Ecobrick, Inovasi Mengubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bangunan

Ecobrick, Inovasi Mengubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bangunan
info gambar utama

Kita sudah tahu betul bahwa penggunaan plastik berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Namun, di sisi lain menghindari plastik sama sekali bukan hal mudah. Berbagai produk yang biasa digunakan sehari-hari, dari bahan atau bumbu makanan, minuman, produk pembersih rumah, produk kesehatan dan kosmetik, fesyen, hingga elektronik rata-rata sudah dikemas plastik.

Untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, beberapa tahun belakangan ini telah ramai kampanye membawa tas belanja sendiri, menggunakan benda-benda yang bisa dipakai berulang kali, dan belanja di bulk store dengan membawa kemasan sendiri.

Sayangnya, cara ini juga tidak bisa 100 persen menghindarkan kita dari sampah plastik karena ada saja kebutuhan yang harus dipenuhi, tetapi tidak bisa lepas dari plastik. Selanjutnya ada pula kampanye 3R yaitu reduce, reuse, recycle sebagai aksi pembersihan lingkungan dan upaya mengatasi masalah plastik. Namun, terkadang cara ini juga tida dapat diaplikasikan pada berbagai jenis sampah.

Lantas, bagaimana dengan nasib plastik yang telanjur ada? Jika 3R sulit dilakukan, maka salah satu solusinya adalah membuat ecobrick. Bagi yang masih asing dengan istilah ecobrick, berikut pemahaman mengenai ecobrick, bagaimana cara memanfaatkannya, serta cara membuatnya.

Upaya Mengurangi Sampah Plastik, KLHK Kenalkan Gagasan Plastic Credit

Apa itu ecobrick?

Ecobrick | Wikimedia Commons
info gambar

Ecobrick merupakan cara yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan kelebihan plastik dan memanfaatkan sifatnya yang memiliki daya tahan kuat, usia yang panjang, dan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada dasarnya, ecobrick merupakan bata ramah lingkungan dan memang dapat digunakan dalam mendirikan bangunan, furnitur modular, perabotan rumah, ruang hijau, hingga dinding dan gedung sekolah.

Berbeda dari batu bata pada umumnya, ecobrick dibuat dari botol sampah yang diisi sampah plastik. Inovasi ini pertama kali dilakukan oleh Russell Maier, seorang seniman asal Kanada. Russel sangat menyadari betapa bahayanya sampah plastik bagi lingkungan dan mulai mencari cara untuk mengurangi sampah plastik.

Ecobrick juga dikenal dengan sebutan bottle brick atau ecoladrillo sebagai salah satu solusi pemanfaatan sampah plastik yang sudah terkenal di seluruh dunia. Sampah plastik yang dikumpulkan dalam botol akan terjaga dengan baik dan bisa dimanfaatkan untuk hal berguna tanpa harus membakar, menimbun, atau dibiarkan menggunung di tempat pembuangan.

Meski kelihatannya sederhana, membakar sampah dapat membuat zat-zat berbahaya seperti karbon monoksida akan terlepas ke udara dan membahayakan kesehatan serta lingkungan. Namun jika dibiarkan begitu saja, sampah plastik yang sulit terurai dapat membahayakan ekosistem di sekitarnya.

Perubahan Gaya Hidup Praktis yang Munculkan Persoalan Sampah Plastik Kemasan

Cara membuat ecobrick

Ecobrick | Wikimedia Commons
info gambar

Untuk membuat ecobrick, bahan yang diperlukan adalah botol plastik bekas, aneka sampah plastik, dan sebuah tongkat yang bisa masuk melewati mulut botol. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memastikan semua sampah plastik dalam kondisi bersih dan kering.

Semua plastik yang telah terkumpul bisa dibersihkan dari minyak, kotoran, atau sisa makanan dengan cara dicuci lalu dikeringkan. Plastik yang kotor, basah, dan lembap dapat menyebabkan pertumbuhan mikroba dan pembentukan metana di dalam ecobrick yang akan dibuat.

Selain membersihkan plastik, pastikan Anda tidak memasukan logam, kaca, kertas, kardus, atau bahan-bahan yang dapat terurai alami ke dalam ecobrick.

Selagi mempersiapkan sampah, Anda bisa pilih jenis botol yang mudah ditemukan dan memastikan ukurannya sama. Rata-rata botol yang digunakan bervolume di bawah 600 mililiter. Botol besar ukuran 1.500 mililiter memang dapat menyimpan lebih banyak plastik, tetapi akan lebih lama membuatnya. Namun, sebaiknya sesuaikan dengan ketersediaan tipe botol yang mudah ditemukan dan jangan sampai Anda harus beli minuman demi membuat ecobrick.

Langkah selanjutnya adalah merobek-robek plastik dari berbagai ukuran menjadi bagian-bagian kecil. Semakin kecil ukurannya, maka hasilnya akan semakin padat. Jika sudah terkumpul, masukkan ke botol plastik sampai setengahnya kemudian dorong dan padatkan dengan tongkat. Setelah padat, tambahkan lagi plastik sampai botol hampir penuh, tetapi sisakan sekitar 2 cm antara tutup botol dengan plastik di dalamnya.

Untuk menjadi ecobrick yang baik, perlu diperhatikan tingkat kerapatan minimum yaitu 0,33 g/ml. Jika botol berukuran 600 ml maka akan memiliki berat minimum 200 gram, sementara botol 1500 ml akan memiliki berat minimum 500 gram.

Ecobrick yang kerapatannya di bawah standar tersebut akan terlalu lembek untuk dimanfaatkan sebagai modul dan tidak ideal untuk bangunan tanah. Bahkan, jika kerapatannya rendah, ecobrick rentan terbakar karena masih mengandung kantong-kantong udara.

Jika kerapatannya sudah cocok, saatnya menutup botol dan melabeli kemasan dengan nama pembuat, berat akhir, tanggal pembuatan, dan proyek tujuan. Selanjutnya ecobrick bisa disimpan di dalam ruangan yang jauh dari sinar matahari dan dilindungi dari debu dan kotoran.

Bahkan, ika Anda hanya ingin membuat ecobrick sebagai bentuk penyelematan sampah agar tidak dibuang sia-sia, tetapi tidak ingin melakukan proyek pembangunan apapun, kini ada beberapa bank sampah yang menerima yang menerima ecobrick dan bisa ditukar dengan uang.

Mengenal Jenis Sampah Plastik yang Ternyata Punya Nilai Ekonomi Tinggi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini