Edi Idul dan Mangrove di Kurri Caddi Maros

Edi Idul dan Mangrove di Kurri Caddi Maros
info gambar utama

Edi Idul atau biasa disapa Idul berjalan tergopoh-gopoh menerobos rimbunan semak belukar setinggi sekitar 2 meter. Tak sabar ia menunjukkan lokasi rehabilitasi mangrove yang dilakukan beberapa tahun silam.

Akses yang sulit membuat kami hanya bisa melihat bagian terluar lokasi itu, sebuah aliran sungai kecil yang di sekelilingnya ditumbuhi mangrove dan semak belukar yang lebat.

“Lokasinya mulai dari sini sampai bagian di dalam sana. Kalau mau ke sana bisa saya antar cuma agak sulit,” katanya, Rabu (20/10/2021).

Tanpa pakaian dan perlengkapan yang memadai saya hanya bisa sampai di lokasi tersebut, namun cukup bagus menunjukkan kondisi lokasi itu yang sangat rimbun.

Tempat yang ingin ditunjukkan Idul adalah tambak yang telah direhabilitasi. Lokasinya berada di Dusun Kurri Caddi, Desa Nisombala, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kawasan seluas 23,3 hektare ini dikelola oleh Universitas Muhammadiyah, di mana sebelumnya diinisiasi sebagai situs belajar pengelolaan mangrove dan tambak ramah lingkungan.

Kawasan mangrove di Kurri Caddi, Maros lewat Google Earth
info gambar

Inisiatif pembangunan situs belajar itu muncul dalam sebuah pertemuan berbagai pihak pada Februari 2012 silam, yang ditindaklanjuti dengan penandatanganan kesepahaman pada 3 Juli 2013 di Hotel Grand Town Makassar.

Pada tahun 2014 melalui program Restoring Coastal Livelihood (RCL) Oxfam difasilitasi oleh Blue Forests yang dulunya bernama Mangrove Action Project (MAP), lokasi itu dirombak menggunakan excavator. Sungai-sungai kecil dibuat di sekitar tambak tempat bibit mangrove ditebar agar tumbuh secara alami, bukan ditanam seperti yang umum dilakukan selama ini.

Metode rehabilitasi ini disebut Ecologial Mangrove Rehabilitation (EMR). Melalui metode ini lahan tambak ditata ulang seperti sebelum dikonversi menjadi tambak. Bagian yang lebih dalam ditimbun dengan tanah bekas pematang. Prinsipnya bagaimana mengembalikan kondisi kawasan ini seperti sedia kala.

Idul sendiri merupakan mitra Blue Forests yang sebelumnya diikutkan dalam Sekolah Lapang Mangrove yang juga dilaksanakan program RCL Oxfam. Dari Sekolah Lapang ini Idul tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang mangrove tetapi juga memberinya pencerahan dan rasa tanggung jawab pentingnya menjaga mangrove.

Ia pun didaulat menjadi ketua kelompok penjaga mangrove. Seiring waktu, meski program telah selesai, Idul tetap mengontrol pertumbuhan mangrove hingga saat ini.

Sehari-harinya Idul adalah nelayan ikan dan rajungan. Untungnya ketika berkunjung ke lokasi tersebut dia tak sedang melaut. Menurut Idul, di awal, pembangunan situs ini tidak direstui seluruh masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang pesimis bahkan menentang, meski tidak secara terbuka.

“Dulunya masyarakat tidak tahu kalau mangrove itu punya banyak fungsi, sehingga bebas saja ditebang kalau dibutuhkan. Biasa digunakan untuk bangun rumah, tiang atau bahan bakar. Tapi kami sosialisasi terus menerus akan fungsi lain mangrove untuk menahan laju abrasi,” katanya.

Hal lain, terkait pembongkaran tambak juga menjadi masalah tersendiri. Di awal-awal, bahkan sampai 4 tahun setelah rehabilitasi dilakukan, masalah kerap muncul. Salah satunya ketika terjadi banjir besar yang menenggelamkan banyak tambak. Banyak warga yang protes dan menuding rehabilitasi dengan alat berat itu sebagai penyebab terjadinya banjir tersebut.

“Puncaknya ketika banjir besar tahun 2017, mereka menuding rehabilitasi itu penyebab banjir, karena saat itu mangrove belum tinggi. Memang agak lambat pertumbuhan.”

Dua tahun selanjutnya, 2018-2019, kawasan itu masih tergenang ketika hujan lebat, protes warga juga masih ditujukan ke program ini. Pada tahun 2020, kondisi berubah seiring dengan semakin lebatnya mangrove yang tumbuh. Banjir tidak lagi terjadi, malah kondisi lokasi tersebut semakin membaik, tambak aman dari serbuan banjir.

“Setelah kondisi membaik malah banyak warga yang dulu menentang menjadi sadar pentingnya menjaga mangrove. Apalagi ada penghasilan tambahan dari hasil tangkap rajungan dan ikan di sekitar kawasan mangrove tersebut.”

Setelah mangrove semakin lebat, di kawasan itu memang mulai banyak muncul kepiting rajungan dan ikan yang memberi tambahan penghasilan ekonomi bagi warga. Tidak hanya untuk nelayan, tapi untuk anak-anak mereka usia 6-10 tahun.

“Mereka bersyukur karena tidak lagi harus membiayai anak-anak mereka sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Harga kepiting rajungan saat ini lumayan, bisa bantu ekonomi keluarga juga.”

Setelah sukses dengan program mangrove tersebut, pemerintah desa setempat memberi dukungan dengan membangun tracking mangrove yang sekaligus tambatan perahu di pantai Kurri Caddi. Di sekitar pantai juga dibangun beberapa gazebo untuk warga sekitar untuk berwisata.

“Baru tahun ini Kurri Caddi menjadi tempat wisata. Banyak yang datang dari kota, bahkan ada yang camping nginap-nginap. Mereka juga bisa pesan kepiting dan ikan di warga sekitar.”

Ketika berkunjung di lokasi tersebut memang terlihat banyak pengunjung berkendaraan motor dan mobil. Lokasi menuju pantai Kurri Caddi sekitar 3 Km dari jalan poros sekitar jalan Tol Makassar. Kondisi jalan yang buruk menjadi tantangan tersendiri menuju lokasi tersebut, apalagi di musim hujan.

Belum lagi kondisi jembatan yang mulai rapuh dan tak aman. Ada sekitar 6 jembatan yang harus dilewati dengan hati-hati.

Meskipun kini telah mendapat apresiasi warga, Idul tak merasa besar kepala, bahkan ketika pujian itu datang dari orang-orang yang dulu mengkritiknya. Ia merasa puas apa yang diperjuangkan selama ini mendapat apresiasi yang besar.

Di waktu-waktu tertentu ia sengaja datang ke sekitar tambak yang telah direhabilitasi itu untuk sekadar bersantai setelah melaut atau tak sedang melaut. Kontrol juga biasa dilakukan 2-3 kali dalam sebulan.

“Kadang hanya datang untuk sekadar bersantai-santai dan minum kopi untuk menikmati hasil yang telah ada selama ini. Ada kepuasan sendiri ketika apa yang diperjuangkan berhasil.”

Menurut Rio Ahmad, Direktur Blue Forests, kawasan Kurri Caddi akan dikembangkan sebagai kawasan edu wisata, selain sebagai tempat wisata juga untuk situs belajar tentang mangrove.

“Ada sekitar 15 jenis mangrove yang ada di lokasi ini, sebagian diambil dari lokasi setempat, sebagian lagi dari luar namun diketahui pernah tumbuh di daerah ini. setelah kita tanam ternyata memang bisa tumbuh dengan baik.”

Sebagai situs mangrove, Kurri Caddi adalah lokasi terbesar di Indonesia yang direhabilitasi dengan menggunakan metode EMR. Selain rehabilitasi mangrove, kawasan ini juga akan menjadi pilot project pengembangan tambak yang ramah lingkungan.

Ditulis oleh Wahyu Chandra - Makassar

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini