Cerita Malioboro yang Awalnya Dikuasai Pedagang Tionghoa

Cerita Malioboro yang Awalnya Dikuasai Pedagang Tionghoa
info gambar utama

Beberapa hari ini kuliner pedagang kaki lima (PKL) di Malioboro, Yogyakarta, menjadi pergunjingan warganet. Bukan karena rasanya yang enak tapi harganya yang dianggap tidak masuk akal.

Hal ini berawal dari video seorang perempuan mengeluh setelah makan pecel lele di warung pinggir jalan di wilayah Malioboro. Perempuan bernama Aulia Azzahra ini mengunggah video tersebut di media sosial, TikTok.

Ia tampak kaget saat mengetahui harga yang harus dikeluarkan untuk makan satu porsi pece lele yang dirasa cukup mahal. Menurutnya harga makanan di sana tak sesuai dengan apa yang kerap dibicarakan oleh orang-orang Yogyakarta.

“Kita kenal Yogyakarta itu harga makanannya murah-murah, tetapi ternyata, terlepas ini tempat wisata atau kota wisata daerah turis, menurut saya rada gimana ya,” kata Aulia yang dikutip dari Liputan6, Jum'at (27/5/2021).

Ia mengungkapan, harga seporsi pecel lele di pinggir jalan Malioboro. Satu ekor ikan lele dihargai sebesar Rp20.000, belum termasuk nasi putih seharga Rp7.000. Selain itu, yang paling disorot adalah harga lalapan dan sambal yang dijual secara terpisah dengan harga Rp10.000.

Baca juga Pemuda Ini Hadirkan Cara Baru Menikmati Jl. Malioboro

Sontak, hal ini mendapat reaksi dari para warganet, banyak yang menceritakan pengalamnya seperti, akun @JWilmartin. Menurutnya makan di Jogja sudah sangatlah mahal sejak beberapa tahun lalu.

Tahun 2014 lalu, dirinya sempat menyantap nasi gudeg di pinggiran jalan Malioboro. Dia pun kaget saat membayar, harga dua porsi nasi itu ditaksir mencapai Rp85.000. Menurutnya harga itu sangat tak wajar.

"Pas mau bayar, taunya harga gudeg untuk dua porsi itu Rp85.000. Seketika badan gue kaya kena stroke ringan. Di tahun 2014 makan gudeg untuk dua orang dengan harga Rp85.000 itu berasa makan gudeg di Ritz Carlton," cuitnya.

Hal senada diutarakan @ikramarki yang menilai harga makanan di Malioboro sangat tak masuk akal. Bahkan dia menyebut lebih baik wisatawan memilih daerah kulineran selain Malioboro.

"Tips buat wisatawan, kalo mau makan yang beneran murah di jogja, jangan makan di Malioboro. di pinggir jalan mana kek; Seturan, Concat, Nologaten, Jalan Solo, atau di mana pokoknya jangan di Malioboro," katanya.

Sejarah Malioboro yang ramai karena pedagang Tionghoa

Malioboro memang telah menjadi ikon penting dalam roda perekonomian masyarakat Jogja. Selain dikenal sebagai pusat berburu cinderamata, tempat ini juga tak lepas dari sejarah panjang perkembangan Kota Jogja dari masa ke masa.

Bahkan, tempat wisata yang satu ini seakan mewakili wajah Jogja di mata domestik maupun mancanegara. Malioboro merupakan suatu kawasan yang merupakan gabungan dari tiga jalan yaitu Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, dan Jalan Margo Mulyo.

Kawasan yang legendaris tersebut membentang dari Tugu Jogja sepanjang 2,5 kilometer hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Keberadaanya yang tepat di titik 0 kilometer Kota Jogja ini membuat wisatawan sangat mudah untuk mencapainya.

Pada awalnya kawasan ini merupakan jalan yang sepi, hanya dipenuhi pohon asam di bagian kiri dan kanan jalan. Jalan tersebut hanya digunakan ketika seseorang hendak menuju ke Keraton Yogyakarta.

Keadaan pun berubah ketika warga Tionghoa datang di bumi Jogja. Konon, warga Tionghoa tersebut tidak diperkenankan berdagang di wilayah Kotagede.

Baca juga Jalan Ikonik Jogja Ini Bersiap Menjadi Kawasan Bebas Motor dan Mobil

Saat itu memang wilayah Kotagede sedang berkembang secara pesat. Hal ini karena menjadi pusat pemerintahan dari Kerajaan Mataram Islam.

Pindahnya warga Tionghoa ke kawasan Malioboro kala itu ternyata memberikan berkah tersendiri. Kawasan yang mulanya sepi, diubah menjadi kawasan bisnis yang mulai ramai dihiasi oleh pertokoan.

Berbekal bakat bisnis yang dimiliki etnis Tionghoa serta wilayah yang strategis, menjadikan kawasan ini berkembang dengan pesat. Tak heran, jika hingga kini masih banyak ditemui warga Tionghoa yang bermukim di sekitar Malioboro.

Seperti di kawasan Kampung Ketandan, masih banyak terdapat rumah bertingkat dengan arsitektur khas Tionghoa tempo dulu. Rumah-rumah di Jalan Ketandan tersebut kini banyak yang menjadi toko yang menjual sandal. Banyak juga rumah-rumah yang dibiarkan kosong tidak dihuni.

"Dulu kakek saya jualan sembako di sini. Tapi sekarang sudah tidak laku. Warga di sini (Kampung Ketandan) sekarang beralih banyak jual emas," ujar Enci, salah satu warga Jalan Ketandan, mengutip Merdeka.

Sri Sultan Hamengku Buwono II sendiri yang meminta orang Tionghoa menetap di tanah yang terletak di utara pasar Beringharjo. Sultan saat itu berharap aktivitas pasar terdorong oleh perdagangan mereka.

Saat itu para etnis Tionghoa membuka pasar sembako tetapi kemudian mereka beralih menjual emas. Sejak itu banyak warga China di kampung itu yang menjual emas.

Orang-orang Tionghoa memang menjadikan Malioboro sebagai kanal bisnisnya, sehingga kawasan perdagangan yang awalnya berpusat di Beringharjo dan Pecinan, akhirnya meluas ke arah utara hingga stasiun Tugu.

Sekarang pasar ini sangat ramai dan mewarnai Jalan Malioboro sebagai pusat belanja yang terkenal murah dan banyak ragamnya. Mulai dari pakaian batik, pernak pernik, sepatu, tas kulit, serta barang kerajinan dan seni.

Belum ke Yogyakarta kalau belum ke Malioboro

Ketika berkunjung ke Malioboro, wisatawan akan dimanjakan dengan banyaknya para pedagang yang menjajakan berbagai cinderamata khas Jogja. Tempat ini memang sangat cocok untuk wisatawan penggila belanja.

Wisatawan dapat mendapatkan suvenir mulai dari blangkon, gantungan kunci, miniatur andong, batik, kaos khas Jogja, pernak pernik, bahkan perhiasan seperti perak, emas, hingga permata.

Selain itu banyak pedagang yang menjajakan camilan khas Jogja seperti yangko, bakpia pathok, geplak, dan masih banyak lagi. Namun, jangan sampai gelap mata ketika berbelanja di Malioboro.

Karena memang tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah. Namun berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan.

Baca jugaRamainya Jalan Malioboro Saat Ramadan Nampak Berbeda Dari Biasanya

Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi wisatawan. Karena itulah seni tawar menawar menjadi hal yang perlu dilakukan. Cara ini akan mempertemukan budaya yang berbeda dan terjadi komunikasi yang unik dengan logat bahasa berbeda. Jika beruntung, harganya bisa berkurang sepertiga atau bahkan separuhnya.

Selain itu Maliboro adalah potret harmonisasi jual beli. Di sepanjang jalan terdapat toko-toko yang menjual baju, kaos, dan batik. Padahal di sepanjang trotoar jalan, para pedagang kaki lima juga menjual barang yang nyaris sama. Meski demikian tidak pernah saling bermusuhan.

"Coba lihat itu toko batik, depannya PKL juga jual batik dengan harga lebih murah. Tapi di sini itu tidak saling ganggu. Rezeki milik masing-masing tidak mungkin ketukar. Di sini semuanya harmonis. Tidak pandang Jawa atau bukan. Selama bagus, murah dan cocok orang bakal beli," ujar Enci.

Karena inilah Malioboro menjadi salah satu lokasi wajib untuk dikunjungi jika berkunjung ke Yogyakarta. Seperti halnya saat ke Paris, haruslah berkunjung ke Menara Eiffel.

Pendek kata, belum ke Yogyakarta kalau belum ke Mailoboro.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini