Rifai Sahib dan Kyoko Soda, Dua Sosok yang Bawa Silat Cimande Besar di Mancanegara

Rifai Sahib dan Kyoko Soda, Dua Sosok yang Bawa Silat Cimande Besar di Mancanegara
info gambar utama

Semakin diperhitungkan keberadaanya di mata dunia, pencak silat merupakan salah satu kebanggaan yang membuat bangsa ini dapat membuktikan bahwa Indonesia juga memiliki seni bela diri yang tak kalah memukau layaknya seni bela diri yang berasal dari negara lain seperti karate, taekwondo, dan sejenisnya.

Bersamaan dengan kekayaan budaya yang dimiliki penduduknya, ternyata pencak silat memiliki ragam aliran berbeda yang ada di tiap daerah dan membuat keunikan seni bela diri satu ini semakin kaya.

Dari sekian banyak aliran pencak silat yang ada di Indonesia, terdapat satu aliran yang hingga saat ini disebut sebagai aliran tertua dan sudah berhasil melahirkan berbagai perguruan pencak silat baik di dalam maupun luar negeri, yaitu Silat Cimande.

Sesuai namanya, aliran pencak silat satu ini berasal dari Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang diyakini sudah ada sejak abad ke-17.

Bukan membahas mengenai asal muasal kelahirannya yang saat ini sendiri masih memiliki tiga versi cerita berbeda, kisah yang belakangan menarik perhatian adalah mengenai bagaimana aliran pencak silat satu ini bisa dikenal dengan sebegitu luasnya di sejumlah negara.

Adalah Rifai Sahib dan Kyoko Soda, dua sosok yang dikenal memiliki peran besar dalam membawa aliran Silat Cimande dapat dikenal dan dipelajari oleh mereka yang memiliki ketertarikan seni bela diri di berbagai negara.

Seperti apa kedua sosok yang saling memiliki hubungan erat tersebut?

Pencak Silat, Tradisi Bela Diri Nusantara yang Mendunia

Rifai Sahib, master pencipta standar kompetensi silat internasional

Rifai Sahib
info gambar

Memiliki nama lengkap Mohamed Rifai Sahib, sosok yang telah wafat pada tahun 2014 lalu ini dikenal sebagai pegiat pencak silat yang paling berpengaruh di Indonesia. Menyandang gelar sebagai salah satu master paling senior di Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), meski sosok tersebut lahir di Jakarta namun tidak membuat dirinya hanya menguasai satu aliran Silat Betawi.

Tekadnya untuk memahami lebih jauh mengenai aliran pencak silat dari wilayah lain mempertemukannya dengan aliran Silat Cimande yang juga menuntunnya menjadi master legendaris dalam perguruan pencak silat Karuhun, yang menyatukan dan menciptakan komponen gerakan pencak silat khas Jawa Barat.

Kontributornya di dunia persilatan tanah air dianggap sangat berpengaruh, karena didasari atas peran besarnya dalam membuat koreografi gerakan-gerakan silat khas Jawa Barat terutama dari segi artistik, dan mengembangkannya menjadi seni bela diri modern yang kian dikenal di mancanegara.

Semasa hidupnya, Rifai juga dikenal sebagai pengembang jurus tunggal dan jurus regu, yang hingga saat ini menjadi dua tolok ukur kinerja serta penilaian pada setiap gelaran kompetisi pencak silat bertaraf internasional.

Bersamaan dengan pengembangan yang terus dilakukan, ia juga dikenal giat dalam mempromosikan pencak silat dengan melakukan perjalanan dan mengajar seni bela diri tersebut ke berbagai negara di wilayah Eropa dan Timur Tengah.

Lewat berbagai upaya tersebut, Rifai juga menjadi sosok yang menentukan standar pengajaran pencak silat di berbagai federasi pencak silat nasional sejumlah negara termasuk di Inggris.

Berkat peran besarnya, kontribusi yang dilakukan oleh Rifai bahkan membuat federasi pencak silat Eropa atau European Pencak Silat Federation (EPSF), mengenangnya sebagai tokoh yang memiliki energi luar biasa tinggi, dan dipandang sebagai guru serta duta bagi keberadaan pencak silat di Eropa.

Di saat yang bersamaan, perjalanan Rifai memperkenalkan pencak silat ke berbagai negara mempertemukan ia dengan seorang perempuan asal Jepang yang kemudian menjadi muridnya dan tak kalah berperan besar dalam mengenalkan pencak silat asal Indonesia di negaranya sendiri.

Pasca Asian Games 2018, Demam Silat Landa Inggris Raya

Kyoko Soda, pendekar silat Jepang andalan Rifai Sahib

Kyoko Soda
info gambar

Kyoko Soda, perempuan asal Jepang yang jauh sebelum mengenai Rifai diketahui memang sudah mempelajari seni bela diri pencak silat di Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo sejak tahun 1998.

Pertemuannya dengan Rifai pertama kali terjadi pada tahun 2002 dalam sebuah kejuaraan yang berlangsung di Korea Selatan. Tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan tersebut ternyata akan memberikan perubahan besar bagi dirinya dalam menguasai seni bela diri pencak silat, bahkan membuat Kyoko menjadi sosok kunci dari keberadaan pencak silat di Jepang hingga saat ini.

Perkenalan Kyoko dengan Rifai ternyata membuat perempuan tersebut secara langsung berguru dan menjadi murid Rifai terutama dalam mempelajari Silat Cimande secara langsung di Indonesia. Dirinya diketahui sering diajak belajar ke Cimande, walau lebih sering diajarkan secara langsung salah satu aliran pencak silat tersebut di Jakarta.

Hubungan yang erat antara murid dan guru nyatanya membuat Kyoko menganggap Rifai sebagai sosok yang dijadikan panutan, bahkan membuatnya menganggap Rifai sebagai sosok ‘Bapak’.

"Pak Rifai itu macam kayak papa sendiri… Saya ingat bapak sudah tua dan kondisinya nggak sehat lagi. Dia kan udah nggak bisa silat lagi, nggak bisa bergerak lagi. Tapi begitu cerita atau hadir di latihan, dia tenaganya muncul lagi," kenang Kyoko, mengutip BBC Indonesia.

Kyoko menceritakan bahwa dirinya juga masih ingat dengan jelas momen ketika ia berhasil tamat serta lulus mempelajari ilmu Silat Cimande dan mendapat rasa kagum dari gurunya tersebut.

“Beliau mengatakan baru pertama dapat murid perempuan yang belajar sampai sini," ujar Kyoko.

Di lain sisi, besarnya tekad Kyoko untuk mendalami ilmu silat khususnya Silat Cimande rupanya dipandang sebagai hal yang istimewa bagi mendiang Rifai sendiri, hal tersebut disampaikan oleh Satriat Arifia, rekan seperguruan saat masih belajar di bawah bimbingan guru besar tersebut.

Masih menurut sumber yang sama, Satriat membeberkan bahwa Rifai memandang Kyoko sebagai murid yang ia banggakan.

“Pak Rifai ini boleh saya katakan mengakui bahwa Kyoko itu sebagai murid yang sudah senior serta membanggakan, berprestasi, dan memiliki keilmuan yang memadai,” terang Satriat.

JAPSA
info gambar

Bukan hanya itu, bahkan dikatakan bahwa Rifai selama ini sering merasa sedih lantaran tidak tega dengan kesulitan yang dihadapi Kyoko sebagai seorang perempuan selama mengenalkan budaya pencak silat di negaranya seorang diri, dan harus bersaing dengan seni bela diri lain yang lebih populer.

“Pak Rifai suka memikirkan apa yang bisa kita bantu ke Kyoko, karena keberadaan Kyoko di sana itu kan buat budaya bangsa Indonesia. Ada budaya bangsa Indonesia yang dititipkan kepada Kyoko itu." tambah Satriat.

Karena hal itu pula, menurut Satriat Kyoko layak dijuluki sebagai pendekar pencak silat yang sesungguhnya.

“Menurut saya bangsa Indonesia termasuk ikatan pencak silat, semua berhutang sama dia. Sebagai bangsa Indonesia, kita wajib membantu dia semaksimal mungkin."

Sementara itu, Kyoko yang sudah mendalami ilmu pencak silat selama lebih dari 20 tahun dan saat ini diketahui menjadi ketua JAPSA (Japan Pencak Silat Association), mengaku akan terus memperkenalkan seni bela diri pencak silat di negaranya lantaran ingin meneruskan amanah dari sang guru yang ingin agar pencak silat dapat dikenal oleh lebih banyak orang dan mendunia.

"Sebagai pribadi saya rasa wajib ilmu yang saya terima dari almarhum (Rifai) harus dibagi kepada orang lain. Kurang tahu apakah itu satu orang, 10 orang atau lebih, tapi bagi pribadi sendiri, ilmu itu amanah, akan saya lanjutkan. Oleh karena itu ilmu silat yang saya terima dari almarhum harus dibagi kepada yang lain. Utamanya itu," tekad Kyoko.

"Almarhum benar-benar mencintai silat. Saya nggak mau ilmu beliau hilang, beliau ingin membagikan ilmu dan diteruskan di Jepang ke generasi muda, agar tak hilang.”

Pencak Silat untuk Pertahanan Diri Wanita di Mesir

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini