Hikayat Kapitan Jonker, Serdadu dari Maluku yang Menjadi Andalan Pasukan VOC

Hikayat Kapitan Jonker, Serdadu dari Maluku yang Menjadi Andalan Pasukan VOC
info gambar utama

Kapitan Jonker merupakan nama seorang pemimpin kelompok pasukan Maluku yang mengabdi kepada Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Dirinya terlibat dalam banyak pertempuran untuk membantu menegakkan kekuasaan VOC di Indonesia.

Jonker berasal dari keluarga raja Muslim di Maluku. Nama Jonker diperkirakan bukan nama asli, tetapi merupakan padanan gelar tamaela yang biasa digunakan di Ambon pada zaman itu. Namanya tertulis dalam sebuah akta tahun 1664 sebagai Joncker Jouwa de Manipa.

Jonker lahir di Pulau Manipa pada tahun 1620 dengan nama Achmad Sangadji Kawasa. Nama yang mengacu kepada seorang sangaji (sejenis jabatan bupati) bernama Kawasa yang tak lain merupakan ayah kandung dari Jonker.

Anak muda ini begitu terkesan dengan kewibawaan sang ayah. Karena itulah ketika sang ayah menyatakan Manipa ikut berperang melawan VOC dalam Perang Hoamoal (1651-1656) dengan semangat menggebu Achmad Sangadji melibatkan diri.

Namun dirinya kalah, dan pasukan perlawanannya serta pasukan Raja Tahalele dari Pulau Boano menjadi tawanan VOC. Sekitar tahun 1654, dia berada dalam pengawasan Arnold de Vlamingh van Oudtshoorn dan termasuk dalam bagian pasukan yang ditempatkan di Batavia.

“Kompi orang-orang Ambon ini ditempatkan di Batavia,” tulis De Graaf dalam De geschiedenis van Ambon en de Zuidmolukken yang dimuat Historia.

Ketika itu dirinya menjadi wakil Raja Tahalele, dan kemungkinan mulai menggunakan gelar raja muda yang dipadankan menjadi Jonker dalam bahasa Belanda. Raja Tahalele kemudian mengalami luka para saat memimpin pasukan Maluku dalam pertempuran VOC di Srilanka.

Rusa Timor Ini Kembali Hidup Bebas di Hutan Manusela

Karena itulah Jonker diangkat menjadi pemimpin penggantinya dan sejak itulah gelar kapitan mulai disandangnya. Setelah pertempuran tersebut, dia memimpin pasukan Maluku yang bermarkas di Batavia.

Pada awal 1660, Kapitan Jonker muncul pada rapat Dewan Hindia untuk meminta kompensasi atas cedera tangan kirinya yang dikabulkan pemerintah Tinggi (Hooge regering) VOC.

Nama Jonker kembali muncul pada tahun 1665. ketika dirinya diangkat sebagai pimpinan Ambon di Batavia. Pada April 1666, Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker dalam rapat Dewan Hindia menyampaikan ketidaknyamanan dalam memasok bekal bagi pasukan yang menduduki pos di Sungai Bekasi, Marunda, dan Angke.

Karena itulah dirinya mengusulkan agar posisi itu diduduki oleh pasukan Ambon. Dewan Hindia lantas mengutus Laurens Pit agar berbicara dengan Kapitan Jonker dan disambut baik. Kapitan Jonker lantas menempati kawasan Marunda.

Pertempuran yang selalu dimenangkan

Karier Kapitan Jonker sebagai tentara bayaran melesat bak anak panah. Dalam setiap operasi militer, pasukannya selalu menjadi andalan VOC. Termasuk saat harus menghadapi perlawanan orang-orang Minangkabau di Pauh.

Dicatat pada April 1666, prajurit Pauh berhasil mempermalukan pasukan kompeni.
Mereka yang datang dari Batavia untuk menindas pemberontak malah harus lari tunggang langgang.

Dari 200 serdadu yang dikirim, hanya 70 serdadu yang kembali hidup-hidup. Pemimpin pasukan VOC yang bernama Jacob Gruys termasuk korban yang tewas selain 2 kapitan dan 5 letnan.

Akhirnya Jonker dan pasukannya dilibatkan dalam perang di Minangkabau. Selain pasukan Ambon, terdapat juga pasukan Bugis yang dipimpin oleh Arung Palakka yang berada di pihak VOC.

Dikisahkan peperangan yang kedua antara serdadu VOC dengan rakyat Minangkabau itu pun berlangsung lebih seru. Korban jatuh dari kedua belah pihak. VOC kehilangan 10 orang serdadu dan 20 lainnya luka-luka termasuk Kapitan Jonker dan Arung Palakka.

Singkat cerita, Ulakan Pariaman dapat diduduki pada 28 September 1666. Gubernur Jenderal pun bersuka cita. Dirinya lantas mengganjar Arung Palakka menjadi Raja Ulakan versi Belanda. Sedangkan Kapitan Jonker diangkat sebagai Panglima Kompeni Wilayah Pariaman.

Di sinilah Tempat Bagi Toleransi yang Tak Pernah Mati

Sukses di Minangkabau, VOC kembali melibatkan Kapitan Jonker dan Arung Palakka dalam Perang Makassar tahun 1667. Pasukan pimpinan Jonker dan Arung Palakka yang dikomandoi Laksamana Speelman tiba 17 Desember di Tana Keke, dan dua hari kemudian sampai di Makassar.

Pertempuran ini awalnya menyulitkan pasukan Jonker dan Arung Palakka. Namun banyaknya sekutu Gowa yang memilih mundur membuat mereka berhasil dikalahkan. Setelahnya dilakukan Perjanjian Bongaya yang membuat Arung Palakka menjadi penguasa di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Setelah Perang Makassar, Jonker menjadi orang kepercayaan Speelman yang sudah menjadi Gubernur Jenderal VOC. Tetapi tidak semua tugas VOC diselesaikan secara keras ala militer. Jonker beberapa kali memilih jalan damai.

Misalnya dalam Pemberontakan Trunojoyo di Jawa Timur (Jatim) yang melibatkan keluarga Raja Mataram, Jonker dikirim. Ketika sudah terdesak, Trunojoyo tidak menyerahkan diri kepada Mataram, melainkan kepada Jonker dan pasukannya.

“Trunojoyo diserahkan oleh VOC kepada pihak Mataram, dan akhirnya Trunojoyo dihabisi pangeran Mataram,’ tulis Petrik Matanasi dalam Hikayat Kapiten Jonker yang dimuat diTirto.

Legenda bagi masyarakat Maluku

Karena berbagai prestasi itu sangat wajar jika kemudian Kapitan Jonker tampil sebagai serdadu kesayangan Gubernur Jenderal Speelman. Begitu sayangnya Spelmaan kepada putra Maluku tersebut hingga dia menganugerahkan medali berbentuk rantau emas dan sebidang tanah di kawasan Pantai Marunda.

Namun tentu saja tidak berarti kejayaan Kapiten Jonker berjalan mulus. Menyaksikan kesuksesan Jonker, diam-diam ada perasaan dengki di kalangan serdadu Belanda totok. Menurut mereka, sehebat apapun Jonker, tetaplah dia seorang inlander (bumiputra) yang tak berhak memiliki jabatan tinggi.

Menurut sejarawan Van der Chijs memang ada satu kelompok serdadu VOC yang tidak senang dengan situasi tersebut. Mereka memendam perasaan iri dan dengki berkarat kepada Jonker.

Kelompok tentara VOC yang memendam dengki ini dipimpin oleh Isaac de Saint Martin yang merupakan perwira sekaligus anggota Dewan Hindia Belanda. Dia memang tipikal tentara politis yang memiliki kepandaian berstrategi.

Ketika Jonker ada di puncak kesuksesannya, dia tidak memperlihatkan sikap dengkinya itu. Namun setelah Speelman meninggal pada tahun 1884, mulailah dia dan kelompok intelijen menyebar gosip bahwa Jonker sedang mempersiapkan pemberontakan terhadap kekuasaan VOC di Batavia.

Dia disebutkan ingin membunuh semua orang-orang Belanda di Batavia karena mereka semua beragama Kristen. Van der Chijs menyebut tuduhan ini sangat serius di Batavia karena akan berakibat hukuman mati.

Cuci Parigi Pusaka, Tradisi Jaga Sumber Air di Lonthoir

Karena itu tahun 1688, Pemerintah Pusat di Batavia mulai mengawasi dan menyempitkan gerakan Jonker. Beberapa fasilitas yang didapatnya dari Speelman mulai dilucuti, Di lain pihak provokasi terus dilakukan oleh Issac di tubuh Angkatan Perang VOC.

Provokasi ini menyebut bahwa Jonker bersama orang-orang Banten akan menyerang Batavia. Diduga Jonker bersekutu dengan Ratu Bagus Abdul Kamal (keturunan Ratu Bagus dari Banten).

Pemerintah Belanda kemudian menyebut bahwa Jonker memang menyiapkan pasukan. Tetapi pasukan itu bukan untuk mennyerang VOC, melaninkan untuk menghalau pasukan Kapitan Buleleng.

Pada 23 Agustus, sebuah pasukan campuran yang dipimpin Kapten Sloot bergerak ke Marunda. Hampir 2 ribu pasukan campuran VOC, terdiri dari orang-orang Belanda dan Indonesia, memburu Jonker.

Di sekitar Sungai Marunda, terjadilah pertempuran antara pasukan VOC dengan pengikut Jonker. Jonker dan pengikutnya terkepung dan ditembaki pasukan VOC. Letnan Holcher yang belia pun membacok leher jonker dengan pedangnya.

Jauh setelah kematiannya, Jonker lantas menjadi mitos yang begitu dihormati serdadu-serdadu KNIL Ambon. Banyak dari mereka yang percaya mitos bahwa jika pasukan yang sedang dalam perjalanan menuju pertempuan dilintasi sepasang merpati, maka pasukan tersebut akan menang.

“Dia adalah spiritual hero mereka. Dia menjadi contoh bagi mereka dan dia adalah impian keberanian dan kesetiaan seorang militer Ambon. Kapiten itu pelindung mereka dalam marabahaya. Bagi mereka, tete dan nene (Jonker) tidak mati.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini