Belajar Membuat Batik Khas Keraton di Kampung Batik Giriloyo

Belajar Membuat Batik Khas Keraton di Kampung Batik Giriloyo
info gambar utama

Daerah Imogiri, Yogyakarta, selama ini dikenal dengan destinasi wisata seperti Makam Raja-Raja, kawasan hutan pinus, dan kebun buah Mangunan. Namun, selain itu di Imogiri juga ada sebuah kampung batik yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Kampung Batik Giriloyo.

Kampung Batik Giriloyo merupakan bagian dari Paguyuban Batik Giriloyo, perkumpulan 12 kelompok perajin batuk di Dusun Giriloyo, Cengkehan, dan Karang Kulon. Kampung tersebut sudah banyak dikunjungi wisatawan yang ingin belanja dan belajar seni membatik.

Yogyakarta secara keseluruhan memang dikenal sebagai salah satu kota dengan perajin batik terbanyak. Dari berbagai kampung batik, Kampung Giriloyo di Kabupaten Bantul menjadi salah satu yang bisa disambangi untuk belajar membatik sekaligus menikmati liburan di pedesaan dengan suasana tenang.

Di kampung batik tersebut, ada lebih dari 500 perempuan yang bekerja sebagai perajin batik dan akan mengajarkan bagaimana proses pembuatan batik tulis kepada pengunjung.

Batik Besurek Khas Bengkulu, Perpaduan Gambar Bunga dan Kaligrafi

Keistimewaan Kampung Batik Giriloyo

Mengunjungi Kampung Batik Giriloyo, Anda bisa melihat seluruh proses membatik dikerjakan oleh kaum hawa. Kebanyakan laki-laki dari kampung tersebut bekerja sebagai buruh di kota atau menjadi abdi dalem di keraton.

Ciri khas dari kampung ini adalah pembuatan batik tulis klasik khas Keraton. Para perajin telah mempelajari pembuatan batik khas keraton secara turun-temurun. Kampung Batik Giriloyo sendiri diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17 pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram islam.

Keahlian masyarakat dalam membatik juga didapatkan dari interaksi dengan para abdi dalem keraton dan anggota Kerajaan Mataram. Pada masa itu, masyarakat sekitar diajarkan membatik untuk membantu kerajaan memproduksi batik. Saat itu, batik juga masih ekslusif digunakan untuk kalangan bangsawan dan tidak untuk rakyat biasa.

Selain melihat-lihat koleksi batik, Kampung Batik Giriloyo memiliki juga paket belajar membatik untuk para wisatawan. Biayanya juga terjangkau, mulai dari Rp250 ribu untuk lima orang, juga menerima rombongan hingga 200 orang dengan biaya Rp25 ribu saja per orang. Wisatawan bisa belajar membuat batik tulis khas keraton dan menambah pengalaman bagaimana mengerjakan proses batik dari awal. Di sana juga Anda bisa langsung membeli batik yang sudah jadi dengan harga mulai dari Rp300 ribuan sampai di atas Rp3 juta.

Selain menjadi objek wisata dan sentra belajar batik, Kampung Giriloyo juga banyak dikunjungi untuk tujuan penelitian. Memang kampung ini juga dikenal dengan pemberdayaan masyarakatnya lewat batik sekaligus melestarikan batik sebagai budaya bangsa. Kegiatan membatik sendiri telah membuka banyak lapangan kerja bagi anak putus sekolah hingga ibu rumah tangga.

Perkembangan Motif Batik sebagai Identitas Nasional yang Telah Mengglobal

Keunikan batik Giriloyo

Setiap daerah perajin batik memiliki ciri khas masing-masing, dari pemilihan bahan, corak, hingga warna. Inilah yang membuat batik sebagai salah satu kain tradisional di Indonesia begitu kaya ragam.

Batik Giriloyo sendiri dibuat dari katun primisima yang merupakan jenis katun terbaik. Para perajin juga membuat semua batik secara manual dan memang hanya fokus pada batik tulis. Tak heran, pembuatan batik di sini membutuhkan waktu lama demi menjaganya tetap autentik.

Kebanyakan batik di kampung ini dibuat dengan motif keraton yang halus dan tapi. Warnanya didominasi cokelat dan coraknya antara lain babon, parang, dan megamendung. Pewarnaan batik pun masih mempertahankan bahan alami seperti daun jati, kunyit, secang, dan kulit kayu. Meski warnanya kurang pekat, tapi dinilai lebih awet.

Untuk proses pembuatan batik yang hingga kini masih dilakukan di Kampung Giriloyo memang tergolong rumit dan dibutuhkan ketekunan serta ketelitian. Adapun proses pembuatan Batik Giriloyo melewati tahapan mulai dari nyungging, njiplak, nglowong, ngiseni, nyolet, mopok, ngelir, nglorod, ngretesi, nyumiki, nyoga, dan nglorod.

Kampung Kauman Solo, Kisah Kaum Santri yang Pernah Berjaya Melalui Batik

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini