Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Temukan Kreatifitas Yogyakarta di Wisata Kerajinan Kasongan

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Temukan Kreatifitas Yogyakarta di Wisata Kerajinan Kasongan
Temukan Kreatifitas Yogyakarta di Wisata Kerajinan Kasongan

Yogyakarta sejak dulu memang dikenal sebagai wilayah istimewa. Bukan hanya karena latar belakang sejarahnya, namun juga kekayaan kreatifitasnya yang tidak pernah henti berdenyut. Seperti yang dirasakan tim Jelajah Indonesia beberapa waktu lalu saat sambang ke Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Tim Jelajah Indonesia berniat untuk mencari inspirasi dari sebuah desa wisata yang kabarnya merupakan sebuah desa tempat berkumpulnya para pengrajin-pengrajin tanah liat. Desa tersebut dinamakan dengan Desa Wisata Kasongan yang terletak di sebelah selatan. Tepatnya di desa Kasongan, Kabupaten Bantul. 

Desa ini cukup mudah dikenali dengan adanya gapura masuk yang terpampang jelas. Saat memasuki desa, sebelah kanan kiri akan langsung terlihat banyak sekali karya-karya kreatif warga desa. Mulai dari vas bunga, furnitur, ataupun aksesoris.

Bisa jadi, desa ini adalah lokasi yang cocok bagi wisatawan yang ingin mencari oleh-oleh berupa kerajinan tangan masyarakat Yogyakarta. Bahkan bila beruntung, wisatawan juga dapat melihat langsung proses pembuatan beberapa kerajinan yang dilakukan oleh seniman lokal. Dikatakan beruntung sebab para seniman tidak setiap saat berada di bengkelnya untuk mengerjakan karya. Terkadang mereka bekerja setiap hari, atau kadang hanya disaat-saat tertentu seperti akhir minggu. 

Baca Juga
Gerabah Kasongan (Foto: Bagus DR/GNFI)
Gerabah Kasongan (Foto: Bagus DR/GNFI)
Patung Gerabah Kasongan (Foto: Bagus DR/GNFI)
Patung Gerabah Kasongan (Foto: Bagus DR/GNFI)

Tim Jelajah Indonesia cukup beruntung dapat menemui dua orang seniman yang sedang bekerja di bengkelnya saat itu. Beliau-beliau sedang mengerjakan sebuah karya dari tanah liat yang dibentuk seperti boneka dengan fungsi sebagai celengan. Adimas dan Diajeng nama boneka tersebut. Keduanya dijual secara sepasang-pasang dan sering dijadikan hadiah kado pernikahan. Istimewanya lagi, harga sepasangnya cukup terjangkau. 

Baca juga: Diajeng dan Dimas, Sepasang Kekasih dari Tanah Liat yang Akan Membuat Anda Giat Berhemat

Di beberapa sudut desa ini juga terdapat seniman batu ataupun keramik. Hanya saja tim Jelajah Indonesia belum sempat mengunjungi, sebab waktu sudah sangat terbatas.

Selain melihat-lihat karya, tim Jelajah Indonesia juga bertanya perihal sejarah dari desa wisata tersebut. Menurut Toyok (seniman celengan) mengatakan bahwa desa kerajinan tersebut sudah ada sejak jaman sebelum Indonesia merdeka. Hanya saja saat itu produk yang dibuat hanya sebatas gerabah kebutuhan-kebutuhan rumah tangga. Seperti kendi ataupun wakul. Berbeda dengan yang saat ini yang lebih banyak berupa kerajinan kreatif.

Celengan Adimas dan Diajeng (Foto: Bagus DR/GNFI)
Celengan Adimas dan Diajeng (Foto: Bagus DR/GNFI)

Bila merujuk pada wikipedia, desa kasongan dikatakan mulai serius digarap sebagai desa wisata adalah mulai era 70an. Pada saat itu seorang seniman bernama Sapto Hudoyo membina para seniman lokal untuk bisa lebih kreatif dan mampu membuat produk yang bernilai komersial. 

Desa Kasongan sekilas memang terlihat kecil, namun di dalamnya tampak memiliki kekayaan yang sangat luar biasa. Kekayaan itu adalah kreatifitas yang terus menerus lahir secara turun temurun. 

*Artikel ini merupakan program dari #JelajahIndonesia, sebuah program GNFI bekerjasama dengan Citilink dan Aerotrans untuk Perjalanan mengangkat kembali Potensi dan Inspirasi Indonesia.

Sumber : GNFI
Sumber Gambar Sampul : Bagus DR / GNFI

#JelajahIndonesia
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Pencerita yang tiada habisnya. Mencari makna untuk cipta karya. Pembelajar yang kerap lapar. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara