Bakso dan Khazanah Kuliner Nusantara

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

Bakso dan Khazanah Kuliner Nusantara
info gambar utama

Baru-baru ini media di nusantara ini ramai dengan berita reaksi masyakat atas pernyataan mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri, bahwa kalau mencari menantu harus selektif jangan seperti tukang bakso.

Kebanyakan reaksi itu adalah rasa kerprihatinan atas pernyataan yang bernada diskriminasi terhadap profesi pedagang bakso.

Terlepas dari kontroversi pernyataan Bu Mega--sapaan akrabnya--itu, sebenarnya makanan bakso telah melengkapi khasanah kekayaan kuliner khas Indonesia, meskipun aslinya makanan ini berasal dari daratan China.

Bak-so yang berarti daging yang digiling dalam bahasa Hokkien itu sudah berada d mana-mana di Nusantara ini. Saya tidak tahu persisnya kapan bakso ini masuk di Indonesia di Asia Tenggara, namun tahun 1988-an ketika saya kembali mengunjungi Singapura saya sering makan bakso atau meatball--dalam bahasa Inggrisnya--di restoran.

Orang tua angkat saya (dalam program Pertukaran Pemuda ASEAN-Jepang) pernah memberitahu saya bahwa arti Bak dalam bahasa China itu adalah babi, dan beliau pernah heran ketika berkunjung ke Indonesia ditemui banyak pedagang yang berjualan bakso.

Namun baru diketahui kalau bakso di Indonesia itu bukan babi. Memang karena Indonesia masyarakatnya mayoritas muslim maka bahan baksonya itu adalah daging sapi bukan babi.

Pedagang bakso secara geografis lebanyakan dari daerah Wonogiri, Solo, Jawa Tengah, dan Malang, Jawa Timur.

Saya tahun--tahun 2000-2015--sering bertugas di seluruh wilayah Indonesia bagian timur dan seringkali menemukan warung dan pedagang keliling penjual bakso dari Solo dan Malang.

Di Kota Tual, Maluku Tenggara (1 jam lebih dengan pesawat kecil dari kota Ambon) saya juga menyaksikan banyak depot Bakso Solo dan Bakso Malang, demikian juga di Makassar, Ambon, Manado, Palu, Bali, NTT, dan NTB, bahkan di Kalimantan pun saya temui pedagang Bakso dari kedua wilayah itu.

Di wilayah Indonesia bagian barat juga kita temukan pemandangan yang sama yaitu banyak penjual bakso itu. Hal itu menunjukkan bahwa para pedagang dari Solo dan Malang itu seperti pedagang dari Sumatra Barat, Bugis dll--merupakan pedagang yang tangguh, berani merantau keseluruh daerah di Nusantara ini meninggalkan tanah kelahirannya dalam waktu yang lama.

Banyak di antara mereka berhasil, hal ini terbukti kalau mereka menengok daerah asalnya mereka naik pesawat terbang.

Banyak kisah tentang keberhasilan penjual bakso ini antara lain misalnya ada seorang pemuda yang menggeluti bisnis sederhana. Meski sederhana, namun bisnis ini nyatanya sangat menjanjikan.

Pemuda ini menekuni usaha bakso gorang. Tertulis di papannya 'Baso Goreng Anugerah Sejak Tahun 1976'. Bakso goreng ini berada di sekitar GOR Padjajaran Bandung, Jawa Barat.

Warungnya pun tidak terlalu besar, hanya di ruko kecil. Tapi tak disangka, omzet sehari bisa mencapai sekira Rp20 juta.

Usaha jualan bakso yang pada awalnya hanya berupa gerobak yang didorong atau di warung kecil namun sekarang sudah berkembang pesat dan merambah ke outlet yang modern seperti restoran dan hotel-hotel besar.

Hal ini terjadi karena memang bakso ini rasanya nikmat sesuai dengan lidah orang Indonesia, ditambah lagi dengan Nusantara ini sangat kaya akan bumbu-bumbu rempah yang membuat bakso semakin sedap rasanya.

Makanan bakso juga berkembang sesuai dengan budaya dan perkembangan masyarakat. Dulu bakso itu sederhana penampilannya cuma dicampur dengan mi dan bawang goreng, namun sekarang muncul varian yang beragam tidak hanya dari komposisi bumbunya namun juga bentuknya.

Ada bakso yang di dalamnya ada keju, ada bakso yang besarnya seperti bola golf, ada yang berisi telur puyuh, ada bakso urat, dsb. Penjualnya pun juga beragam tidak hanya didominasi dari daerah Solo dan Malang, namun diberbagai daerah sekarang muncul pedagang bakso.

Industri bakso juga berkembang pesat tidak hanya dari industri rumahan atau industri berskala rumah tangga, namun sekarang berkembang ke industri pabrikan berskala besar yang modern.

Sehingga bakso dewasa ini bisa dijumpai di pasar swalayan dan di mal-mal modern dan di hotel-hotel bintang lima di berbagai kota besar di negeri ini.

Jadi kalau ada keluarga yang ingin mencari menantu, jangan takut memilih pedagang bakso. Namun yang jelas agama mengajarkan bahwa Allah itu tidak melihat manusia dari wajahnya, dari jabatan, atau kedudukannya, tapi dari amal ibadahnya.

Dan penjual atau pengusaha makanan bakso itu amal ibadahnya bagus karena telah bersusah payah menyajikan makanan bakso yang lezat untuk keluarga kita.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini