Misteri Jejak Hitler yang Jadi Dokter dan Dimakamkan di Indonesia

Misteri Jejak Hitler yang Jadi Dokter dan Dimakamkan di Indonesia
info gambar utama

Tanggal 1 Mei 1945 pukul 9.30 malam waktu Jerman, Radio Hamburg membuat sebuah pengumuman penting. Pengumuman itu didahului oleh musik karya Richard Wagner, composer favorit pemimpin Nazi, Adolf Hitler.

"Pemimpin besar kita, Sang Führer, Adolf Hitler, gugur sore ini di pos komando di kantor kanselir di Reich C dalam peperangan untuk Jerman," kata penyiar yang dinukil dari BBC Indonesia, Selasa (5/10/2021).

Pengumuman itu diragukan oleh banyak pihak. Besoknya Harian New York Times menulis: pemerintahan Nazi dipenuhi dusta, dan pengumuman itu bisa jadi salah satu dusta terbesar mereka.

Gunakan Bahan Makanan yang Terbuang Percuma, Resto Indonesia di Jerman Jadi Idaman

Koresponden koran ini di Jeman melaporkan, “Bekas tahanan politik Jerman yang saya temui tidak percaya informasi itu, Mereka curiga ini tipuan saja”.

Memang pada versi resmi, diktator Jerman ini diyakini tewas bunuh diri di sebuah bungker di Berlin pada 30 April 1945. Namun, fakta itu bahkan hingga kini terus dipertanyakan.

Program History Channel Documentary Amerika Serikat pada 2009 lalu menyatakan tengkorak milik Hitler yang disimpan Rusia bukan milik pemimpin NAZI tersebut. Itu adalah tengkorak perempuan berusia di bawah 40 tahun, bukan Hitler yang dinyatakan meninggal di usia 56 tahun.

Fakta ini makin memperkuat bahwa dirinya berhasil lolos dari Berlin dan tidak melakukan bunuh diri tahun 1945. Ada yang mengatakan Hitler meninggal di Argentina, Brazil, Amerika Selatan, bahkan Indonesia.

Jejak Nazi di Indonesia

Isu bahwa Hitler pernah singgah di Indonesia tidak berasal dari ruang kosong semata. Hubungan antara Hindia Belanda dengan Partai Nazi memang terjalin kuat dilihat dari bukti-bukti yang ada.

Misalnya tanggal 30 Mei 2014, tim ekspedisi Kopaska TNI AL menemukan satu kapal selam Nazi, Unterseeboot atau U-Boot yang sudah karam. Bangkai U-Boot dengan nomor lambung 168 tersebut ditemukan di kedalaman 25 meter di dasar laut di perairan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah.

Tentara Nazi memang pernah datang ke Indonesia setelah Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942 lalu. Mereka datang dengan menggunakan sejumlah kapal selam dengan menyelami Samudra Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka sepanjang 1943-1945.

Beroperasinya U-Boot merupakan perintah Hitler kepada Panglima Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz. Tujuannya, membuka blokade lawan yang dibutuhkan Jepang yang kala itu sedang menduduki Indonesia dan Malaysia.

Diskusi dan Pameran Perangko “Germany-Indonesia: Making Friends Through Stamps”

"Basis U-Boot di Batavia sendiri memiliki sebuah stasiun radio yang memadai untuk dapat berhubungan dengan Markas Besar Armada Jerman di Tokyo," yang dinukil dari buku Nazi Di Indonesia: Sebuah Sejarah yang Terlupakan karya Nino Oktorino.

Di pemakaman Arca Domas yang terletak kurang lebih pada ketinggian 1000 m dekat kota Bogor, di desa Cikopo juga bisa ditemukan sepuluh makam tentara Jerman. Dua diantaranya tidak dikenal, mereka gugur pada masa akhir Perang Dunia ke- 2, karena menderita sakit maupun akibat tindak kekerasan.

Pada awal abad ke-20 daerah tersebut merupakan bagian dari suatu perkebunan teh yang besar milik dua bersaudara asal Jerman Emil dan Theodor Helfferich. Kakak tertua mereka Karl Helfferich pada masa Perang Dunia I menjabat sebagai Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri dan Wakil Kanselir Jerman.

Mereka membangun sebuah monumen pada 1926 di antara pohon-pohon tua yang bertuliskan: Untuk para awak Armada Asia Jerman yang Pemberani, 1914. Tulisan ini sendiri mengacu pada kenangan akan Deutsch Ostasiatisches Geschwader (Armada Asia Jerman) yang tenggelam oleh Angkatan Laut Inggris di Kepulauan Falkland.

Sosok dr Poch, "Hitler" dari Sumbawa

Banyaknya penemuan bukti Nazi di Tanah Air, seperti memperkuat tuturan yang mengatakan Hitler meninggal di Indonesia. Kisah ini bermula dari sebuah artikel di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983.

Penulisnya bernama dr Sosrohusodo, dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal yang dijadikan rumah sakit bernama 'Hope' di Sumbawa Besar. Dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan dokter tua asal Jerman bernama Poch di Pulau Sumbawa Besar tahun 1960.

"Melalui perbincangan tentang masa lalunya dan ciri-ciri fisik, saya makin yakin dr Poch bukan orang sembarangan. Saya kira dia adalah Adolf Hitler yang misterius itu," tulis Sosrohusodo.

Bukti-bukti yang diajukannya adalah bahwa dokter tersebut tak bisa berjalan normal, dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan. Kemudian, kata Sosro, tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar.

Keyakinannya bertambah saat seorang keponakannya, pada 1980, memberinya laporan Heinz Linge, bekas pembantu Hitler yang berjudul Cerita Nyata Hari Terakhir Seorang Diktator terbitan majalah Zaman.

"Sejumlah orang Jerman tahu, Hitler menyeret kakinya saat berjalan, penglihatannya makin kabur, rambutnya tak lagi tumbuh. Kala perang makin berkecamuk dan Jerman terus dipukul kalah, Hitler menderita kelainan saraf." catatnya.

Indonesia Satu-satunya Negara Asia Tenggara yang Miliki Bongkahan Tembok Berlin

Sosro mengaku masih ingat beberapa percakapannya dengan Poch yang diduga adalah Hitler. Poch selalu memuji-muji Hitler. Dia juga mengatakan tak ada pembunuhan di Auschwitz, kamp konsentrasi yang diyakini sebagai lokasi pembantaian orang-orang Yahudi.

"Saat saya bertanya soal kematian Hitler, dia mengatakan tak tahu. Sebab, saat itu situasi di Berlin dalam keadaan chaos. Semua orang berusaha menyelamatkan diri masing-masing," katanya.

Hal yang membuatnya makin heran adalah Poch tidak memiliki ijazah kedokteran maupun lisensi apa pun di bidang kesehatan. Tetapi, sosok ini malah bisa menjadi pemimpin sebuah rumah sakit.

"Poch ternyata tidak menguasai dunia medis, saya tahu itu. Dari pembicaraannya, dia tidak mengerti soal kedokteran. Ini makin misterius saja. Lalu siapa yang mengangkatnya menjadi pemimpin rumah sakit tersebut. Tentu tidak sembarang orang bisa menjadi pemimpin salah satu lembaga penting seperti itu," ucapnya.

Poch kemudian diketahui menikahi seorang janda asal Jawa Barat bernama Sulaesih dan masuk agama Islam. Menurut Sosro, Poch sering mengaku kepada Sulaesih bahwa dirinya adalah Hitler saat disinggung kemiripan kumisnya dengan Charlie Chaplin.

Tapi Poch, mewanti-wanti agar Sulaesih tidak bercerita kepada siapa pun tentang hal itu. Beberapa tahun setelah pernikahannya, Poch wafat dan dimakamkan di Pemakaman Umum Ngagel Utara, Surabaya.

Benarkah Poch itu Hitler?

Berkembangnya cerita rakyat ini membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggali informasi tentang kebenaran bahwa pemimpin Nazi Adolf Hitler ini dimakamkan di Ngagel. Rencana ini digagas oleh Tri Rismaharini, saat menjabat Wali Kota sekaligus sebagai data Museum Surabaya.

Risma, panggilan akrabnya mengatakan pihaknya akan menelusuri daftar catatan kematian yang dimiliki Surabaya sejak zaman Belanda. Dia menyebut makam dr Poch yang diduga adalah Hitler benar berada di pemakaman Ngagel.

"Kami punya buku catatan kelahiran dan kematian sejak zaman Belanda. Namun saya enggak berani memastikan kebenarannya, tapi saya cek memang ada nama dr Poch yang dikubur di sana," ujarnya di Surabaya yang dilansir dari Bisnis, Selasa (5/10).

Sementara itu Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) belum memiliki kesimpulan kisah dokter tua asal Jerman itu. Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam menyatakan belum pernah menemukan tulisan atau bukti lain keterkaitan antara dokter tua asal Jerman itu dengan Hitler.

Icon Baru Kebangkitan Industri Indonesia. Dari Jerman

"Buktinya tidak jelas. Apakah orang itu Hitler atau bukan. Jadi, tentunya kita tidak memastikan di sini, " kata pria yang mendapat gelar doktor dari Ecole des Hautes Etudes en S. Sociales, Paris pada 1990 ini.

Menurut Asvi, bukti makam atau kuburan dr Poch belum cukup untuk membuktikan bahwa dia adalah sang Fuhrer. Begitu juga dengan pengakuan lisan kesaksian dari seseorang.

Asvi beranggapan dugaan dr Poch itu adalah Hitler lebih tepatnya disebut sejarah populer. Dan itu belum bisa dipastikan kebenarannya.

"Mengapa Hitler memilih Indonesia Itu cerita yang terpisah dari konteks sejarah Indonesia.Tidak ada kaitannya dengan sejarah Indonesia," tegasnya.

Memang kebenaran pernyataan Sosro soal Poch yang mirip dengan Hitler masih dipertanyakan. Misalnya klaim kecocokan fisik dianggap kurang kuat, karena hal tersebut banyak terjadi pada kaum manula.

Selain itu pernikahan Poch dengan Sulaesih pun bisa menjadi pertanyaan besar, karena Hitler adalah seorang yang rasis dan memandang rendah kulit berwarna. Ada juga laporan Sosro yang menyebut Poch menyantap telur mata sapi, hal ini pun dianggap sudah aneh.

"....Mengingat bahwa Hitler adalah vegetarian murni, yang bahkan jarang sekali menoleransi orang-orang yang menyantap produk hewani di dekatnya," bener Nino.

Selain itu rute pelarian dr Poch yang didapat Sosro dari Sulaesih pun menimbulkan banyak keraguan. Misalnya disebutkan Poch, pergi dari Jerman ke Roma, melalui Salzburg, Graz, dan Tapelwates di Austria, lalu ke Beograd dan Sarajevo di Yugoslavia.

Bagi Nino, hal ini cukup ganjil selain harus memutar jauh. Tetapi saat itu Yugoslavia yang merupakan negara komunis bukanlah wilayah bersahabat bagi pelarian Jerman.

"Pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa "Kisah Hitler Mati di Indonesia" hanya isapan jempol belaka, yang didasari oleh dugaan-dugaan belaka" jelas Nino.

"Akan lebih menyakinkan apabila ada kecurigaan bahwa bisa jadi Poch adalah salah satu pelarian Nazi yang dicari-cari. Namun, tentu saja itu sebuah kisah lain yang juga masih perlu ditelusuri kebenarannya," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini