Peran Mantri Kesehatan Sukseskan Vaksinasi pada Masa Kolonial

Peran Mantri Kesehatan Sukseskan Vaksinasi pada Masa Kolonial
info gambar utama

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, penduduk di Kepulauan Nusantara pernah berhadapan dengan penyakit cacar yang menyebar pada sejumlah daerah perdagangan di Pulau Jawa. Sebenarnya, kasus penyakit cacar di Jawa telah ditemukan pada awal abad 17, tapi kemudian mejadi penyakit epidemi dan endemi yang banyak menyebabkan kematian di Jawa sampai abad 20.

Menurut Boomgaard, pada tahun 1781 diperkirakan dari 100 penduduk Jawa yang terserang penyakit cacar, 20 di antaranya meninggal dunia. Sementara itu, pada awal abad ke-19, pada tingkat umur bayi dari 1.019 bayi yang dilahirkan di Jawa, 102 diantaranya meninggal disebabkan oleh cacar.

Ada catatan kalkulasi bahwa penyakit cacar di Jawa pada waktu itu menyebabkan tingginya angka kematian anak, terutama di bawah usia 14 yang mencapai 10 persen atau 30 persen.

Menurut sejarah, penyakit cacar masuk wilayah Nusantara pada masa kerajaan Hindu-Buddha. Kala itu, cacar masuk melewati lalu lintas perdagangan yang sedang ramai-ramainya. Namun menurut Boomgaard, orang Eropa bisa jadi yang mempercepat penyebaran cacar ke Nusantara melalui kegiatan perniagaan antar pulau. Salah satu sumber pembawanya adalah para budak yang diperjualbelikan di Asia Selatan dan Tenggara.

Catatan tertua Eropa menyebutkan, bahwa cacar telah menyerang Ternate di Maluku Utara pada 1558 dan Ambon di Maluku Tengah pada 1564. Kemudian menyebar ke Filipina pada 1574 dan 1591. Sementara orang Belanda yang pertama kali mencatatnya di Indonesia, pada 1618.

Tapi pada saat itu, masyarakat masih menganggap cacar bukan penyakit mematikan. Penduduk Nusantara malah menyakininya sebagai kutukan sekaligus menganggap cacar disebarkan oleh roh halus.

Akhirnya, perlahan-lahan cacar mulai menyebar ke Aceh, Bali, Batavia, dan Sulawesi. Pemberantasan wabah ini pada awalnya belum begitu diseriusi oleh Belanda. Buktinya, enam periode pemberantasan cacar sejak Gubernur Jenderal Hindia Belanda Pieter Gerardus van Overstraten (1796-1801), hingga Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen (1819-1926) tak ada yang maksimal.

Pageblug Jawa 1910-1926, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Covid19

Padahal pihak Belanda sudah mempekerjakan dokter untuk mengobati penyakit cacar. Namun, kaum Bumiputra tampak menyangsikan usahanya. Imbasnya, banyak kaum Bumiputra yang berobat ke dukun, lantas mati. Disamping itu, keteledoran dokter Belanda yang sering kali memberi obat cacar tanpa memperhatikan tanggal kadaluwarsa jadi petaka lainya.

"Buruknya pelayanan kesehatan pada abad ke 19 selain dikarenakan tidak pahamnya pemerintah kolonial mengenai karakteristik penyakit tropis, terbatasnya teknologi kedokteran, juga disebabkan oleh minimnya dana yang dianggarkan," terang I Gede Wayan Wisnuwardana, sejarawan IKIP PGRI Bali.

Dokter asal Inggris, Jhon Crawfrud, yang tiba di Jawa pada 1811 geleng-geleng kepala lantaran kedatangannya disambut wabah cacar. Saat itu memang ilmu medis belum berkembang, serta jumlah dokter dan tenaga kesehatan yang belum melimpah. Sebelum vaksin ditemukan, para dokter dan tenaga medis melakukan variolasi. Cara ini menjadi langkah medis pertama untuk pencegahan dan penanganan cacar.

Variolasi adalah metode yang mengebalkan seseorang dari penyakit variola dengan menggunakan bahan dari pasien yang terkena variola. Kemudian mereka akan menginfeksi pasien yang terkena virus cacar berkadar ringan. Diyakini, tubuh pasien yang terpapar cacar ringan akan memunculkan antibodi yang menghindarkan penyakit cacar parah.

"Percobaan variolasi pertama ini mendapatkan hasil yang baik, sampai tahun 1781, dr Steege telah melakukan variolasi kepada 100 penderita cacar di Batavia. Namun, tindakan ini juga berisiko tinggi hingga mengakibatkan seorang anak penderita cacar meninggal dunia," jelas Baha'udin dalam Dari Mantri hingga Dokter Jawa.

Meski begitu, wabah cacar tidak lantas hilang. Karena metode variola juga memiliki berisiko besar. Dalam prosesnya, tidak sedikit pasien yang meninggal dunia lantaran daya tahan tubuh yang melemah.

Pertempuran vaksin melawan cacar dan hoaks

Barulah pada awal abad ke-19, masyarakat Hindia Belanda merasakan vaksin. Vaksin cacar ini dibuat oleh Edward Janner, seorang dokter dari Berkeley, Inggris pada 1796. Vaksin ini ternyata ditemukan secara tidak sengaja.

Saat itu, dirinya memperhatikan penduduk Berkeley yang mayoritas bekerja sebagai peternak. Tangan dan lengan para pemerah susu muncul lesi akibat terinfeksi cacar sapi. Namun, mereka yang pernah terinfesi cacar sapi ternyata kebal terhadap infeksi itu.

Vaksin cacar pertama kali tiba dengan selamat di Batavia pada bulan Juni 1804, dengan menggunakan Kapal Elisabeth dari Pulau Isle de France (timur Madagaskar). Batavia saat itu sedang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, setelah Inggris mengambil alih willayah jajahan Belanda, termasuk Hindia Belanda.

Setelah sampai ke Batavia, pada tahun yang sama vaksin menjangkau Surabaya, Semarang, Jepara, Surakarta, dan Yogyakarta. Pada pertengahan abad ke-19, berhasil dilakukan pengiriman vaksin cacar langsung dari Belanda, yaitu dengan menyimpan vaksin cacar cair melalui pipa kapiler.

"Vaksin cacar yang dikirim menggunakan pipa kapiler ini setelah tiba di Batavia ternyata masih aktif. Hal ini kemudian tercatat sebagai pengiriman vaksin cacar pertama yang langsung dari Eropa," jelas Baha'udin.

Upaya vaksinasi di Jawa pertama kali dilakukan pada tahun 1804. Namun upaya pertama ini mula-mula hanya dilakukan kepada orang-orang pribumi yang sehari-hari berhubungan dengan orang Eropa, yaitu para pekerja pribumi yang bekerja di perkebunan orang Eropa. Juga para pejabat lokal, terutama para keluarga pejabat Bupati.

Kemudian vaksinasi besar-besaran dilakukan pada masa pemerintahan Raffles, dengan jalan memperluas daerah operasi di luar daerah Semarang, Surabaya, dan Batavia, yang sebelumnya menjadi pusat kegiatan ini. Perluasan vaksin ini meliputi daerah Jepara, Surakarta, Yogyakarta, Priangan, dan Bogor.

Menilik Progres Vaksinasi Covid-19 di Indonesia, Sudah Sejauh Mana? 

Pada tahun 1812 ketika melakukan inspeksi di beberapa wilayah Jawa Timur, W Hunter, superintendent di Surabaya, telah menemukan aktivitas vaksinasi cacar yang dilakukan di Gresik, Pasuruan, Bangil, Probolinggo, Besuki, dan Banyuwangi. Tapi dirinya tidak menemukan aktivitas yang sama di Madura.

"Ketiadaan vaksin di Madura ini terjadi karena masyarakat setempat tidak percaya terhadap vaksin. Beberapa anak yang telah di vaksin juga meninggal akibat penyakit cacar," ucapnya.

Padahal saat itu, pemerintah kolonial juga menggratiskan vaksin kepada masyarakat. Tapi karena terkendala banyak hal dan banyaknya penduduk yang buta huruf, tak sedikit masyarakat yang menolak vaksin. Saat itu alasan utama mereka adalah jarak tempuh yang jauh untuk mencapai tempat vaksin. Selain itu, munculnya fatwa ulama seperti di Pulau Bawean yang tidak menyetujui vaksin menjadi kendala utama.

"Seluruh penduduk di sana menolak vaksin karena program tersebut tidak disetujui ulama," ungkap Baha'udin.

Cerita yang menarik lainnya terjadi di Madiun pada 1831. Sebuah program vaksinasi gagal lantaran beredar kabar vaksinasi hanya akal-akalan residen yang ingin menjadikan anak-anak kampung makanan buaya peliharaan. Kabar hoaks itu menyebar cepat, para orang tua percaya bahkan banyak ibu-ibu saat itu menyembunyikan anak mereka di hutan agar terhindar dari program tersebut.

Peran mantri menyukseskan vaksinasi cacar

Adanya vaksin juga belum bisa mengatasi masalah karena kurangnya dokter yang bertugas menyembuhkan, sekaligus mendistribusikan vaksin. Karena itulah, pemerintah memutuskan untuk melatih dan memotivasi sejumlah orang pribumi yang terpandang di suatu daerah. Pelatihan inilah yang kemudian menghasilkan apa yang disebut sebagai mantri cacar atau juru cacar.

Pemerintah juga mendirikan Sekolah Dokter Djawa (kelak jadi Stovia) di Batavia pada 1851. Pemerintah menanggung seluruh biaya pendidikan dengan masa studi 2 tahun dan 17 mata pelajaran yang disampaikan dengan bahasa Melayu itu, para murid pun bisa tinggal di asrama.

"Alasan utama dibukanya Sekolah Dokter Jawa ialah dibutuhkan tenaga untuk memberikan vaksinasi atau menjadi vactinatuer cacar. Penyakit cacar saat itu masih menjadi masalah besar yang bisa merenggut nyawa kala itu. Penyakitnya menular sampai ke desa-desa, sementara tenaga medis belum memadai," ucap Firman Lubis dalam Jakarta 1960-an.

Mantri cacar inilah yang kemudian berfungsi membuka jalan masuk bagi pengobatan sampai ke pelosok-pelosok pedesaan, dan melawan penolakan penduduk dengan segala macam cara, termasuk paksaan. Sehingga sebenarnya mantri cacar mempunyai visi untuk menanamkan kepercayaan masyarakat terhadap pola pengobatan yang dibawa oleh Belanda.

"Dalam rangka itulah para mantri cacar diharuskan tinggal di distrik-distrik yang telah ditentukan, dan aktivitas pencacaran dilakukan di desa-desa induk. Sehingga mempermudah masyarakat pedesaan untuk menjangkau," terang Baha'udin.

Tjipto Mangunkusumo, Dokter yang Melawan Pandemi

Di Jawa, sampai tahun 1910 terdapat 166 mantri cacar dan 37 calon mantri cacar. Sejak tahun 1912, Dinas Kesehatan Sipil mengadakan pelatihan khusus mengenai vaksinasi yang bertujuan untuk melatih calon mantri cacar bertempat di Parc Veccinogene.

"Keberhasilan memanfaatkan orang-orang pribumi dalam kebijakan vaksinasi cacar ini kemudian oleh pemerintah kolonial dijadikan model dalam menangani hampir semua penyakit rakyat. Ketika terjadi epidemi penyakit, kolera, pes, dan malaria," jelasnya lagi.

Fenomena pemamfataan masyarakat pribumi membuktikan bahwa dalam kebijakan pelayanan kesehatan tidak hanya melalui kebijakan politis, tapi juga pendekatan kultural. Apalagi melihat model masyarakat uang mempunyai sistem pengobatan tradisional, dan menolak sistem pengobatan moderan yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini