Balas Budi Kebaikan Hidup Melalui Sekolah Relawan

Balas Budi Kebaikan Hidup Melalui Sekolah Relawan
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Sejak zaman dahulu, aksi kerelawanan sudah mengakar dalam tradisi kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Menurut Charity Aid Foundation dalam Laporan Tahunan World Giving Index edisi ke-10, Indonesia masuk dalam daftar 10 negara paling dermawan di dunia selama 10 tahun terakhir. Lebih dari itu, Indonesia pertama kalinya menduduki peringkat pertama dari 146 negara pada 2019 lalu.

Banyak masyarakat Indonesia tertarik berkontribusi secara sukarela berupa dana, tenaga, sarana, ataupun bentuk lainnya sesuai kemampuan masing-masing Umumnya, para relawan hadir usai meluasnya pembahasan tentang isu terkini di masyarakat atau media massa.

Tsunami Aceh 2004—sebuah tragedi yang merenggut ratusan ribu korban—menjadi momentum menggemanya dunia kerelawanan. Sejak saat itu, lembaga kerelawanan kian menjamur. Masyarakat Indonesia bergerak bersama mendedikasikan diri atas nama solidaritas kemanusiaan (genuine solidarity) dan semangat kerelawanan (voluntarism).

Namun, mayoritas lembaga hanya melibatkan relawan untuk kegiatan insidental, menanggulangi masalah akibat bencana atau konflik. Lembaga tersebut belum menjangkau kemampuan mengatasi isu sosial secara lebih strategis.

Kisah Kerelawanan Bayu Gawtama

Bayu Gawtama saat aksi program Sekolah Relawan © Instagram.com/bayugawtama
info gambar

Beranjak dari hal tersebut, sosok penggiat relawan sejak 1998, yakni Bayu Gawtama atau akrab dengan sapaan Gaw, tergerak menginisiasi perubahan ke arah lebih baik. Tak sekadar semangat, baginya, para relawan perlu memegang kapasitas dan keterampilan mumpuni saat terjun ke masyarakat.

Dahulu, Gaw hidup serba kekurangan. Ia bersama Ibunya berjibaku mencari uang untuk biaya penghidupan dan pendidikan. Segala pekerjaan ia lakoni, mulai dari pengamen, tukang semir sepatu, pencuci piring, hingga penjual nasi uduk dan gorengan. Tempaan tersebut berhasil membuatnya lebih mandiri dan tangguh.

Mengenal Suku Laut, Pelestari Kehidupan Bahari yang Terlupakan

Hingga dewasa, Gaw selalu bersyukur karena telah menerima banyak bantuan dari orang terdekatnya. Maka, ia berjanji dan bertekad akan membalas budi atas baiknya kehidupan. Kegiatan membantu sesama pun seolah menjadi bagian hidupnya.

Saat menjadi relawan, ia menemukan banyak hal berharga yang memperkaya batinnya. Tak ingin melupakannya, ia tuangkan hal tersebut ke dalam tulisan inspiratif di situs blog bayugawtama.com. Lalu, ia pun menerbitkan sembilan buku, di antaranya Tangan Allah di Seutas Tali (2008), Berguru Pada Kehidupan (2009), dan Oase Hati (2010).

Gaw optimis kelak 10 hingga 20 tahun lagi, banyak pemimpin lahir dari relawan yang melayani masyarakat sepenuh hati. Pasalnya, pemimpin dengan sifat kerelawanan mampu mendengarkan, memahami, memedulikan, dan membantu masyarakat. Imbasnya, pembentukan kebijakan akan lebih pro pada kesejahteraan masyarakat.

Sekolah Relawan

Anggota Sekolah Relawan © Instagram.com/glencachysaraofficial
info gambar

Tepat pada 13 Januari 2013, Gaw bersama rekannya Dony Aryanto dan Roel Mustafa mendirikan Sekolah Relawan sebagai lembaga sosial dengan fokus program edukasi kerelawanan, meningkatkan potensi relawan dalam aspek pengetahuan dan pelatihan seputar dunia kerelawanan. Dengan visi relawan sebagai pemimpin bangsa, lembaga ini ingin mencetak sosok relawan sigap, cepat, dan tuntas.

Perjalanan Sekolah Relawan bermula dari situs blog yang membahas wawasan dan kegiatan mengenai budaya kerelawanan Indonesia berdasarkan pengalaman pendirinya. Tak menyangka, blognya mampu menarik perhatian publik. Lahirnya lembaga ini berbuah baik, masyarakat memberikan tanggapan dan dukungan positif.

Anggotanya berasal dari latar berbeda, mulai dari mahasiswa, karyawan, hingga guru. Bahkan, mereka rela mengambil cuti kerja dan menggunakan dana pribadi untuk menggelar beragam kegiatan sosial.

Mengenal Sudharnoto, Pencipta Lagu Garuda Pancasila

Menginjak tahun ketiga, para pendirinya termotivasi meresmikan Sekolah Relawan menjadi yayasan sosial kemanusiaan yang legal. Bersamaan pula, hadir dukungan program lainnya yang memperkuat pilar utama aksi nyata kerelawanan, terdiri dari program sosial kemanusiaan, pemberdayaan masyarakat, dan advokasi.

Sosial kemanusiaan, menjalankan program sosial berkelanjutan, seperti Bantu Bencana, tanggapan aduan bencana pada masa darurat dan pemulihan; Sedekah Air, bantuan air di wilayah terdampak kekeringan; Ketuk Berkah, paket kebutuhan pangan sehari-hari untuk keluarga fakir, miskin, yatim dan dhuafa; Free Food Car, makan gratis bagi fakir, miskin, yatim, dan dhuafa yang tersedia di dalam mobil; FoodBOX, berbagi makanan dan minuman siap santap dalam showcase di tempat umum; dan masih banyak lainnya.

Pemberdayaan masyarakat, mempersiapkan masyarakat untuk mengembangkan potensi melalui berbagai kegiatan, misalnya Naik Pangkat, meningkatkan taraf hidup keluarga dhuafa dengan bantuan modal usaha kecil; Yatim Bright, pemenuhan kebutuhan dan beasiswa bagi anak-anak yatim, piatu, dhuafa; dan sebagainya.

Advokasi, menyediakan layanan konsultasi bagi pemerintah, lembaga, atau masyarakat jika membutuhkan informasi dan saran seputar kebijakan dalam isu sosial.

Hingga Juni 2021, Sekolah Relawan tercatat telah menjalankan 13.536 aksi program beserta 7.652 relawan menerima edukasi dan 948.421 orang menerima manfaat. Jangkauan Sekolah Relawan yang didukung jejaring komunitas kebaikan tersebar di 34 wilayah Indonesia dan 4 negara luar negeri, yaitu Turki, Yaman, Myanmar, dan Afrika Selatan.

Sekolah Relawan membuka ruang kesempatan bagi berbagai kalangan yang ingin bergabung mengubah niat baik menjadi aksi baik di sekolahrelawan.org. Selain itu, Kawan yang ingin berdonasi bisa melalui rekening resmi, mitra kerja sama (situs niaga elektronik dan urun dana kitabisa.com), atau Graha Sekolah Relawan berlokasi di Perumnas Depok Utara, Jalan Sawi No. 139, Beji, Depok, Jawa Barat.

Menyoroti Fakta Migrasi Paus di Perairan Indonesia

Warung Makan Rakyat

Warung Makan Rakyat © Wartaekonomi.co.id
info gambar

Di tengah masa pandemi COVID-19, Sekolah Relawan melalui Warung Makan Rakyat menyediakan makanan siap saji secara gratis untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat prasejahtera Kota Depok. Warung ini buka selama 24 jam dalam sepekan di Perumnas Depok Utara, Beji, Depok.

Setiap hariya, Sekolah Relawan membagikan 1200 paket makanan siap saji ke beberapa titik, seperti Warung Makan Rakyat, Panti, dan Wisma Atlet. Warung ini merupakan usaha "dari umat untuk umat" sehingga para dermawan boleh menyisihkan rezekinya.*

Referensi: Sekolah Relawan | Dinas Sosial Depok | Whiteboard Journal | Kompas | Komunita

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini