Gunung Gede Pangrango, Tempat Sakral bagi Masyarakat Sunda dalam Catatan Bujangga Manik

Gunung Gede Pangrango, Tempat Sakral bagi Masyarakat Sunda dalam Catatan Bujangga Manik
info gambar utama

Bagi para pecinta alam, tentunya sudah tak asing lagi ketika mendengar salah satu gunung yang ada di Provinsi Jawa Barat ini yaitu Gunung Gede Pangrango. Gunung ini berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.

Sebenarnya Gunung Gede dan Gunung Pangrango merupakan dua gunung yang berbeda yang di mana puncak Gede memiliki ketinggiannya sekitar 2.958 mdpl dan Puncak Pangrango dengan ketinggian 3.019 mdpl dan terhubung melalui perantara Kandang Badak di ketinggian 2.393 mdpl.

Tempat ini memiliki kondisi alam yang cukup unik dan karakter tersendiri maka tak heran jika kawasan Gunung Gede Pangrango sering dijadikan sebagai tempat penelitian oleh para peneliti.

Eksistensi Gunung Gede Pangrango sudah muncul jauh sebelum catatan-catatan Kolonial Belanda. Gunung ini terdapat dalam catatan perjalanan Bujangga Manik pada abad ke-15.

Dalam naskah tersebut, pengelana Hindu asal Pakuan Padjadjaran ini mengisahkan masyarakat Sunda Kuno menganggap Gede Pangrango sebagai tempat suci nan sakral. Alhasil, penduduk sekitar Pakuan mengenal Gede Pangrango sebagai Bukit Agueng, yang berarti "Bukit Besar."

"Panjang tanjakan yang kulalui, kutempuh dengan tekun. Setiba aku di Puncak, aku duduk di atas batu datar (rata) sambil mengipasi tubuh. Lalu aku memandang ke arah gunung, itulah Bukit Ageung, titik tertinggi di Pakuan," catatnya.

Bujangga Manik memang sejatinya melakukan perjalanan ziarah, dia mengelilingi Pulau Jawa hingga Bali. Walau begitu, dirinya tampak seperti pelancong modern yang begitu menikmati perjalanan dan bersantai di beberapa tempat.

Berkat Green Wall Taman Nasional Yang Mulanya Terdegradasi Kini Menjadi Hijau

Pada naskah Bujangga Manik, ditemukan banyak tempat-tempat yang dianggap suci. Dirinya pun menyebut Gunung Gede sebagai salah satu kabuyutan --tempat suci-- dari Kerajaan Pakuan Padjadjaran (Abad 15-16) yang sekarang jadi Bogor.

"Setiba di Bukit Ageung, itulah hulu Ciliwung, kabuyutan (tempat suci) dari Pakuan, (yaitu) sanghiang Talaga Warna".

Bukit Ageung atau Bukit Besar menurutnya terdapat di daerah Puncak, dan dirinya juga menyebut Ciliwung dan Talaga Warna. Dari catatan diidentifikasi tempat suci itu sekarang bernama Gunung Gede atau Gunung Pangrango.

Bagi sebagian masyarakat yang sekarang berdiam di sekitar kedua gunung itu, memang kadang-kadang juga menyebutnya Gunung Agung atau Gunung Ageung.

"....Menarik untuk diperhatikan pula adalah frasa Sanghiang Talaga Warna yang sesungguhnya dapat merujuk kepada bangunan suci yang terletak di Telaga Warna. Seperti diketahui bahwa kata sanghyang berasal dari kata sang +hyang dan lazim digunakan sebagai kata sandang dari hal-hal yang bersifat sakral atau suci,” tulis Dani Sunjaya dalam Jurnal Purbawidya berjudul Gunung Sebagai Lokasi Situs-Situs Keagamaan dan Skriptoria Masa Sunda Kuno (2019).

Gunung Gede sebagai laboratorium

Pada masa penjajahan Belanda wilayah yang subur ini kemudian tumbuh menjadi area pertanian, terutama perkebunan. Dari tahun 1728 teh Jepang telah mulai ditanam, dan pada 1835 perkebunan teh ini telah dikembangkan di Ciawi dan Cikopo.

Menyusul pada 1878 dikembangkan teh Assam, yang terlebih sukses lagi, sehingga mengubah lanskap dan perekonomian di seputar lereng Gede-Pangrango. Kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu tempat favorit dan tertua, bagi penelitian-penelitian tentang alam di Indonesia.

Sejarah mencatat beberapa minggu sebelum Gunung Tambora menggelegar dahsyat pada April 1815, Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur yang bertakhta di Jawa pada periode 1811-1816 telah berjejak di puncak Gunung Gede. Dia bersama para koleganya, tengah meneliti tanaman medis di Hindia-Belanda.

Saat berada di puncak, Raffles mendata dinamika suhu dan langsung mengukur ketinggiannya. Amatan Raffles lalu diabadikan oleh jandanya, Lady Sophia Raffles (Sophia Hull). Sophia menulis kembali amatan Raffles yang berasal dari surat bertanggal 7 Maret 1815.

Raffles kala itu mengirim surat kepada koleganya naturalis Amerika, Dr. Thomas Horsfield (1773-1859). Lewat surat itu pula Raffles berseloroh bahwa dirinya adalah orang Eropa pertama yang menjejakkan kaki di puncak Gunung Gede.

“Kami memiliki pandangan paling luas di puncak: jalan-jalan Batavia. dan kami dapat melihat pesisir paling selatan Sumatra, ombak di pantai selatan terlihat dengan mata telanjang, ke timur kami dapat melihat Indramayu dan Bukit Cirebon yang menjulang paling tinggi di sana,” tulis Raffles dikutip oleh Lady Sophia dalam buku Memoir of the Life and Public Servicers of Sir Thomas Stamford Raffles (1830).

Tidak Banyak Yang Tahu, Ternyata Taman Nasional Ini Berperan Penting Untuk Jakarta

Caspar Georg Karl Reinwardt (1773-1854), seorang asal Lüttringshausen, Jerman yang berhasil membangun kebun botani 's Lands Plantentuin te Buitenzorg alias Kebun Raya Bogor (1817) pernah juga menjadi saksi keindahan alam Gunung Gede.

Pada 1819, Reinwardt mendaki Gunung Gede dan berhasil menjajaki puncaknya. Di dalam surat korespondensinya kepada M. van Marum di Haarlem, Belanda 18 Juni 1819, Reinwardt menuliskan telah mendaki “Gedeh” yang tingginya hampir 3.000 meter. Dia menyaksikan puncak dengan kawahnya sangat lebar dibandingkan kawah gunung yang pernah dia jajaki sebelumnya.

Melalui sehelai surat untuk Buitenzorg (sekarang Bogor) awal Agustus 1821, Kuhl dan van Hasselt menyebutkan mereka baru menyelesaikan pendakian dan penelitian ke Puncak Pangrango. Kedua peneliti itu menemukan banyak jejak dan jalur lintasan badak Jawa.

Maret 1839, Franz Wilhelm Junghuhn, mendaki ke Puncak Pangrango dan Gede untuk mempelajari topografi, geologi, meteorologi, serta botani tetumbuhan di daerah ini. Sejak itu, tak lagi terhitung peneliti mengunjungi lokasi ini.

Setelah beberapa nama kesohor, Alfred Russel Wallace seorang naturalis asal Inggris juga melalukan pendakian ke Gede Pangrango pada 18 Juli - 31 Oktober 1861. Saat mendaki untuk meneliti flora dan fauna, Wallace menyadari pendakiannya kali ini adalah kejadian yang paling menarik selama di Pulau Jawa.

Puncak Pangrango, katanya, merupakan dataran yang bergelombang dan dibatasi tebing-tebing rendah dengan sebuah jurang yang dalam. Akan tetapi, selama berada di gunung, Wallace tak dapat melihat dengan jelas pemandangan dari puncak gunung.

Penyebabnya, antara lain cuaca yang sedang berkabut dan hujan. Walaupun demikian, Wallace sangat menikmati keberadaannya di tempat itu. Lantaran pendakiannya mampu memetakan banyak jenis tumbuhan dan hewan di Gede Pangrango.

“Walaupun demikian, saya sangat menikmati keberadaan saya di sana, karena untuk pertama kalinya berada di tempat yang cukup tinggi di sebuah gunung yang terletak di dekat garis khatulistiwa. Saya mengamati peralihan flora dari daerah panas ke daerah beriklim sedang, kemudian membuat catatan singkat mengenai perubahan tersebut berdasarkan penelitian saya di Jawa,” cerita Alfred Russel Wallace dalam mahakaryanya Kepulauan Nusantara (2009).

Pelestarian ekosistem Gunung Gede

Banyaknya peneliti yang berkunjung ke tempat ini tak bisa dilepaskan dari kekayaan dan keindahan alam di Gunung Gede-Pangrango, dan awalnya juga oleh keberadaan Kebun Raya Cibodas; yang dimaksudkan sebagai kebun aklimatisasi bagi tanaman-tanaman yang potensial untuk dikembangkan dalam perkebunan.

Pada tahun 1889, atas usulan Melchior Treub seorang ahli botani, sebidang hutan pegunungan seluas 240 hektare di atas kebun raya tersebut hingga ke wilayah sekitar air panas ditetapkan sebagai cagar alam oleh Pemerintah Hindia Belanda. Inilah cagar alam dan kawasan konservasi ragam hayati yang pertama didirikan di Indonesia.

Belakangan, pada 1926, cagar alam ini diperluas hingga mencakup puncak-puncak gunung Gede dan Pangrango, dengan luas total 1.200 hektare. Pada tahun 1978 Pemerintah Indonesia menetapkan Cagar Alam (CA) Gunung Gede Pangrango seluas 14.000 hektare, melingkup kedua puncak gunung beserta tutupan hutan di lereng-lerengnya.

Kemudian pada 6 Maret 1980 cagar alam ini digabungkan dengan beberapa suaka alam yang berdekatan dan ditingkatkan statusnya menjadi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), satu dari lima taman nasional yang pertama di Indonesia, dengan luas keseluruhan 15.196 hektare.

Tercatat ada lebih dari 1.000 spesies flora yang tumbuh di kawasan taman nasional ini. Beberapa diantaranya adalah edelweis (Anaphalis javanica), rotan buluh (Calamus sp.), kondang (Vicus variegata), saninten (Castanopsis argentea), rasamala (Altingia excelsa), anggrek (Dendrobium hasseltii), kantong semar (Nepenthes gymnamphora), dan puspa (Schima wallichii).

Flora jenis endemik Pulau Jawa yang hidup di sini selain edelweis dan anggrek adalah lumut merah (Sphagnum gedeanum), Amomum pseudofoetens, Diacorea platycarpa, dan Dioscorea blumei.

Sampah di Gunung Gede Pangrango dan Dampaknya Pada Upaya Pelestarian Kawasan Konservasi

Terdapat 250 jenis burung yang hidup di TNGGP, seperti elang ular (Spilornis cheela), punai salung (Terron oxyura), burung hantu (Strix seloputo), dan dua jenis endemik yaitu elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan tesia (Tesia superciliaris).

TNGGP menjadi habitat berbagai jenis mamalia yang totalnya lebih dari 100 spesies, seperti owa jawa (Hylobates moloch), kukang jawa (Nycticebus javanicus), landak jawa (Hystrix javanica), dan jenis endemik yaitu trenggiling (Manis javanica).

Adapun jenis amfibi dan reptila antara lain katak terbang (Rhacophorus reinwardti), katak bertanduk (Megophys montana), katak jawa (Rhacophorus javanus), kodok gunung (Leptophryne cruentata), dan ular hijau (Trimeresurus puniceus).

Selain itu, beragam invertebrata dan serangga juga hidup di TN Gunung Gede Pangrango, yaitu (Metaphire longa) Cacing Sonari, (Vespa velutina) Tawon, (Episcapha glabra) Kumbang, (Bombus rufipes) Lebah, (Papillio paris) Kupu-Kupu.

Melakukan upaya konservasi untuk menjaga habitat TNGGP yang begitu banyak tidaklah mudah. Hal tersebut menimbulkan sejumlah kendala seperti jumlah personel hingga anggaran.

Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong mengungkapkan jika pengelolaan potensi yang dilakukan bisa tepat sasaran, banyaknya taman nasional di Indonesia bisa menjadi salah satu andalan pariwisata yang menjanjikan.

Dia mencontohkan di TNGGP salah satunya. Jumlah pengunjungnya terhitung besar, terlebih kawasan tersebut menarik wisatawan dari berbagai kota besar yang ada di sekitarnya seperti Jakarta, Bogor dan Bandung.

Di tahun 2019 misalnya, TNGGP bisa menghasilkan hingga Rp9,2 miliar sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP), kendati jumlahnya saat ini menurun menjadi Rp5,1 miliar di tahun 2020 akibat pembatasan pengunjung pada masa pandemi Corona.

"Tugas kita adalah mempromosikan itu ke depan menjadi destinasi unggulan juga," katanya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini