Mengenal Area Paling Basah di Bumi, yang Ternyata Ada di Indonesia

Mengenal Area Paling Basah di Bumi, yang Ternyata Ada di Indonesia
info gambar utama

Di sebuah area kecil dan terpencil di salah satu bagian dari satu-satunya jalan menuju kompleks tambang Grasberg PT Freeport Indonesia, dinobatkan menjadi tempat terbasah di dunia, dan mengambil alih tahta sebagai tempat dengan curah hujan tertinggi di dunia, dengan intensitas guyuran hujan 12,143 milimeter hujan.

Tempat ini, tepatnya adalah di kalan Tambang PT Freeport Indonesia (PTFI) tepatnya di Mile Post 50, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Tingkat curah hujan rata-rata lima tahunan pada angka 12,143 milimeter ini adalah 279.4 milimeter lebih tinggi daripada tingkat curah hujan rata-rata tempat terbasah di dunia sebelumnya, yang disandang Mawsynram di India.

Berdasarkan data lima tahunan yang didapat dari area yang ditentukan, area di sekitar Mile Post 50 Jalan Tambang Utama diguyur hujan rata-rata dalam 329 hari setahun.

Sementara MP 50 atau yang disebut sebagai Panamen Tanaga dalam peta area perusahaan- bukanlah area yang terkenal di perusahaan secara keseluruhan, karyawan dan pengunjung di jobsite sangat familiar dengan area ini.

Cuaca di titik ini seringkali menentukan apakah perjalanan antara dataran rendah dengan dataran tinggi dan sebaliknya akan ditempuh dengan perjalanan cepat 15 menit menggunakan helikopter atau perjalanan tiga jam dengan bus.

Jajaran pegunungan tinggi dan curam bak dinding tinggi di area inilah yang menghasilkan pola fenomena cuaca yang dikenal dengan efek orografis (orographic effect) yang menciptakan curah hujan lebat.

“Dari lautan, dataran rendah pesisir, lalu tiba-tiba berubah ke area bergunung-gunung dengan perubahan elevasi drastis,” terang Muhammad Najib Habibie, seorang peniliti dari BMKG.

“Jadi awan yang bergerak dari arah pantai dipaksa naik, inilah yang disebut efek orografis. Udara di sini dipaksa naik ke dataran tinggi, menyebabkan temperatur turun, sehingga mengakibatkan formasi awan diikuti dengan hujan.”

Area Mile 50 | Foto: Freeport Indonesia
info gambar

Badan Meteorologi, Klimatoligi dan Geofisika (BMKG) Timika bersama PTFI sendiri mendaftarkan area Mile 50 sebagai daerah paling basah di dunia ke World Meteorological Organization (WMO) yang merupakan badan meteorologi dunia.

Dari mana data tempat terbasah di dunia ini didapatkan?

Pada bulan Oktober 2018, Tim BMKG melakukan survey pemantauan glacier di Puncak Jaya Papua bersama dengan tim divisi environmental PT. Freeport Indonesia (PTFI). Tim BMKG beranggotakan Dr. Erwin Makmur, Dr. Donaldi Permana, M. Najib Habibie dan T. Daniel Hutapea dari unit Puslitbang.

Selain itu, pada saat yang sama, tim BMKG-PTFI mendirikan papan nama bertuliskan "The Wettest Place on Earth" di wilayah Mile 50 (MP50) pada Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, sebagai daerah terbasah di dunia.

Stasiun Pemantau curah hujan MP50 berada pada koordinat 4.28 derajat LS, 137 derajat BT dan ketinggian 617 meter di atas permukaan laut (mdpl). Stasiun MP50 merupakan salah satu dari 12 stasiun pemantau cuaca otomatis yang dikelola oleh PTFI dan setiap tahun dikalibrasi oleh BMKG.

Berdasarkan data curah hujan pada periode 1994-2011 dan 2016-2018 (21 tahun), rata-rata curah hujan tahunan di MP50 mencapai 12 meter (12,143 mm), dengan total curah hujan tahunan tertinggi tercatat pada tahun 1999 sebesar 15,5 meter (15,457 mm).

Dengan nilai ini, MP50 berpotensi untuk menjadi daerah dengan rata-rata curah hujan tahunan tertinggi di Dunia karena melampaui rekor yang tercatat di WMO (https://wmo.asu.edu/content/world-meteorological-organization-global-weather-climateextremes-archive).

Adapun rekor rata-rata curah hujan tahunan tertinggi yang tercatat di WMO pada saat ini adalah

  1. Mawsynram, India dengan rata-rata curah hujan tahunan 11,872 m,
  2. Mt.Waialeale, Kauai, Hawaii, AS, dengan rata-rata curah hujan tahunan 11,64 m,
  3. Debundscha, Kamerun, dengan rata-rata curah hujan tahunan 10,287 m dan
  4. Quidbo, Kolombia, dengan rata-rata tahunan curah hujan 8,99 m.

Berbeda halnya dengan Mawsynram di India yang memiliki musim hujan dan kemarau yang jelas dengan kontribusi curah hujan dalam setahun berasal dari bulan Juni-Agustus pada saat kondisi monsun aktif, daerah MP50 di Mimika tidak memiliki musim kemarau, dan rata-rata curah hujan tiap bulan dalam setahun sebesar 1 meter (1,011 mm).

sumber : BMKG
info gambar

Total curah hujan bulanan tertinggi tercatat pada bulan Agustus 2017 sebesar 2 meter (2,055 mm) yang menyebabkan kejadian longsor pada beberapa lokasi di Tembagapura.

Selain itu, hal menarik lainnya adalah bahwa hujan turun hampir setiap hari di MP50 dengan total hari hujan rata-rata sebanyak 329 hari (atau sekitar 11 bulan) dalam setahun. Hal ini memperkuat MP50 sebagai daerah terbasah di Indonesia bahkan mungkin di dunia.

Sumber BMKG
info gambar
Mile 50 Mimika vs Citeko Bogor | BMKG
info gambar

Tesla Kadar Dzikiro, forecaster BMKG Mimika mengatakan, bahwa cuaca Indonesia secara umum dipengaruhi oleh angin muson timur dan angin muson barat, tapi kalau Timika bukan cuma angin muson yang mempengaruhi cuaca melainkan adanya faktor topografis.

“Jajaran pegunungan tinggi di area ini yang menghasilkan efek topografis yang menciptakan curah hujan lebat,” ungkapnya.

Tesla menjelaskan, di Selatan Timika ada laut yang menghasilkan angin darat dan angin laut, sedangkan di Utara Timika ada gunung yang menghasilkan angin gunung dan angin lembah. Apabila sirkulasi angin saling bertemu dan berkumpul menjadi awan menghasilkan hujan.

Sumber: BMKG.go.id | Seputar Papua | Timika Ekspress| PTFI

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini