Merayakan 35 Tahun KA Babaranjang, Kisah Kereta Api Terpanjang di Indonesia

Merayakan 35 Tahun KA Babaranjang, Kisah Kereta Api Terpanjang di Indonesia
info gambar utama

Pada Februari 2021, PT Kereta Api Indonesia (KAI) sempat menghadirkan livery lokomotif 1953-1991 pada satu unit lokomotif CC 201. Bagi penggemar kereta api (KA) atau railfans, tentunya melihat livery kuno pada masa kini merupakan suatu hal yang menyenangkan karena memutar balik memori.

Jika pada saat itu kamu belum sempat melihatnya, kamu tidak perlu khawatir. Karena PT KAI kembali menghadirkan livery lokomotif era 1953-1991 pada tiga unit lokomotif seri CC 202 dan 1 unit lokomotif seri CC 201.

Peluncuran lokomotif seri CC 202 dengan livery kuno tersebut merupakan perayaan 35 tahun operasional KA Batu Bara Rangkaian Panjang (Babaranjang) yang jatuh pada 1 Oktober 2021.

“Penerapan livery vintage pada tiga unit tersebut dikarenakan untuk menarik rangkaian KA Babaranjang sebanyak 60 gerbong, diperlukan tiga unit lokomotif seri CC 202,” jelas Direktur Operasi KAI Heru Kuswanto di Stasiun Tanjung Karang, Bandar Lampung, yang dikabarkan dari Kompas, Jumat (15/10/2021).

Heru merinci, livery vintage tersebut diaplikasikan pada Lokomotif seri CC 202 08 07, CC 202 86 09, CC 202 90 02, yang pengecatannya sendiri dilakukan di UPT Balai Yasa Lahat, Sumatra Selatan (Sumsel). Sementara untuk unit CC 201 83 31 milik Dipo Semarang Poncol, pengecatannya dilakukan di bengkel lokomotif milik KAI Balai Yasa Yogyakarta.

Lebih lanjut dirinya menyebut, Lokomotif seri CC 202 memiliki berat 108 ton dan daya motor diesel 2.250 hp. Lokomotif ini juga mampu melaju dengan kecepatan 80km/jam. Sedangkan Lokomotif CC 201 memiliki berat 84 ton dan daya mesin 1950 hp yang mampu melaju dengan kecepatan 120km/jam.

Kisah Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia dan Misteri Hilangnya Penari Ronggeng

"Hadirnya livery vintage pada KA Babaranjang ini merupakan hasil kolaborasi antara KAI dengan komunitas pecinta kereta api yaitu Indonesian Railway Preservation Society dan Organisasi Pecinta Kereta Api Sumatra Selatan," sebutnya.

Heru berharap, digunakannya livery vintage pada KA Babaranjang ini dapat mengingatkan seluruh insan KAI dan juga masyarakat akan kenangan masa lalu dan menginspirasi untuk terus melanjutkan kejayaan KAI pada masa yang akan datang.

Jalan panjang KA Babaranjang

KA Babaranjang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah PT KAI. Pada 1 Oktober 1986, KA Babaranjang mulai mengangkut batu bara dengan jarak 409 kilometer (km) dari Stasiun Tanjung Enim Baru, Sumsel menuju Stasiun Tarahan, Lampung.

Kehadiran Babaranjang diawali dengan dibentuknya Kelompok Proyek Pengembangan Pengangkutan Batubara dengan Kereta Api (KP3BAKA) pada 1981.

Proyek dengan ketua Ir. Sandjojo ini ditugasi untuk membangun stasiun baru di Tanjungenim dan Tarahan, upgrade jalan rel dan jembatan agar memiliki tekanan gandar 18 ton, pembangunan emplasemen panjang di beberapa stasiun, serta pembangunan shortcut di Prabumulih.

"Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) menginvestasikan dana sebesar 220 juta dolar AS dari pinjaman luar negeri, dengan proyeksi pendapatan mencapai Rp1 miliar per tahun, dan proyeksi pengembalian pinjaman selama 10-15 tahun," tulis Faishal Ammar, seorang pecinta kereta api dalam artikel berjudul Jalan panjang Babaranjang.

Faishal melanjutkan pembangunan jalur baru dilakukan antara Panjang-Tarahan sepanjang 9,5 km, shortcut sepanjang 15 km di Prabumulih, pembangunan jalur Muaraenim-Tanjungenim Baru sepanjang 5 km, serta pembangunan jembatan baru di Sungai Enim sepanjang 180 meter. Selain itu, dilakukan upgrade jalan rel antara Panjang-Negeriagung sepanjang 178 km.

Mengenal Gunung yang Menjadi Inspirasi Nama Kereta

Upgrade dilakukan dengan cara perkuatan ban dan penggantian rel serta penggunaan bantalan beton. Pada lintas Negeriagung-Tanjungenim, batang rel lama masih dipakai karena masih dapat digunakan.

Di lintasan ini, bantalan kayu juga masih digunakan, namun daya dukung lintasnya sudah mencukupi untuk tekanan gandar 18 ton. Untuk keperluan pemenuhan kebutuhan bantalan beton, pabrik bantalan beton didirikan di Rejosari, Lampung.

"Proyek KP3BAKA memerlukan 300.000 batang bantalan beton, dengan biaya per batang mencapai Rp55 ribu per kilometer lintasan memerlukan 1660 batang bantalan," paparnya.

Penguatan jembatan dilakukan di 57 jembatan baja dan 47 jembatan beton. Selain itu, PJKA juga membeli peralatan persinyalan mekanik baru untuk 41 stasiun lama dan 5 stasiun baru.

Kebutuhan dana untuk proyek ini diperkirakan sebesar 275,4 juta dolar AS yang terdiri dari biaya rupiah sebesar Rp128 miliar dan valuta asing sebesar 142,9 juta dolar AS.

Untuk keperluan pemuatan batubara, di Tanjungenim Baru dibangun Train Loading System (TLS) yang langsung menumpahkan batubara ke gerbong. Sementara untuk keperluan bongkar, dibangun Rotary Car Dumper/RCD di Tarahan.

"RCD bekerja dengan membalik gerbong bermuatan batubara, langsung menumpahkan seluruh isinya," jelasnya.

Dari sisi sarana, katanya, dilakukan pembelian 259 gerbong terbuka berkapasitas 50 ton yang diimpor dari Kanada secara CKD, untuk kemudian dirakit di PT INKA. Untuk lokomotif, PJKA mendapatkan kredit dari Kanada sebesar Rp77,4 miliar yang digunakan untuk pengadaan 30 unit lokomotif CC202 beserta suku cadangnya.

15 unit CC 202 tiba di Indonesia pada 1986, sementara 15 sisanya tiba di Panjang pada hari Rabu, 31 Januari 1990. Kedatangan 15 unit CC 202 pada 31 Januari 1990 ini disaksikan oleh Menteri Perhubungan Azwar Anas. Pengadaan CC 202 sendiri sedikit berbeda dengan perencanaan awalnya.

Awalnya, direncanakan akan dibeli 33 unit lok, dengan 15 unit diimpor utuh sementara 18 sisanya diimpor secara CKD dan dirakit di Balai Yasa Lahat. Namun, realisasinya yang dibeli adalah 30 unit lok yang diimpor secara utuh.

"Pengadaan CC 202 dilanjutkan di kemudian hari, dengan 3 unit didatangkan pada 1995, 4 unit pada 2001, 2 unit pada 2002, dan 9 unit pada 2008. Selain itu, PJKA juga memodifikasi beberapa gerbong barang menjadi gerbong kabus untuk ditempatkan di ujung rangkaian KA Babaranjang," bebernya.

Uji coba operasional Babaranjang mulai dilakukan pada Kamis, 9 Januari 1986. Karena lokomotif CC 202 belum tersedia, digunakan 3 unit lokomotif BB 203 atau CC 201. KA yang ditarik memiliki formasi 40 gerbong terbuka seri KKBW berkapasitas 50 ton ditambah 1 gerbong kabus/tata usaha.

Uji coba ini berakhir pada 1 Oktober 1986, saat Babaranjang dioperasikan secara penuh. Namun awalnya, Babaranjang hanya membawa 1200 ton batubara pada 40 gerbong, atau hanya 30 ton per gerbong.

"Hal ini dilakukan sampai CC 202 beroperasi secara penuh, sehingga kapasitas angkut meningkat menjadi sekitar 2.400 ton per rangkaian," ucapnya.

Seiring dengan peningkatan kapasitas angkut, pengadaan lokomotif dan gerbong baru terus dilakukan. Pada 2011, PT KAI mendatangkan 6 unit lokomotif CC 205 dari Kanada.

Disusul 44 unit pada 2013, 5 unit pada 2014, dan 36 unit pada 2021. Saat masih berjumlah 6 unit, 1 CC 205 dijalankan untuk menarik rangkaian sepanjang 45 gerbong.

Namun, seiring dengan bertambahnya jumlah CC205, maka rangkaian Babaranjang ditambah, dari yang tadinya hanya 40 atau 45 gerbong menjadi 60 gerbong. Sebelumnya, hanya beberapa rangkaian Babaranjang sudah berjalan dengan formasi 60 gerbong.

"Saat ini, seluruh rangkaian Babaranjang terdiri dari 60 gerbong. Rangkaian 60 gerbong ini ditarik 3 unit CC 202 atau 2 unit CC 205," jelasnya

Gerbong terbuka untuk Babaranjang sendiri terhitung spesial. salah satu coupler fleksibel, dapat berputar 360 derajat. Letak coupler fleksibel ini ditandai dengan adanya garis kuning pada gerbong.

"Selama 35 Tahun, Babaranjang menjadi KA terpanjang dan terberat di Indonesia. Munculnya banyak KA Batubara menuju arah Kertapati masih belum mampu merebut titel tadi dari Babaranjang," pungkasnya.

Angkutan batu bara penyelamat KAI

Pada periode Juli 2020, PT KAI menyatakan pelayanan bongkar harian angkutan batu bara relasi Tanjung Enim Baru-Tarahan, mengalami peningkatan rata-rata rangkaian kereta menjadi 19-20 rangkaian kereta batu bara.

"...Rata-rata rangkaian kereta, yang mengangkut barang yang pada awal pandemi hanya 16 rangkaian kini melayani 19-20 rangkaian kereta batu bara setiap harinya selama periode Juni sampai Juli 2020,” kata , Staf Ahli Menteri Bidang Logistik, Multimoda dan Keselamatan Perhubungan sekaligus Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero) Cris Kuntadi dikutip dari Liputan6.

Cris berharap hal yang sama untuk di Tarahan. Gerbong kosong yang tidak memuat balik muatan yang melintas dari Tarahan ke Palembang seharusnya dapat berisi muatan.

"Ke depan kami berharap pengangkutan muatan dapat dimaksimalkan karena pengangkutan maksimal 19-20 rangkaian kereta yang membawa 59-60 gerbong kereta melintas setiap hari. Jadi sekitar 1200 gerbong yang bermuatan 52 ton belum dimanfaatkan. Jika hal ini dimanfaatkan maka nilai tambah yang ditimbulkan akan sangat luar biasa,” jelasnya.

Memang pengangkutan batu bara di Sumatra menjadi tulang punggung bisnis PT KAI. Di tengah pandemi Covid-19 yang memukul pendapatan angkutan penumpang, BUMN itu memilih agresif menggarap angkutan barang.

Asal Mula Stasiun Duri, Stasiun Dekat Kali Anyar

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ada sebanyak 35,09 juta orang yang menumpang kereta pada Juni 2019. Angka itu lantas turun tajam menjadi hanya 9,29 juta penumpang pada periode yang sama tahun 2020. Dan kini, per Juni 2021 jumlah penumpang kereta tercatat sebanyak 14,56 juta.

Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo mengatakan minimnya pergerakan masyarakat itu telah berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan di sektor angkutan penumpang.

Saat normal, pendapatan angkutan penumpang rata-rata Rp23-24 miliar per hari. “Sekarang dapat Rp5 miliar saja sudah bagus,” katanya yang dinukil dari Bisnis.

Di tengah kesulitan itu, KAI mencatat angkutan barang tetap berada dalam kondisi stabil. Bahkan, kata dia, kenaikan angkutan barang pada tahun ini bisa menjadi kompensasi dari penurunan angkutan penumpang.

“Kereta api tidak tinggal diam. Kami terus berupaya agar angkutan barang bisa menjadi penyelamat pada masa pandemi ini,” katanya.

Upaya menjaga roda bisnis agar tetap berputar terus dilakukan perseroan. Salah satunya lewat strategi perbaikan operasional untuk angkutan batu bara.

“Karena memang mayoritas barang yang kami angkut itu adalah batu bara. Jadi kami berupaya agar kinerja angkutan batu bara bisa terjaga,” katanya.

Hingga Semester I/2021, perusahaan telah mengangkut 23,3 juta ton barang dari berbagai komoditas, di mana hampir 80 persen dari volume barang yang diangkut tersebut merupakan batu bara. Sisanya bervariasi, seperti semen, peti kemas dan BBM.

Selain itu, kereta api batu bara juga mendukung ketahanan energi nasional lantaran batu bara yang diangkut KA Babaranjang juga digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik untuk Pulau Jawa, Madura, dan Bali.

"Melalui KA Babaranjang, KAI ikut serta berperan memperlancar distribusi logistik nasional melalui angkutan massal yang ramah lingkungan serta mendukung ketahanan energi nasional di mana batu bara tersebut juga digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik untuk Pulau Jawa, Madura, dan Bali," pungkas Heru.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini