FDA AS Baru Izinkan Alat Breathalyzer, Indonesia Lebih Dulu Punya GeNose

FDA AS Baru Izinkan Alat Breathalyzer, Indonesia Lebih Dulu Punya GeNose
info gambar utama

Covid-19 sudah tak separah sebelumnya, kini situasi mulai terkendali di mana kehidupan normal perlahan sudah mulai berangsur pulih. Transportasi publik perlahan mulai menambah kapasitas maksimal, kebijakan mengenai perjalanan jarak jauh mulai dilonggarkan, dan kegiatan rutin layaknya mudik yang banyak dilakukan masyarakat pun sudah boleh dilakukan pada tahun ini.

Jika sedikit melakukan kilas balik mengenai kemunculannya, pandemi yang terjadi memang sempat mengubah semua aspek kehidupan menjadi serba terbatas, bahkan cenderung terpuruk. Tapi di saat bersamaan, kondisi tersebut mendorong beberapa pihak untuk berinovasi menciptakan teknologi terbaik dalam menangani permasalahan yang ada, termasuk di Indonesia.

Ada banyak sejumlah penemuan yang dilakukan para ahli, peneliti, atau ilmuwan di Indonesia untuk memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi, salah satunya adalah kebutuhan alat untuk mendeteksi paparan Covid-19 yang dialami setiap orang.

Salah satu penemuan dan inovasi yang pernah mencuri perhatian pada awal kemunculannya adalah GeNose, alat yang dapat mendeteksi paparan Covid-19 pada seseorang hanya dalam waktu singkat.

Tak disangka, penemuan tersebut rupanya mengungguli negara yang notabenenya lebih maju yakni Amerika Serikat, yang belakangan justru baru meresmikan alat serupa dengan cara kerja yang sama, di saat situasi Covid-19 sudah mulai mereda.

GeNose Buatan UGM, Cara Deteksi Covid-19 dengan Hembusan Nafas

Breathalyzer yang diizinkan FDA

Alat
info gambar

Food and Drug Administration (FDA) atau BPOM Amerika Serikat, pada hari Kamis (14/4/2022) mengumumkan kalau mereka baru saja memberi izin penggunaan sebuah alat yang dapat mendeteksi Covid-19 dalam waktu singkat, bernama Breathalyzer.

Sama-sama menggunakan metode pengujian lewat napas, alat tersebut memiliki ukuran sebesar koper yang wujudnya bahkan lebih besar dari perangkat GeNose.

Dikembangkan oleh InspectIR System, alat tersebut diklaim dapat mengidentifikasi lima senyawa organik volatil dalam hembusan nafas. Senyawa organik volatil sendiri dihasilkan tubuh secara alami saat dibutuhkan untuh melawan virus Covid-19.

Cara pakainya, seseorang hanya perlu meniup alat menyerupai sedotan yang tersambung ke dalam mesin berbentuk koper, kemudian menunggu hasilnya dalam waktu yang relatif cepat yakni sekitar 3 menit.

Satu unit alat breathalyzer disebut mampu melakukan tes hingga 160 sampel/orang per hari. Namun di saat bersamaan, FDA mengungkap jika tes tersebut hanya bersifat penanda sehingga membutuhkan tes molekuler lebih lanjut layaknya PCR.

Lain itu disebutkan jika tingkat akurasi alat tersebut masih di bawah metode tes antigen, karena senyawa organik volatil yang terdeteksi dari hasil tes menggunakan alat tersebut tidak bisa dijadikan acuan untuk mengidentifikasi Covid-19 secara spesifik.

Direktur Pusat Perangkat dan Kesehatan Radiologi FDA, Dr. Jeffrey E. Shuren mengungkap, kalau pengesahan yang mereka lakukan terhadap alat breathalyzer merupakan contoh lain dari inovasi cepat yang terjadi dengan tes diagnostik untuk Covid-19.

Dalam keterangan resminya, pimpinan BPOM AS tersebut bahkan menyebut breathalyzer sebagai alat tes diagnostik Covid-19 pertama yang menggunakan sampel napas.

"FDA terus mendukung pengembangan tes Covid-19 untuk memajukan teknologi yang membantu mengatasi pandemi saat ini." ujar Jeffrey.

Menilik Kemungkinan Covid-19 Menjadi Endemi, Apa Bedanya dengan Pandemi?

Bukti kecakapan tenaga ahli Indonesia

GeNose
info gambar

Sementara itu jika menelusuri awal mula pengembangan GeNose, alat satu ini bahkan sudah lebih dulu hadir kurang dari setahun sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia. Dikembangkan oleh empat orang tenaga ahli yang berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), keempat sosok yang dimaksud terdiri dari:

  • Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si (FMIPA),
  • dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, Sp.A, M.Sc., Ph.D. (FKKMK),
  • Dr. Ahmad Kusumaatmaja (FMIPA),
  • dr. Mohamad Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D (FKKMK).

Jika bicara mengenai kualitas, alat yang memiliki wujud lebih kompak dari breathalyzer ini bahkan memiliki tingkat sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang sudah terbukti berdasarkan hasil uji coba. Pada saat masa awal penggunaannya, GeNose memiliki sensitivitas 89-92 persen, spesifisitas 95-96 persen, dan akurasi 93-94 persen.

Benar-benar memiliki cara kerja yang sama, GeNose juga meneliti paparan Covid-19 dengan mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang diambil dari sampel napas. Hasilnya pun bisa diperoleh dalam waktu kurang dari dua menit.

Mendapat izin resmi dari Kementerian Kesehatan, GeNose pernah diandalkan sebagai alat uji pada berbagai tempat, yang membutuhkan hasil tes negatif Covid-19 bagi setiap masyarakat yang ingin mengakses sarana umum, seperti di bandara dan stasiun kereta api.

Bahkan, biaya yang perlu dikeluarkan untuk bisa menjalani tes menggunakan alat tersebut terbilang paling murah dibanding PCR atau Antigen kala itu, yakni di kisaran Rp15-25 ribu.

Pemerintah Umumkan Kebijakan Mengenai Syarat Perjalanan, Tes PCR-Antigen Dihapus?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini