Dipakai untuk Tol Semarang-Demak, ini Penjelasan Fungsi Bambu Sebagai Bahan Konstruksi

Dipakai untuk Tol Semarang-Demak, ini Penjelasan Fungsi Bambu Sebagai Bahan Konstruksi
info gambar utama

Ada berbagai proyek infrastruktur berupa tol yang sedang dibangun di Indonesia saat ini, salah satunya adalah tol Semarang-Demak. Jalur cepat yang dibangun secara terintegrasi dengan tanggul laut tersebut akan memiliki panjang sekitar 26,95 kilometer, dan dibangun dalam dua seksi hasil Kerja Sama Badan Usaha (KSBU) dan Pemerintah.

Lebih detail, seksi pertama untuk ruas Semarang/Kaligawe-Sayung yang memiliki panjang 10,64 kilometer dibangun lewat porsi pemerintah (APBN) dan menelan dana sekitar Rp10 triliun. Sementara itu seksi 2 yang dibangun di ruas Sayung-Demak sepanjang 16,31 kilometer dilakukan dengan porsi Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT. Pembangunan Perumahan Semarang Demak.

Bicara soal pembangunan, ada yang menarik dari proyek tol Semarang-Demak ini. Karena ternyata, salah satu material konstruksi yang dipakai mengandalkan material dari alam yakni bambu.

Bagaimana cara kerja bambu bisa dijadikan material konstruksi jalan, dan seberapa kuat daya tahannya?

Pertama Kalinya, Indonesia Akan Punya Rest Area di Tol Tengah Laut

Matras bambu untuk tanah lunak

Pengujian rangkaian bambu untuk tol Semarang-Demak | Dok. Kementerian PUPR
info gambar

Penjelasan sederhananya, area perbatasan tanggul laut yang menjadi titik lokasi dari tol Semarang-Demak diketahui memiliki karakteristik tanah dengan klasifikasi very soft soil, atau tanah lunak.

Mengutip penjelasan di laman Kementerian PUPR, untuk menghadapi kondisi tersebut akhirnya susunan bambu digunakan sebagai matras yang berguna untuk meningkatkan daya dukung tanah dasar menjadi lebih kuat dan kokoh. Bambu yang dimaksud nantinya akan disusun hingga menjadi setebal 17 lapis.

Bukan hanya itu, nantinya juga akan disertakan penguatan tambahan dengan memasang material pengalir vertikal pra-fabrikasi, atau PVD serta melaksanakan pembebanan menggunakan material pasir laut.

Sudah melakukan uji kelayakan, rancangan konstruksi matras bambu ini diuji dengan 2 cara yaitu uji tarik sistem dan uji lentur. Tujuannya, adalah untuk mengetahui perilaku dan daya tahan bambu yang dirangkai menjadi kesatuan sebagai matras, jika mengalami gaya tarik dalam arah horizontal serta gaya tekan pada arah tegak lurus.

Gambaran mudahnya, yang dimaksud gaya tarik horizontal dan gaya tekan tegak lurus adalah kondisi jika sewaktu-waktu terjadi tekanan pada tanah yang disebabkan oleh kondisi gempa atau tekanan dari air laut.

Meski konsep konstruksi ini sudah lebih dulu dirancang sejak awal proyek tol Semarang-Demak dibuat, namun rancangan serupa akhirnya lebih dulu terealisasi dan berhasil diterapkan pada konstruksi sirkuit untuk gelaran Formula E di Jakarta pada bulan Juni lalu.

Sama seperti karakteristik di jalur tol Semarang-Demak, seperti yang diketahui sirkuit Formula E sendiri dibangun di atas lahan dengan sifat tanah berlumpur. Akhirnya, bambu digunakan dalam konstruksi sebagai penguat atau pengerasan tanah dasar yang kemudian dibangun jalur lintasan di atasnya.

Sejauh Mana Progres Tol Solo-Yogyakarta?

Bukan hal baru di dunia konstruksi

Mungkin masih baru bagi sebagian besar orang yang mempertanyakan daya tahannya, namun ternyata penggunaan bambu sendiri bukan hal baru dalam bidang konstruksi.

Mengutip jurnal penjelasan "Pemanfaatan Bambu Pada Konstruksi Bangunan" karya Ni Komang Ayu Artiningsih, dijelaskan bahwa bambu memiliki sifat dasar kekuatan tinggi, berat volume rendah, sifat konstruksi ringan dan elastis, sehingga tahan terhadap gaya gempa dan mudah diperbaiki jika terjadi kerusakan.

Alasan kerap dipilihnya bambu ketimbang beton untuk struktur pengerasan jalan adalah karena rasio beratnya dinilai lebih baik. Sebagai informasi, adapun kekuatan bambu dalam penggunaan sebagai penguat jalan ditentukan berdasarkan tingkat seratnya. Semakin tinggi kandungan serat pada bambu, maka semakin kuat daya tahan yang dimiliki.

Yang perlu diperhatikan, tentu tidak semua jenis bambu dapat digunakan sebagai material konstruksi. Dari sekitar 1.250 spesies bambu yang ada di dunia, disebutkan kalau setidaknya hanya ada 10 bambu yang memiliki nilai jual karena punya kandungan serat tinggi, dan biasa dijadikan bahan konstruksi.

Beberapa jenis bambu yang dimaksud di antaranya bambu wulung, bambu legi, bambu petung, dan bambu ampel. Mengenal lebih detail mengenai karakternya, berikut keunggulan yang dimiliki bambu sebagai material yang kerap digunakan sebagai bahan konstruksi:

  • Mudah ditanam dan tidak perlu perawatan khusus,
  • Memiliki ketahanan yang luar biasa karena rumpun bambu yang telah dibakar masih dapat tumbuh kembali,
  • Kekuatannya cukup tinggi dengan daya tarik yang dapat disejajarkan dengan baja, dan
  • Punya tekstur elastis dengan ketahanan yang tinggi terhadap angin dan gempa.
Bambu Endemik Indonesia dan Perannya Bagi Kehidupan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini