untuk mengunyah. Dengan demikian, mendem ini juga dikatakan seperti ketagihan jika menyantap kudapan semar mendem.

Selain itu, ada juga yang mengatakan jika penamaan jajanan semar mendem ini terinspirasi dari kebiasaan Semar, yang senang makan sampai kekenyangan. Tidak berhenti di situ saja, Semar di sini juga menyimbolkan kekuasaan.

Pada intinya, Semar si pemegang kekuasaan tidak diperbolehkan mendem alias mabuk kekuasaan. Jabatan yang dipegang Semar haruslah disalurkan pada kebaikan dan mengayomi rakyat.

Lemper kudapan filosofis

Lemper
info gambar

Jika semar mendem memiliki sarat makna yang sangat filosofis, tidak ketinggalan juga dengan jajanan lemper. Bagi masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, lemper bukanlah sekadar jajanan pasar yang terbuat dari ketan dan diisi dengan daging ayam.

Dilansir dari Tapak.id, teksturnya yang lengket dan cenderung sticky juga memiliki makna persaudaraan. Bersaudara berarti bersatu. Selain makna tersebut, nenek moyang masyarakat Jawa juga percaya bahwa tekstur lemper yang sangat lengket itu juga akan mendatangkan rezeki bagi siapapun yang memakannya.

Manjakan Lidah dengan Kelezatan dan Keunikan Kuliner Khas Madura

Versi lain mengatakan lemper memiliki makna yang diambil dari bahasa Jawa, yakni “yen dilem atimu ojo memper” yang meminta kita untuk tidak segera tinggi hati ketika baru mendapat pujian. Versi lain melansir dari etnis.id menyebutkan bahwasannya leluhur memberi ajaran yang mulia, lewat lengketnya lemper yang dimaknai cerminan dari rasa persaudaraan antara sesama manusia.

Tak hanya itu, ada pesan filosofis yang tersirat lagi. Bahan utama berupa beras ketan, memang sengaja dipilih karena memiliki makna tersendiri. Ketan bisa juga dipanjangkan namanya menjadi “Ngraketaken paseduluran”, yang berarti merekatkan persaudaraan.

Kehadiran dua tusuk bambunya merupakan simbol dari rukun Islam serta rukun iman. Daun pisang yang digunakan sebagai pembungkus juga memiliki arti, yaitu lambang hal yang tidak baik atau sifat buruk. Ini merupakan sebuah cerminan, manakala seseorang ingin memperoleh kemuliaan dalam hidup, harus senantiasa membersihkan diri dan membuang hal yang tidak baik.

Lemper pada tradisi Rebo Pungkasan

Lemper raksasa di upacara Rebo Pungkasan | Foto: Kusnanto Karasan
info gambar

Tidak hanya sebagai sajian jajanan saja, pada masyarakat Wonokromo, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta juga menyajikan lemper ini sebagai sajian utama dalam tradisi Rebo Pungkasan. Dalam upacara tersebut, lemper raksasa menjadi sajian utama di samping gunungan hasil bumi, serta prajurit Kraton Yogyakarta.

Dalam tradisi ini, setidaknya ada empat pesan yang dapat diambil, yaitu sebagai sarana manusia untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, meminta berkah dan keselamatan, memohon agar diberikan rezeki yang melimpah, dan terhindar dari segala marabahaya, serta sebagai wujud penghormatan bagi para leluhur.

Mengenal Empon-empon, Minuman Herbal Para Leluhur untuk Daya Tahan Tubuh

Meskipun jajanan lemper identik dengan jajanan pasar, tetapi seiring berjalannya waktu, lemper tidak hanya dapat ditemukan di pasar atau warung saja. Saat ini, lemper sering dijadikan snack khas untuk berbagai acara, Mulai dari acara-acara formal di kantor, hingga acara-acara adat seperti hajatan dan sebagainya. Tidak jarang kalau sekarang ini lemper juga masih banyak ditemukan.

Jadi, gimana kawan? Dijamin melahap satu sampai dua suap semar mendem bikin Kawan ketagihan sampai mendem. Jangan ketinggalan juga buat Kawan-kawan untuk cicipi lemper. Yuk, kita lestarikan jajanan khas Indonesia dan petik petuah yang tersirat di dalamnya!*

Referensi: Boombastis | Travelingyuk | Tapak.id | Etnis.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RM
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini