Kisah Buah Kelapa yang Dijadikan Mahar Perkawinan hingga Status Sosial

Kisah Buah Kelapa yang Dijadikan Mahar Perkawinan hingga Status Sosial
info gambar utama

Tanaman kelapa banyak ditemukan di hampir seluruh tempat di Indonesia dan merupakan tanaman serbaguna. Kelapa memiliki arti penting bagi masyarakat, karena hampir semua bagiannya, seperti daun, buah, sabut hingga batang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Di beberapa tempat di Indonesia, kelapa malah memiliki peran yang lebih penting dari sekadar ekonomi. Kelapa mempunyai peran dalam kehidupan sosial budaya masyarakat, yakni sebagai mahar perkawinan.

Bagi masyarakat Wawoni, di Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara misalnya, kelapa dijadikan sebagai mahar perkawinan adat yang diberikan mempelai pria kepada mempelai wanita sesuai dengan keputusan hukum adat yang berlaku.

Kelapa dijadikan mahar berkaitan erat dengan ketersediaan sumber daya alam serta falsafah dalam membangun rumah tangga. Kemudian pohon kelapa yang boleh dijadikan mahar dalam perkawinan yang sudah berbuah dengan klasifikasi tertentu.

Selain di Wawoni, bagi masyarakat Gorontalo, kelapa juga menjadi salah satu syarat utama dalam melakukan perkawinan adat. Saat mempelai pria melamar mempelai wanita, maka wajib memberikan tumula atau tunas kelapa.

Pohon Terkuat di Indonesia yang Kaya Manfaat

“Tunas kelapa dimaknai sebagai biisalawa, atau pembicaraan awal,” tulis Rahmadi R dalam Unik, Buah Kelapa Dapat Dijadikan Mahar Perkawinan yang dimuat di Mongabay Indonesia.

Tunas, tulis Rahmadi, disimbolkan sebagai awal karena tunas dalam bahasa Gorontalo adalah tumula yang dimaknai sebagai awal mula. Hal ini memiliki arti dalam ritual tersebut tunas kelapa dipadankan dengan pembicaraan awal atau ikrar.

Di daerah lainnya, yakni di Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, mahar perkawinan juga menggunakan kelapa. Bahkan tanaman ini menunjukan status sosial. Di daerah Selayar, jelasnya, kelapa memiliki fungsi yang cukup bernilai.

Sebagai mahar, kelapa paling kurang harus 80 pohon untuk golongan pattola (bangsawan). Bila tidak memiliki pohon kelapa yang didapatkan sebagai warisan, bisa dikatakan bahwa leluhurnya bukan dari golongan bangsawan.

“Disamping itu dapat pula dikatakan bahwa seluruh kehidupan masyarakat tergantung pada keadaan kelapa karena hampir seluruh perekonomian mereka ditentukan oleh kelapa baik dari segi pertanian maupun dari segi perdagangan,” ungkap Lenrawati dan Nurul Adliyah Purnamasari, peneliti dari Balai Arkeologi Sulsel.

Kelapa bagi orang Indonesia

Indonesia yang merupakan negara tropis, menjadikan semua tempat di wilayahnya memiliki pohon kelapa. Pohon ini telah dikenal sebagai tanaman kehidupan, daging buah kelapa bisa dikeringkan, dimakan segar, diolah jadi santan, dan airnya memiliki manfaat kesehatan.

Peneliti arkeologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hari Suroto menyebut selain tersebar secara alami, tanaman kelapa juga disebarluaskan oleh orang-orang berbahasa Austronesia yang adalah pelaut ulung.

Hari menjelaskan sekitar 3.000 tahun lalu, orang Austronesia berlayar dari Kepulauan Filipina, ke selatan menuju Sulawesi serta ke timur hingga Kaledonia baru di Pasifik Selatan dengan menggunakan perahu bercadik sambil mendirikan pemukiman baru.

“Tanaman kelapa sangat berguna bagi mereka, berfungsi sebagai penanda permukiman baru di pulau yang mereka tempati. Selain itu, buah kelapa berfungsi sebagai bekal selama pelayaran, dagingnya dapat dimakan dan airnya untuk diminum,” terangnya yang dimuat Detik.

Ekspor Olahan Kelapa Berkualitas Tinggi Indonesia Tembus 6 Benua

Oleh orang Austronesia, pohon kelapa juga disadap untuk diambil nira-nya. Nira yang dihasilkan, kemudian diolah menjadi minuman beralkohol. Minuman ini misalnya di pesisir utara Papua disebut dengan nama saguer.

Diungkap oleh Hari, pada masa silam sabut kelapa digunakan dalam pembuatan tali, tikar, keranjang, kuas, dan sapu. Batok kelapa berfungsi sebagai piring, gayung air, sendok, dan gelas air minum.

Sementara itu saat ini, ucapnya, peralatan berbahan batok kelapa sulit ditemui dan jarang digunakan. Hal ini terjadi sejak adanya peralatan yang terbuat dari plastik dan alumunium. Sehingga sabut dan batok kelapa hanya berfungsi sebagai bahan bakar saja.

Selain daging yang dapat dimakan dan minuman yang diperoleh dari kelapa muda, kelapa yang dipanen juga menghasilkan kopra, daging kelapa kering yang diekstraksi, bisa menghasilkan minyak goreng.

Saat ini Philipina dan Indonesia menjadi penghasil kopra utama di dunia. Negara-negara di Pasifik Selatan, masih menjadikan kopra sebagai produk ekspor yang penting karena manfaatnya yang banyak.

“Dagingnya juga bisa diparut dan dicampur dengan air untuk dibuat santan, atau sebagai bahan dalam pembuatan makanan tradisional,” jelasnya.

Memanfaatkan kelapa

Walau kelapa mulai ditinggalkan, di beberapa daerah, masih ada yang memanfaatkan tanaman ini. Misalnya, jelas Hari terjadi di salah satu pulau di kawasan Teluk Cenderawasih, di lepas Pantai Nabire, Papua.

Tempat ini hampir keseluruhan ditumbuhi pohon kelapa. Pulau ini bernama Pulau Kapotar, di Kepulauan Moora. Pohon kelapa ini tumbuh alami di tepi pantai, dan sebagian sudah dibudidayakan secara intensif oleh warga.

“Uniknya pada batang pohonnya tidak dibuat pijakan kaki untuk memanjat. Kelapa di Pulau Kapotar hanya diambil buahnya yang tua saja. Cara mengambilnya sangat unik, tidak perlu dipanjat. pemilik kebun kelapa hanya mengumpulkan buah-buah kelapa tua yang jatuh,” ungkap Hari dilansir dari Tempo.

Masyarakat tinggal mengumpulkan buah kelapa yang sudah berjatuhan di tanah. Mereka akan mengupas buah kelapa itu lalu dijual ke kota Nabire. Ada pula yang mengumpulkannya ke pengepul untuk dikirim ke Moanemami yang terletak di pegunungan Papua.

Dicatat oleh Hari, satu buah kelapa dihargai Rp3.000, namun sesampainya di pegunungan Papua, harganya bisa naik lebih dari tiga kali lipat, yakni Rp10.000 per butir. Untuk diketahui, pohon kelapa tidak bisa tumbuh di pegunungan Papua.

Hari menyebut buah kelapa di Pulau Kapotar dikenal memiliki daging tebal, lebih keras dan kadar airnya tidak terlalu banyak. Oleh warga Mambor buahnya biasanya juga diolah menjadi minyak kelapa.

Produk Kelapa Asal Purworejo Mulai Dilirik Dunia

Hal inilah ucapnya yang menjadikan masyarakat sekitar tidak terpengaruh dengan isu minyak goreng langka beberapa waktu silam. Minyak kelapa ini mereka manfaatkan untuk menggoreng ikan atau menumis sayuran.

Ikan atau sayur, biasanya dimasak tanpa bumbu, hanya dengan minyak kelapa buatan sendiri. Proses memasaknya menggunakan kayu bakar, perpaduan inilah yang menghasilkan masakan enak.

“Kuliner khas dari Pulau Mambor menggunakan pisang tanduk dan keladi dimasak santan.”

Menurutnya masyarakat di pulau ini biasa memanfaatkan minyak kelapa untuk menjadi bumbu tumisan dengan aroma harum dan gurih, walau tanpa garam. Karena itu Hari mendorong pelestarikan dan perbanyakan bibit tanaman kelapa di Papua.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini