Penjelajahan, Empati, dan Niat!

Penjelajahan, Empati, dan Niat!
info gambar utama

''1000 tahun kita hidup, maka tak akan tuntas kau menjelajah indahnya pelosok Indonesia,'' demikian kata seorang penjelajah 'bule' asal Spanyol pada saya di Pantai Nembrala, Rote, NTT, tahun 2016 ketika saya menikmati pesonanya.

Kulitnya tak lagi seperti orang Eropa kebanyakan yang benderang, tapi itu bukan soal bagi Andres. 15 tahun hidup menjelajah pantai-pantai di Indonesia, akhirnya ia jatuh cinta dengan ombak Nembrala, ombak terbaik ke-2 di dunia saat ini, setelah Hawaii.

Boleh jadi Andres benar, karena dari 17 ribu pulau dan kepulauan yang tersebar di Indonesia semuanya unik dan memiliki tradisi dan budaya sendiri.

Ibaratnya, jika kita menyeberang dari satu pulau ke pulau lain, maka kita akan menemui dimensi yang berbeda, baik dari sisi bahasa, penyambutan, makanan, dan masih banyak hal unik lainnya.

Sejatinya, saya pun masih memiliki 'utang' pada beberapa Tetua--sebutan kepala adat di wilayah NTT--untuk kembali ke sana, karena jujur saja, perjalanan 54 hari pada 2016 itu sangat kurang, kurang banget, masih banyak yang harus dieksplor secara serius.

Sayangnya, lagi-lagi banyak kendala yang belum memungkinkan utang itu terbayar tuntas. Mulai dari pendemi Covid-19 selama 2 tahun, kendaraan, persiapan fisik, isi dompet, dan yang paling penting restu keluarga.

Jangan dibayangkan menjejalahi ragam pulau di Indonesia tinggal sat-set nyeberang lalu beres, tidak kawan. Banyak hal, mulai dari delay kapal--karena ombak tinggi, cuaca, strategi perhitungan bahan bakar, logistik, tim riset/advance, dst.

Seorang kawan saya, Mario Iroth, yang sudah menjelajahi dunia pun bilang, menjelajah Kepulauan Indonesia itu kompleks, rumit, dan gak mudah.

''Yang pasti perlu perencanaan yang matang, apalagi kalau berjalan sendiri atau tandem. Tapi aku yakin, dengan basic yang kamu punya saat ini, kamu bisa, yang penting niat dan perencanaan,'' seperti itu sarannya.

Kangen dengan mereka seperti foto-foto di atas? Sudah pasti.

Menjelajah ke pelosok Indonesia, kampung pedalaman, kampung adat, dan wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), sejujurnya membuat saya semakin bersyukur dengan apa yang saya punya saat ini.

Di sana, kita bisa mendengar langsung cerita-cerita permasalahan mereka, ketimpangan yang dialami, permasalahan infrastruktur, isu lingkungan, dan kita bisa berbagi ilmu, bahkan mungkin membantu mereka dengan apa yang kita bisa.

Data BPS (2018) menunjukkan masih ada sekitar 13.232 desa yang masih tertinggal di Indonesia.

Sematan sebagai orang 'kota' dengan stereotip segala kebutuhan mudah didapat, tentu berbeda dengan mereka di luar sana. Boro-boro mau ke mal, waterboom, healing dengan internet yang moncer, sepertinya jauh bayangan.

Lain itu, mereka juga mengajarkan kita bagaimana esensi kalimat 'terima kasih'. Kalimat sederhana yang saat ini jarang sekali saya dengar. Padahal, dengan berterima kasih selain kita respek dengan orang lain, itu juga mencerminkan kita respek dengan diri kita sendiri.

Soal kendaraan

Bicara soal kendaraan jelajah di Indonesia--khususnya motor--sepertinya gak kurang. Motor berkarakter adventure, tersebar di diler berbagai jenama di Indonesia--khususnya kota besar. Mulai dari Kawasaki, Honda, Royal Enfield, BMW Motorrad, KTM, atau Yamaha.

Bahkan baru-baru ini produsen motor Honda di Indonesia, Astra Honda Motor (AHM), baru meluncurkan motor matic dengan karakter petualang, ADV 160.

Ini menandakan, para jenama otomotif di Indonesia juga semakin sadar akan kebutuhan berkendara dengan motor karakter adventure bagi kalangan tertentu.

Sehingga pada dasarnya, kendaraan bukan lagi masalah. Hanya saja harus memperhatikan kelengkapan tambahan, perawatan, suku cadang, dll. Karena belum tentu di wilayah yang kita kunjungi semua itu tersedia.

Empati dan niat

Ini yang paling penting. Soalnya, wacana sebagus apapun kalau nggak niat dan setengah-setengah, cuma jadi omong kosong. Sebaliknya, obrolan sederhana di warung kopi tapi disikapi atau direspons secara serius, bisa langsung ngegas.

Kawan saya sering menyindir, ''Lo kan kerja di media yang memberitakan kabar baik tentang Indonesia, informasi kultur dan budaya Indonesia, sejarah pelosok wilayah-wilayah Indonesia, masa nggak mau terjun langsung untuk riset.''

Saya saat itu menjawab, ''Niat mah ada, cuma soal kondisional aja.''

Tapi... belakangan otak saya kembali ke-trigger untuk menerima tantangan mereka. Beberapa kawan yang saya kontak pun menyatakan siap jalan.

''Kapan lo ready, gue siap backup dan nemenin,'' begitu janji mereka.

Hingga pada akhirnya, saya merasa perlu merencanakan ini secara matang dengan niat yang serius. Karena selain bekerja di industri media, berpetualang, saya juga menyenangi aktivitas pengumpulan data, sehingga bisa mengumpulkan data-data secara langsung, dan mendengar--secara langsung juga--permasalahan yang ada di wilayah terpencil.

Lebih eksklusif, lebih konkret, dan tentunya bisa diolah menjadi dokumenter sinematik. Jadi, gak melulu percaya dengan data yang bisa kita temui dengan mudah di laman mbah Google.

Sehingga secara konsep, boleh jadi perjalanan yang direncanakan ini bukan untuk keren-kerenan semata, tapi lebih esensial dan mengedepankan sisi empati.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini