Alat Musik Calung: Kesenian Bambu yang Jadi Identitas Masyarakat Purbalingga

Alat Musik Calung: Kesenian Bambu yang Jadi Identitas Masyarakat Purbalingga
info gambar utama

Bambu merupakan tanaman yang tumbuh subur di beberapa daerah di Indonesia. Salah satu fungsi bambu adalah dijadikan sebagai alat musik. Musik bambu merupakan bagian dari musik rakyat daerah Purbalingga.

Musik Bambu sering dimainkan dalam berbagai upacara adat atau tradisi, juga dalam acara lainnya. Upacara adat tradisi menggunakan musik bambu dapat dijumpai dalam upacara pertanian, misalnya memanggil hujan, memandai musim tanam, dan musim panen.

Calung banyumasan merupakan suatu jenis kesenian rakyat yang berkembang di Purbalinga khususnya, dan daerah eks Karesidenan Banyumasan pada umumnya. Purbalingga menjadi daerah dengan kesenian yang sangat beragam.

Layaknya angklung di Jawa Barat, calung juga tersebar dan berkembang hampir di setiap kecamatan di Purbalingga. Konon calung berasal dari dua kata yang digabung menjadi satu yakni carung pring wulung (pucuk bambu wulung).

Alunan Angklung Buhun, Pengiring Setia Ritual Penanaman Padi Suku Baduy

“Namun beberapa informan menafsirkan calung berasal dari kata cal dan lung,” ucap Theresiana Ani Larasati dalam Calung: Musik Tradisional Masyarakat Purbalingga Jawa Tengah.

Kata cal merupakan kata dalam bahasa Jawa yakni uncal yang berarti lempar. Diartikan bahwa calung ini suaranya terlempar sehingga terdengar sampai jauh. Adapun lung merupakan kependekan dari walung yaitu nama jenis bambu.

Dengan demikian, jelas Theresiana, calung merupakan jenis alat musik yang dibuat dari bambu wulung, suaranya terlempar jauh sehingga terdengar sampai ke mana-mana. Selain itu ada juga yang menafsirkan calung adalah menari sambil berseru.

Sejarah calung

Calung Banyumasan merupakan satu jenis kesenian rakyat yang berkembang di daerah Karesidenan Banyumas. Karesidenan Banyumasan yang dimaksud merupakan wilayah administratif pemerintah pada abad ke 20.

Pengamat kesenian tradisional menjelaskan perkembangan calung hingga saat ini merupakan bentuk lebih lanjut dari kondisi yang ada sebelumnya. Instrumen calung semula dinamakan sebagai cengklung yaitu sebuah alat musik yang terbuat dari bambu.

Bambu ini dipotong secara utuh atau tidak dipecah dan mempunyai titi laras slendro. Berawal dari alat yang bernama cengklung tersebut kemudian berkembang menjadi angklung, dan selanjutnya berubah menjadi calung.

Pendapat lain diberikan oleh Mas Wendo Setiyono menyatakan bahwa alat musik calung sebenarnya berasal dari musik krumpyung. Kemungkinan karena teknik memainkan alat musik krumpyung sulit, sehingga para seniman menciptakan alat musik calung.

Kesakralan Alunan Suara Alat Musik Lalove khas Sulawesi Tengah

Krumpyung sendiri merupakan alat musik yang mirip dengan angklung dari daerah Jawa Barat. Pada awalnya krumpyung merupakan alat musik yang digunakan untuk menghalau burung di sawah.

Hingga kini pendapat mengenai asal usul calung memang masih menuai perdebatan. Musababnya, calung yang menggunakan bambu sangat sulit ditemukan karena sudah lebih dahulu lapuk dimakan zaman.

Namun sebuah sumber menyebutkan bahwa calung ditemukan oleh seorang tukang kayu yang juga seniman karawitan bernama Ki Nurdaiman sekitar tahun 1870 di daerah Gumelem, Kabupaten Purbalingga.

Berbeda dengan krumpyung, alat musik calung memang terus lestari dan berkembang di daerah Purbalingga. Salah satunya karena alat musik ini mudah dipelajari sehingga bisa terus menyebar ke pelosok tempat.

Upaya pelestarian

Disebut oleh Theresiana, upaya pengembangan dan pemanfaatan kesenian tradisional calung diarahkan dalam kerangka pembentukan karakter anak melalui kecintaannya pada kesenian calung.

Hal ini dilakukan oleh Mas Wendo Setiyono dan Ki Sumitro. Mereka aktif datang ke sekolah-sekolah guna melatih kesenian tradisional calung pada para guru dan siswa. Hampir seluruh sekolah dasar dan pertama di Kabupaten Purbalingga belajar calung.

Tidak hanya di sekolah saja, banyak pula warga masyarakat yang ingin belajar memainkan alat musik calung, hingga datang ke Grup Kesenian Calung Wisanggeni di kantor Dinas Kebudayaan.

5 Alat Musik Indonesia yang Dibuat dari Bambu

Melalui kesenian tradisional calung, masyarakat Purbalingga mengenyam dan merajut mata rantai identitas yang berbasis kehidupan komunitas Banyumasan. Kesenian tradisional ini mampu berperan sebagai media ungkap identitas kebudayaan Banyumas.

“Hal demikian menunjukkan bahwa musik calung telah dirasakan sebagai ‘milik sendiri’ oleh masyarakat di lingkungannya,” paparnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini