Sejarah Hari Ini (3 Juli 1920) - Technische Hoogeschool, Cikal Bakal Institut Teknologi Bandung

Sejarah Hari Ini (3 Juli 1920) - Technische Hoogeschool, Cikal Bakal Institut Teknologi Bandung
info gambar utama

Technische Hoogeschool te Bandoeng (kerap disingkat TH te Bandoeng, THB, TH, atau THS) adalah perguruan tinggi teknik pertama sekaligus lembaga pendidikan tinggi pertama di Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

THB berdiri di lahan seluas 30 hektar di antara Sungai Cikapundung dan Jalan Dago, Bandung, pada 3 Juli 1920.

Pendirian perguruan tinggi ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang semakin terbatas pada masa kolonial Belanda akibat pecahnya Perang Dunia pertama.

Bangunan THB dirancang Ir. Maclaine Pont dengan gaya Indo-Europeeschen Architectuur Stijl yang memadukan gaya seni arsitektur bangunan tradisional Nusantara dengan keterampilan teknik konstruksi Barat.

Yang menjadi gaya khas adalah atap aula barat dan timur yang menyerupai sayap burung terkembang, Julang Ngapak.

Potongan artikel surat kabar mengenai pembukaan Technische Hoogeschool di Bandung.
info gambar

Seperti yang dilaporkan Bataviaasch Nieuwsblad dalam artikel "De Opening van de Indische Technische Hoogeschool" yang berarti "Pembukaan Sekolah Tinggi Teknik Hindia (Belanda)", acara pembukaan THB dilakukan pada pukul 9 pagi dengan sambutan dari Dewan Direksi, Karel Albert Rudolf Bosscha.

Pada hari itu juga, Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda MR. J.P. Graaf van Limburg Stirum yang turut hadir dalam acara pembukaan meresmikan sekolah tinggi teknik tersebut.

THB merupakan sekolah teknik kedua yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda setelah TH Delft yang hingga kini menjadi perguruan tinggi terbaik di Belanda.

Memiliki afiliasi dengan TH Delft, banyak guru besar TH Delft yang diperbantukan dalam pendirian THB di mana Prof. Ir. Jan Klopper ditunjuk menjadi rektor (Rectormagnificus) yang pertama.

Jurusan yang pertama kali dibuka di THB adalah jurusan sipil dengan jumlah mahasiswa sebanyak 28 orang, 22 orang Eropa (di antaranya 2 wanita), 2 orang pribumi, dan 4 orang Tionghoa.

Technische Hoogeschool pada tahun 1920 dan 1922.
info gambar

Pada 18 Oktober 1924, THB yang semulanya swasta kemudian dialihkan menjadi milik pemerintah.

Dari THB pula kota Bandung menjadi pusat kegiatan ilmu pengetahuan alam di Indonesia.

Genap enam tahun atau pada 3 Juli 1926, THB mencatatkan sejarah.

Pada tanggal tersebut dari 22 orang kandidat insinyur yang lulus berjumlah 19 orang dengan 4 orang di antaranya adalah pribumi.

Saat itulah untuk pertama kalinya THB menghasilkan insinyur orang Indonesia.

Salah satu dari keempat orang itu ialah Ir. R Sukarno yang kelak menjadi proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia.

Sukarno ketika masih menjadi mahasiswa di THB.
info gambar

Pada masa pendudukan Jepang, THB terpaksa ditutup karena guru besarnya wajib masuk milisi.

Kampus pun sempat dijadikan markas Jepang.

Atas desakan beberapa guru besar Belanda dan sesuai keputusan militer Jepang, THB dibuka dengan bentuk institut of tropical science dengan nama Bandung Kogyo Daigaku pada 1944.

Setelah Indonesia merdeka (1945), Bandung Kogyo Daigaku berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung.

Setelah melewati perang revolusi dan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia, didorong oleh gagasan dan keyakinan yang dilandasi semangat perjuangan proklamasi kemerdekaan serta wawasan ke masa depan, pemerintah meresmikan nama baru bagi sekolah tinggi teknik ini, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2 Maret 1959.

Sampai usianya yang ke-100 tahun pada 3 Juli 2020, ITB tercatat sudah menghasilkan 120 ribu alumni yang berperan penting dalam pembangunan bangsa.

Kini ITB memiliki 12 fakultas/sekolah, 128 program studi, dan 111 Kelompok Keahlian, memiliki 25 Pusat, 7 Pusat Penelitian, dan 6 Pusat Unggulan Iptek (PUI).

Lokasinya selain di kampus Ganesa Bandung juga terletak di Jatinangor dan Cirebon.

ITB juga menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik nasional dan pelopor kemajuan sains, teknologi, dan seni di Indonesia.

Baca Juga:


Referensi: ITB.ac.id | Bataviaasch Nieuwsblad | Pusat Dokumentasi Arsitektur, "Tegang Bentang" | Sherly A. Suherman, "Made In Bandung: Kreatif, Inovatif, dan Imajinatif!" | Febriana, Teguh Amor, "Telusur Bandung" |

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini