Sejarah Hari Ini (22 Mei 2005) - Hari Kepenyairan Kota Tegal

Sejarah Hari Ini (22 Mei 2005) - Hari Kepenyairan Kota Tegal
info gambar utama

Piek Ardijanto Soeprijadi adalah sastrawan angkatan 1966 yang dikenal lewat puisi-puisinya.

Karya puisi pria kelahiran Magetan, Jawa Timur, pada 12 Agustus 1929, seringkali dimuat di berbagai media massa di Indonesia pada masanya.

Dia dijuluki sebagai penyair rakyat karena kepekaannya menangkap kehidupan rakyat kecil yang dalam sajak-sajaknya dituliskan secara teliti dan tragis, tetapi tanpa kesan agitasi.

Karena sifat kebapakan Piek, banyak penulis muda menjalin komunikasi dengannya, baik lewat surat-menyurat atau pun langsung datang ke kediamannya yang berlokasi di gang Marpangat 468, Tegal, Jawa Tengah.

Mereka dipersatukan minat, yaitu membicarakan kesenian, apresiasi sastra, khususnya puisi dan prosa.

Berbagai penghargaan pernah diraih mantan guru Bahasa Indonesia itu, di antaranya Hadiah Sastra dari majalah Sastra (1962) untuk 5 sajaknya, yaitu "Paman-Paman Tani Utun", "Gadis Desa", "Telaga Sarangan", "Perempuan Dina'", dan "Bintang dan Bintang" yang dimuat dalam majalah Sastra tahun 1961 meraih hadiah kedua majalah itu tahun 1962.

Dalam sebuah reuni di tempat wisata Guci, kaki Gunung Slamet, pada 1993, Piek menggagas Komunitas Negeri Poci.

Komunitas itu menjadi wadah untuk para penyair termasuk penyair muda yang semakin sibuk di lingkungan pekerjaan dan jarang berkarya lagi.

Pada pertemuan tersebut Piek dkk mencetuskan ide untuk mengumpulkan puisi mereka yang pernah ditulis dan disisipkan di setiap korespondensi.

Puisi-puisi yang terkumpul lalu dipilah dan dijadikan satu buku antologi berjudul Dari Negeri Poci (DNP).

Penyair yang terlibat mengakui terbitnya antologi DNP merupakan ambisi kecil supaya tidak tersisihkan di dunia kepenyairan.

Tulisan-tulisan Piek Ardijanto Soeprijadi di kediamannya, Jalan Cereme Kota Tegal.
info gambar

Wajar bila Komunitas Negeri Poci mencoba memperlihatkan eksistensi dari para penyair, karena pada 1990-an suasana politik Orde Baru yang sedang tidak kondusif berimbas pada hilangnya ruang apresiasi untuk penyair di koran atau majalah.

Piek terus berkarya sampai pergantian milenium.

Pada 22 Mei 2001, ia wafat di kediamannya, Jalan Cereme, kota Tegal.

Sebagai bentuk penghargaan, Dewan Kesenian Kota Tegal pada 2005 menetapkan 22 Mei - tanggal meninggalnya Piek - sebagai Hari Kepenyairan Kota Tegal.

Ada Jarak
oleh Piek Ardijanto Soeprijadi

berdiri di pinggang bukit meniti garis alit
pertemuan bumi dengan langit
sadar ada jarak antara sini dengan sana
tapi entah berapa jauhnya
mungkinkah kita meraih satu titik di cakrawala

berdiri di pinggang bukit meniti jalan jarum jam
sementara bernapas lepas dalam-dalam
sadar ada jarak antara kini dengan nanti
tapi entah berapa lamanya
mungkinkah kita menangkap satu detik di ujung waktu

berdiri di pinggang bukit kini di sini
berdampingan tersaput sepi
siapa tahu pasti
berapa panjang jarak hati kita
berapa lama tegangan rasa tahan menanti putusnya

Baca Juga:

Referensi: Idwriters.com | Jateng.Tribunnews.com | Haripuisi.com | Ensiklopedia.Kemdikbud.go.id | Horison | Hamzah Muhammad, "Komunitas dari Negeri Poci dan Perpuisian Indonesia"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini