Hari Monyet Sedunia, Seperti Apa Nasib Monyet-Monyet Endemik Indonesia?

Hari Monyet Sedunia, Seperti Apa Nasib Monyet-Monyet Endemik Indonesia?
info gambar utama

Meski beberapa bulan lalu tepatnya pada tanggal 19 Agustus dunia fauna secara internasional sudah merayakan Hari Orang Utan, kali ini momen peringatan tak kalah penting terhadap hewan sejenis juga kembali dilalui, yaitu Hari Monyet Internasional.

Jika Hari Orang Utan secara spesifik didedikasikan untuk memperingati sekaligus sebagai upaya untuk menggaungkan pelestariannya, Hari Monyet Internasional awalnya dikhususkan untuk merayakan keberadaan monyet yang hingga saat ini diketahui memiliki sebanyak 264 jenis berbeda dan tersebar di seluruh belahan dunia dengan masing-masing status endemiknya, termasuk Indonesia.

Di saat yang bersamaan, seiring dengan berjalannya waktu tak menampik juga bahwa peringatan Hari Monyet Internasional oleh para aktivis lingkungan kerap dijadikan sebagai momentum untuk menyebarkan serta meningkatkan kesadaran tentang masalah yang dihadapi makhluk satu ini.

Cikal Bakal Lahirnya Hari Orang Utan Internasional yang Jatuh Setiap Tanggal 19 Agustus

Berawal dari ketidaksengajaan

Menariknya, kemunculan Hari Monyet Internasional (World Monkey Day) ternyata berawal dari sebuah ketidaksengajaan dari dua orang mahasiswa yang memprakarsai momentum ini, hanya untuk perayaan dalam bentuk peragaan dengan memakai kostum monyet dan menirukan perilaku monyet untuk mengundang perhatian banyak orang.

Melansir National Today, dua orang mahasiswa seni di Michigan State University yakni Casey Sorrow dan Erik Millikin diketahui sebagai sosok yang berperan di balik munculnya Hari Monyet Internasional yang pertama kali tergagas pada tahun 2000.

Diceritakan jika Casey dan Erik awalnya hanya berniat membuat rencana perayaan untuk mengatasi rasa lelah selama musim liburan. Mereka beserta teman-temannya kemudian memutuskan untuk membuat Hari Monyet pada tanggal 14 Desember, dan merayakannya dengan memakai kostum monyet.

Namun seiring berjalannya waktu, perayaan tersebut berkembang dengan kemunculan ide-ide baru ke dalam karya seni dan komik buatan yang kemudian disebarkan lewat platform online.

Berawal dari kegiatan seni, Hari Monyet tersebut pada akhirnya berkembang menjadi peringatan skala besar dan saat ini juga menjadi peringatan penting dalam meningkatkan kesadaran terhadap ancaman kehidupan dan populasi monyet di seluruh dunia.

Kera dan Monyet, Bedanya Apa Sih?

Ragam monyet endemik di setiap wilayah Indonesia

Meski disebutkan terdapat sebanyak 264 jenis atau spesies monyet yang tersebar di seluruh dunia, tak dimungkiri bahwa dari ke-264 spesies tersebut kebanyakan berada di status terancam punah.

Lalu bagaimana dengan keberadaannya di Indonesia? Menjadi wilayah dengan catatan spesies monyet endemik yang cukup beragam, berikut sedikit gambaran mengenai jenis monyet endemik yang dimiliki Indonesia dan statusnya saat ini.

Monyet kedih asal Sumatra Utara

Monyet Kedih
info gambar

Memiliki nama latin Presbytis thomasi, hewan satu ini memang hanya dapat ditemui di wilayah Sumatra, tepatnya Sumatra Utara. Bagi masyarakat lokal, hewan satu ini kerap dijuluki dengan sebutan lutung rungka, bodat, atau kek-kia.

Disebutkan bahwa penyebaran monyet kedih dapat ditemukan di kawasan hutan Aek Nauli sampai Suaka Marga Satwa Rawa Singkil di kawasan Nangroe Aceh Darussalam. Menurut data penelitian, penyebaran kedih yang paling banyak populasinya berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, terutama di Bahorok dan Ketambe.

Kedih memiliki ciri tubuh bagian atas berwarna abu-abu dengan corak kehitaman dan warna putih di bagian wajahnya, monyet satu ini juga memiliki jambul di atas kepala yang memberikan ciri khas tersendiri.

Bicara soal populasi, melansir gosumatra.com disebutkan bahwa populasi monyet satu ini telah mengalami kepunahan sebanyak lebih dari 30 persen dalam 40 tahun terakhir, akibat dari perusakan hutan untuk penebangan, pulp dan kertas, serta minyak kelapa sawit.

Sementara itu jika menilik pada status yang dimuat oleh IUCN, monyet kedih saat ini berada dalam status rentan (vulnerable).

Termasuk Satwa Endemik yang Paling Dijaga, Berapa Populasi Gajah Sumatra Saat Ini?

Lutung dahi putih asal Kalimantan Selatan

Jika bicara mengenai monyet endemik asal Kalimantan, sebagian besar orang akan langsung teringat kepada monyet bekantan yang memiliki hidung panjang nan besar dengan wajah yang berbeda dari monyet pada umumnya.

Namun selain bekantan, sejatinya ada beberapa jenis monyet endemik asal Kalimantan lainnya yang juga terancam punah dan mesti mendapatkan perhatian secara serius, yaitu lutung dahi putih.

Mengutip penjelasan ksdae.menlhk.go.id, disebutkan bahwa lutung dahi putih tidak seperti bekantan yang masih dapat dijumpai dengan mudah di sekitaran Provinsi Kalimantan Selatan, lutung dahi putih tergolong satwa yang pemalu sehingga sulit untuk dijumpai.

Hewan yang memiliki nama latin Presbytis frontata ini memiliki bulu berwarna hitam di hampir seluruh tubuhnya dan sedikit bulu warna putih di bagian kepala depan tepatnya pada bagian dahi.

Terbilang langka, hewan tersebut hanya umum ditemukan pada beberapa wilayah tertentu seperti kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Kelumpang, tepatnya di beberapa titik di Desa Tamiang Bakung, Desa Sebuli Kecamatan Kelumpang Tengah, dan di areal tambang PT. Arutmin Desa Dugan Kec. Kelumpang Tengah.

Sama seperti monyet kedih, lutung dahi putih saat ini juga berada di status rentan menurut klasifikasi dari IUCN.

Upaya Penyelamatan Bekantan, Satwa Hidung Besar Endemik Pulau Kalimantan

Lutung Budeng penghuni hutan Pulau Jawa

Lutung Budeng dewasa
info gambar

Di Jawa sendiri sebenarnya cukup banyak jenis monyet endemik yang dikenal dengan baik, salah satunya surili yang dianggap sebagai salah satu penyebar benih pohon. Namun selain surili, terdapat satu spesies monyet lain yang juga memiliki peran yang sama pentingnya yakni Trachypithecus auratus, atau dikenal juga dengan nama lutung budeng.

Lutung budeng dapat ditemui di sebagian besar wilayah Jawa, dengan catatan keberadaan di sejumlah kawasan konservasi seperti Taman Nasional (TN) Ujung Kulon, TN Gunung Halimun Salak, TN Gunug Gede Pangrango, TN Meru Betiti, TN Baluran, dan TN Bali Barat yang mencakup hutan-hutan di Pulau Jawa, Bali, dan Lombok.

Satwa satu ini sebenarnya memiliki warna rambut tubuh jingga keemasan saat pertama kali lahir hingga berusia dua atau tiga bulan. Namun setelahnya saat memasuki usia dewasa, rambut tersebut akan berubah menjadi hitam legam.

Sama halnya seperti suliri, lutung budeng juga memiliki peran penting dalam membantu persebaran biji dan pertumbuhan pepohonan, karena termasuk hewan frugivorus atau pemakan buah.

Masuk ke dalam daftar merah IUCN dengan status rentan, populasi lutung budeng di alam saat ini diketahui hanya tersisa sekitar 2.000 hingga 3.000 ekor.

Menjaga Kelestarian Lutung Budeng, Satwa Endemik Indonesia yang Terancam Punah

Monyet hitam asal Sulawesi

Yaki
info gambar

Tak mau kalah dengan wilayah lainnya, Sulawesi juga memiliki spesies monyet yang menyumbang keanekaragaman satwa endemik Indonesia, yakni monyet hitam yang memiliki nama latin Macaca nigra.

Satwa yang juga dijuluki oleh warga lokal dengan sebutan yaki atau monyet wolai ini tersebar di wilayah Sulawesi bagian utara dan beberapa pulau di sekitarnya. Meski memiliki warna bulu hitam legam, namun tubuh pada yaki betina dan berusia muda lebih pucat jika dibandikan denngan yaki jantan dewasa, dan memiliki ciri unik berupa jambul di bagian atas kepalanya.

Tidak berbeda jauh dengan jenis monyet lain yang hidup di hutan, mereka banyak memakan berbagai bagian tumbuhan seperti daun, pucuk daun, biji, bunga, umbi, buah, serta memakan beberapa jenis serangga dan moluska.

Sayangnya, monyet hitam ini merupakan salah satu jenis satwa yang berada di status terancam punah (critically endangered) karena ternyata mereka masih banyak diburu untuk diambil dagingnya dan banyak dikonsumsi menjelang perayaan natal dan tahun baru.

Kekah, Monyet Endemik yang Jadi Ikon Kepulauan Natuna

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini