Salam Forum, Pesan Damai dan Toleransi dari Wahid Foundation

Salam Forum, Pesan Damai dan Toleransi dari Wahid Foundation
info gambar utama

Toleransi dan menjalani kehidupan dengan penuh perdamaian antar seluruh masyarakat, tanpa memandangan latar belakang suku, agama, dan ras merupakan salah satu persoalan besar yang terus diupayakan.

Bukan berarti pelaksanaan selalu berjalan dengan mulus, hingga saat ini di Indonesia sendiri nyatanya masih banyak tantangan untuk mewujdukan kehidupan yang penuh toleransi, apalagi di tengah kencangnya pertumbuhan berbagai platform digital yang bisa dibilang jadi tempat utama dan cara baru masyarakat melakukan interaksi dengan lebih luas.

Kementerian Komunikasi dan Informatika bahkan mencatat, jika sejak 2018 hingga April 2021, ada sebanyak 3.640 ujaran kebencian berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di ruang digital yang ditangani.

Karena itu, berbagai pihak sejak lama terus melakukan sejumlah upaya guna menyampaikan pesan damai, untuk kehidupan yang lebih baik lewat sederet kampanye toleransi, salah satu yang diketahui aktif melakukan kampanye yang dimaksud adalah Wahid Foundation.

Menakar Tingkat Toleransi Masyarakat Indonesia dalam Menghormati Perbedaan

Pesan Toleransi lewat program Salam Forum

Salam Forum
info gambar

Menggandeng Google, YouTube dan United Nations Development Programme (UNDP), Wahid Foundation meluncurkan sebuah kampanye bertajuk Salam Forum. Kampanye yang menyertakan 10 kreator konten tanah air untuk menggarap sebuah film pendek yang sarat akan makna toleransi dan pesan damai.

Dalam prosesnya, menurut Mujtaba Hamdi selaku Direktur Eksekutif Wahid Foundation, pada tahapan awal Wahid Foundation telah terhubung dengan sebanyak 150 lebih teman-teman di berbagai wilayah untuk mengolah gagasan konkret untuk membentuk kampanye Salam Forum.

Setelahnya, gagasan tersebut dikerucutkan pada ide-ide kunci yang melibatkan 10 kreator konten dari 10 komunitas terpilih. Lebih lanjut, jajaran kreator konten yang termasuk nyatanya juga berasal dari berbagai kalangan yang berbeda, mulai dari tokoh agama, media moderat, aktivis perempuan, dan masih banyak lagi.

“Konten yang dibuat (teman-teman kreator) tidak bersifat menggurui, tapi menampilkan realitas kebhinekaan yang berkembang di masyarakat.” jelas Mujtaba.

Sementara itu Danny Ardianto, selaku Kepala Kebijakan Publik YouTube Indonesia dan Frontier Asia Selatan menyebut, pihaknya tertarik untuk ikut terlibat dalam kampanye ini karena nilai moral dan pesan yang disampaikan sangat berarti, yakni perdamaian dan toleransi.

“Melalui Salam Forum ini kami berharap semakin banyak kreator dan komunitas yang turut menyebarkan pesan perdamaian dan toleransi, sehingga pada akhirnya menciptakan percakapan yang positif di ruang digital,” harap Danny.

Upaya Eklin de Fretes Membawa Pesan Damai dan Toleransi Melalui Dongeng

Mengapa harus melalui film pendek?

Pendekatan melalui film dipandang efektif dan efisien dalam menyebarkan pesan-pesan kebaikan. Di lain sisi, alasan memublikasikan karya film pendek melalui platform YouTube juga mendapatkan penjelasan sendiri dari Danny.

Menurutnya, di platform digital seperti YouTube memang sudah banyak digunakan untuk hal-hal yang positif. Tapi, di satu sisi juga ada tantangan yang harus dihadapi yakni berupa konten atau pesan yang menyampaikan hal-hal yang harus dilawan masyarakat, contohnya ujaran kebencian, intoleransi, dan lain sebagainya.

Karena itu, kampanye ini digaungkan untuk menyuarakan perdamaian yang lebih kuat di tengah banyaknya tantangan global.

Lebih lanjut, Iwan Misthohizzman selaku National Project Manager PROTECT Project UNDP, menjelaskan jika toleransi pada dasarnya adalah sebuah pemahaman yang telah hidup di tengah masyarakat Indonesia. Toleransi tersebut juga banyak tercermin dalam suatu kearifan lokal yang mengajarkan penghargaan terhadap keberagaman.

“Nampak Ddlam video-video yang ada dapat terlihat bahwa nilai-nilai dalam toleransi itu berakar. Tidak hanya pada satu hal saja, tidak melulu ajaran Agama saja, tetapi juga ajaran di dalam kearifan lokal masyarakat Indonesia,” tutur Iwan.

Ungkapan positif juga datang langsung dari salah satu kreator konten atau perwakilan dari komunitas terlibat, yakni Liza Yuvita Sikku. Liza sendiri merupakan sutradara dari salah satu film pendek dalam kampanye Salam Forum yang ikut menyampaikan pesan toleransi, lewat film berjudul Rewang.

“Pesan yang ingin di sampaikan dalam video itu (Rewang), adalah bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia tidak mudah memberikan asumsi kepada orang lain, karena belum tentu apa yang kita lihat sesuai dengan apa yang dia lakukan, dan asumsi ini yang sering menimbulkan perselisihan dan konflik di masyarakat” ujar Liza.

Selain Liza lewat karya Rewang, masih ada juga sejumlah kreator konten lain yang memproduksi film pendek dengan pesan moral serupa. Jajaran film pendek tersebut terdiri dari Unity in Diversity, Putu: Berbeda Tetap Keluarga, Srawung, Sekolah Moderat, Reresik, Cerita Muslimah, Sailor Maemonah, Boru Bawa Damai, dan Story of Vivian.

Yenny Wahid, selaku Direktur Wahid Foundation, mengungkap jika kampanye Salam Forum diharapkan mampu memberikan ilmu dan pengetahuan dalam berkomunikasi, sehingga dapat mencetuskan sebuah diskusi positif di ruang digital.

Ia yakin, bahwa kita mampu bersama-sama menanamkan jiwa toleransi dalam mendukung transformasi digital yang inklusif.

Belajar Rasa Toleransi Beragama dari Masyarakat Pulau Dewata

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini