Manis Gurih Sate Klopo, Hidangan Wajib Coba di Surabaya

Manis Gurih Sate Klopo, Hidangan Wajib Coba di Surabaya
info gambar utama

Salah satu olahan daging yang populer di Indonesia adalah sate. Dari pedagang kaki lima hingga restoran di hotel bintang lima, sate begitu mudah ditemukan. Daging yang menjadi bahan utama sate umumnya dipotong dadu lalu ditusuk lidi lalu dibakar di atas bara api.

Sebenarnya, sate bisa dibuat dari daging apapun, baik itu ayam, kambing, sapi, kerbau, bebek, kerang, udang, atau kelinci. Setelah dibakar, sate umumnya disantap dengan nasi atau lontong dengan bumbu kacang atau bumbu kecap. Tak lupa tambahkan acar untuk menambah kesegaran.

Tak hanya ada di Tanah Air, beberapa negara punya makanan mirip sate, misalnya yakitori dari Jepang, shish kebab dari Turki, shashlik dari Rusia, chuan’r dari Tiongkok, dan sosatie dari Afrika Selatan.

Bahkan, di Indonesia pun, sate ada banyak jenisnya. Beberapa daerah malah punya jenis satenya masing-masing, seperti sate Madura dan sate Padang, yang tersohor sampai ke kota-kota lain.

Namun, apakah Anda pernah mendengar nama sate klopo? Bila dilihat dari bentuknya, kurang lebih mirip dengan sate lain, tapi pastinya punya ciri khas tersendiri yang menarik untuk dicoba.

Ragam Sate dari Bali dan Lombok

Perpaduan daging dengan kelapa

Sate klopo merupakan makanan asal Surabaya, Jawa Timur. Nama klopo diambil dari bahasa Jawa yaitu kelapa. Satenya sendiri terbuat dari bahan utama daging sapi dan lemak, kemudian dilumuri parutan kelapa yang sudah dibumbui.

Untuk membuat sate klopo, dibutuhkan bahan-bahan berupa daging sapi has dalam dan lemak sapi, yang dimarinasi bersama garam dan lada. Sedangkan untuk bumbu kelapa parutnya antara lain bawang merah, bawang putih, kunyit, ketumbar, dan gula.

Setelah dibakar, sate akan menghasilkan aroma yang khas dari parutan kelapa dan ini bisa menambah kenikmatan. Soal rasa, sate klopo cenderung manis dan gurih, pun lebih bertekstur kasar karena daging diselimuti kelapa parut. Sate klopo umumnya disantap bersama nasi atau lontong, dengan tambahan bumbu kacang dan acar.

Sate klopo | @Eddy Fahmi Shutterstock
info gambar
Sate Lilit, Sebuah Makanan Yang Menjadi Simbol Kejantanan Pria

Mencoba kelezatan sate klopo

Jika berkesempatan mengunjungi Surabaya, pastikan sate klopo ada di daftar makanan yang wajib dicoba. Tak sulit menemukan hidangan ini di kota asalnya. Sebab ada banyak tempat makan yang punya menu sate klopo. Anda bisa mencobanya di Sate Klopo Kak Mad di Jalan Pucang Anom Timur 17A. Warung sate ini terkenal dengan satenya yang gurih dan garing, dagingnya pun terbilang cukup besar. Pun, ada menu lain yang ditawarkan seperti sop iga, sop buntut, dan gulai.

Ada pula Sate Klopo Patua di kawasan Sawahan. Meski hanya warung sederhana di pinggir jalan, sate kloponya termasuk enak dan harganya relatif murah meriah. Biasanya, warung sate ini ramai saat sarapan. Kemudian, Anda pun bisa mencoba hidangan ini di Sate Klopo Tiara di kawasan Tambaksari dan Sate Klopo Dinoyo di Jalan Raya Dinoyo.

Sate Bebek Dari Cilegon

Sate Klopo Ondomohen yang melegenda

Di Surabaya, ada satu tempat makan sate klopo yang legendaris, namanya Sate Klopo Ondomohen. Warung sate ini telah berjualan sejak tahun 1945 di Jalan Ondomohen yang saat ini sudah berganti nama menjadi Jalan Walikota Mustajab.

Sate klopo racikan Asih Soedarmi ini tersohor karena rasa bumbu kacangnya yang berbeda. Menurut pengakuan Asih, bumbu kacang di warungnya lebih gurih dan halus, makin lezat dipadukan dengan sate berbalut serundeng kelapa dan kecap manis.

Apalagi potongan dagingnya besar-besar sehingga makin puas saat menyantapnya. Meski terbuat dari daging sapi, sate klopo sama sekali tidak alot atau susah digigit. Setelah melewati proses pembakaran, daging jadi lembut. Bila suka pedas, bisa langsung menggigit cabai rawit.

Uniknya, sate klopo di sini tak hanya terbuat dari daging sapi. Pengunjung bisa memilih sate ayam, udang, sumsum, dan usus yang semuanya sama-sama dibalut dengan parutan kelapa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini