Prabu Siliwangi dan Sejarah Berseminya Islam di Tatar Sunda

Prabu Siliwangi dan Sejarah Berseminya Islam di Tatar Sunda
info gambar utama

Pakuan Pajajaran menjadi kerajaan yang 500 tahun mempertahankan ajaran Hindu di tataran Sunda. Hingga akhirnya pada masa Prabu Siliwangi atau yang bernama asli Prabu Pamanah Rasa, Pajajaran menjadi kerajaan Hindu-Budha terbesar di Jawa Barat.

Namun kuatnya pengaruh Prabu Siliwangi di tanah Sunda tetap saja tidak menjamin ajaran Hindu akan bertahan lama. Islam masuk dan bersatu dengan ke hidupan masyarakat mengganti kepercayaan Sang Hyang sehingga masyarakat Sunda saat ini identik dengan Islam.

Tiar Anwar Bachtiar dalam artikel nya, "Islamisasi Tatar Sunda: Perspektif Sejarah dan Kebudayaan", menulis jika membicarakan Islam di Tatar Sunda, wilayah yang dimaksud adalah wilayah yang saat ini menjadi Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Mengutip Nina Herlina dkk dalam "Sejarah Tatar Sunda", Tiar menyebut orang Islam pertama di wilayah Sunda adalah Haji Purwa atau Bratalegawa. Ia merupakan putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora, penguasa Kerajaan Galuh kala itu.

Ia memilih menjadi saudagar yang berdagang lintas negara. Melalui pernikahan dengan seorang Muslimah, ia lalu menjadi Muslim dan digelari Haji Baharudin.

Dalam buku "Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam" di Indonesia karya Hasan Muarif Ambary disebutkan, terdapat sumber naskah Cirebon misalnya Babad Cirebon yang mengungkapkan hal tersebut.

Naskah itu diteliti dan diterbitkan Rinkes dan JC Brandes. Di Jawa Barat, dalam penelitian Rinkes dan JC Brandes soal Babad Cirebon disebutkan, terdapat dua tempat penting yang menjadi pusat penyebaran Islam ke Jawa Barat.

Kedua wilayah itu adalah Kuro (Karawang) dan Gunung Jati (Pasambangan), Cirebon. Jika dirunut secara kronologis, daerah Kuro berfungsi sebagai pusat penyebaran Islam lebih awal jika dibandingkan dengan wilayah Gunung Jati.

Prabu Siliwangi dan Pesantren Kuro

Kota-kota pelabuhan, seperti Cirebon, Banten, dan Sunda Kalapa, menjadi bagian penting masuknya Islam pada masa Kerajaan Sunda. Ketiganya menjadi akses interaksi perdagangan dengan berbagai negara, termasuk Cina, Arab, dan India.

Selain itu, penyebaran Islam di Jawa Barat tidak lepas dari pengaruh berdirinya Pesantren Kuro di Karawang pada 1418. Syekh Quro, atau Syekh Hasanuddin sendiri berasal dari Kamboja.

Mula-mula maksud kedatangannya ke Jawa untuk berdakwah di Jawa Timur, namun ketika singgah di pelabuhan Karawang, Syekh urung meneruskan perjalanannya ke timur. Ia menikah dengan seorang gadis Karawang dan membangun pesantren di Quro.

Seperti juga Sunda Kalapa, ketika itu Karawang termasuk wilayah Kerajaan Pajajaran yang dipimpin Prabu Siliwangi. Ketika sang prabu mengunjungi pesantren Quro, ia jatuh hati pada seorang santri bernama Subang Larang.

Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) karya Pangeran Arya Cerbon yang ditulis pada tahun 1720. Nama asli dari Nyai Subang Larang adalah Kubang Kencana Ningrum.

Ia merupakan anak dari Ki Gedeng Tapa yang lahir pada tahun 1404. Ki Gedeng sendiri adalah seorang syahbandar atau pimpinan pelabuhan Muara Jati di pantai Utara Jawa Barat. Pelabuhan ini termasuk ke dalam kekuasaan kerajaan kecil Singapura.

Sebelum memperistri Subang Larang, Prabu Siliwangi harus memenuhi beberapa syarat yang diberikan oleh guru sang calon istri, yakni Syaikh Hasanuddin dari Pondok Quro Pura Dalem Karawang.

Pertama, Subang Larang harus menjadi permaisuri saat Prabu Siliwangi menduduki takhta raja. Kedua, ia diperbolehkan tetap menganut agama Islam sebagai kepercayaannya karena Subang Larang merupakan penganut Islam yang taat dan murid kesayangan Syaikh Hasanuddin.

Dari perkawinan ini melahirkan tiga anak, Pangeran Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Pangeran Kean Santang. Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang sempat berguru pada Ki Gendeng Jumajan Jati.

Menelusuri awal penyebaran Islam di tatar Sunda, (1418-1527), Ridwan menyebutkan sejumlah tokoh penyebarnya, seperti Syekh Quro, Kian Santang, Pangeran Syarif Lubang Buaya, Pangeran Papak, Dato Tanjung Kait, Kumpo Datuk Depok, Dato Tonggara, Dato Ibrahim Condet, dan Dato Biru Rawabangke.

Penyebaran Islam di Tatar Sunda

Pola penyebaran Islam di Tanah Sunda selaras dengan Islamisasi yang berlaku di Jawa secara keseluruhan. Pendekatan yang digunakan ialah cara-cara damai dan persuasif.

Kebudayaan dan keyakinan pra-Islam, seperti Sunda Wiwitan, dikikis secara perlahan. Dan, tanpa ada faktor pemaksaan.

Mengutip, Dadan Wildan dalam “Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda” membuktikan, Islamisasi yang gencar di Tanah Pasundan ketika itu, tidak memaksakan komunitas Baduy Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Mereka tetap bertahan dengan ajaran warisan leluhurnya, yakni Sunda Wiwitan.

Selain itu sikap dan karakter keterbukaan yang ditunjukkan oleh masyarakat Jawa pada umumnya, pada dasarnya dilatarbelakangi oleh watak dasar mereka yang lentur terhadap agama luar. Meski animisme telah mengakar kuat sepanjang peradaban nusantara, hal itu tidak membuat mereka antipati terhadap keyakinan baru.

Puncak keberhasilan dakwah Islam di Jawa, khususnya Tatar Sunda adalah pada masa Wali Songo. Di Tatar Sunda, anggota Wali Songo yang menjadi penyebar Islam tersohor, bahkan sampai berhasil mendirikan kerajaan Islam di Cirebon dan Banten adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Ibu Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Muda'im) yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Nyai Subang Larang. Sementara ayahnya adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar yang cukup terkenal bagi kalangan sufi di tanah air.

Sunan Gunung Djati adalah seorang ulama tassawuf, yang mana para penyebar Islam yang beraliran tassawuf selalu mengedepankan metode kultural sebagai langkah awal memulai dakwah Islam.

Mereka melepaskan masyarakat dari hukum kasta yang di berlakukan pada periode Pra Islam yang cenderung elitis dan menguntungkan satu kasta dengan menindas kasta yang terbawah (dalam konteks Jawa dan Sunda).

Beliau juga mampu masuk kepada lapisan masyarakat bawah yang masih pekat terhadap kepercayaan yang dulu lalu. Kemudian Ia mencari apa yang dibutuhkan, kegemaran, kebiasaan masyarakat, dan apa problem yang terjadi di masyarakat untuk kemudian di beri solusi (tentunya berdasarkan kepada Alquran, Sunnah, dan hadis-hadis).

Dari sini pun kita dapat mengetahui bahwa Islam di terima dengan baik oleh masyarakat Sunda, dan Islam disebarkan secara damai. Karena pada dasarnya Sunan Gunung Djati menggunakan metode yang diterapkan oleh baginda Rasullah SAW.

Tuntunan Rasul bahwa dalam berdakwah harus dibina atas empat dasar pokok, yaitu al-huluj balaghah (alasan yang jitu), al-asalibul hakimah (suasana kata yang bijaksana dan penuh hikmah), al-adabus samiyah (sopan santun yang mulia), dan as-siyasatul hakimah (siasat yang mulia), tidak hanya Sunan Gunung Djati, semua Wali pun menggunakan metode yang sama.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini