Orang Indonesia Alami Kesepian Selama Pandemi, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Orang Indonesia Alami Kesepian Selama Pandemi, Bagaimana Cara Mengatasinya?
info gambar utama

Tak dapat dimungkiri bila masa-masa pandemi ini membuat sebagian besar orang harus melewati situasi yang menyulitkan. Selain dari sisi kesehatan fisik dan finansial, kondisi saat ini juga memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Into The Light dan Change.org baru-baru ini merilis hasil survei mereka terkait kesehatan mental masyarakat di Pulau Jawa periode Mei sampai Juni 2021. Hasilnya menunjukkan hampir semua partisipan merasakan kesepian.

Survei ini melibatkan 5.211 orang dari enam provinsi di Pulau Jawa dan 98 persen di antaranya mengalami kesepian selama sebulan terakhir. Dua dari lima partisipan bahkan merasa lebih baik mati dan melukai diri sendiri dalam dua minggu terakhir selama survei dilakukan.

Andrian Liem, peneliti pascadoktoral Universitas Macau yang juga merupakan mitra dari Into The Light, menyebutkan 40 persen dari responden memiliki pemikiran untuk melukai diri sendiri maupun memikirkan tentang bunuh diri.

Meski banyak peserta penelitian ini yang mengalami kesepian, tapi mereka tidak berpikir untuk melakukan konseling ke psikolog atau psikiater.

Meski perasaan kesepian menerpa hampir seluruh responden, tapi mereka tak berpikir untuk melakukan konseling ke psikolog atau psikiater. 70 persen peserta penelitian mengaku tidak pernah mengakses layanan kesehatan mental dalam tiga tahun terakhir. Alasan paling banyak ialah biaya layanan kesehatan mental yang dianggap tak terjangkau.

Dalam mengatasi masalah kesehatan mental, partisipan lebih banyak yang menyakini anggota keluarga atau teman dekat berjenis kelamin sama untuk membantu kondisinya dibanding pergi ke tenaga kesehatan jiwa profesional.

"Keyakinan ini menunjukkan partisipan membutuhkan dukungan sosial. Tetapi perlu diingat bahwa tenaga kesehatan jiwa profesional lebih memiliki keahlian dalam menangani kesehatan mental dan dapat menjaga rahasia klien yang berkonsultasi," ujar Andrian.

Kesepian memang bisa menyerang siapa saja. Apalagi selama pandemi ini, banyak orang menghabiskan waktu bersama teman atau keluarganya. Pada akhirnya, orang-orang mulai merasakan kesepian, terutama bagi mereka yang memang tinggal sendiri atau memilih mengasingkan diri demi melindungi keluarganya.

Kesepian jangka pendek seharusnya tidak membahayakan kesehatan mental. Namun, jika terjadi terus-menerus, kesepian jangka panjang dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko kesehatan mental seperti kecemasan, stres, hingga depresi.

Jika saat ini Anda merasa kesepian, cobalah mengikuti beberapa tip berikut ini. Mungkin semua orang membutuhkan hal yang berbeda, jadi cobalah untuk menemukan yang paling cocok. Bila merasa membutuhkannya, jangan ragu untuk mencari dukungan lain berupa konsultasi dengan ahli kejiwaan profesional.

Menghabiskan waktu bersama orang terdekat

Cobalah menjangkau orang-orang yang Anda anggap penting. Apakah itu teman, pasangan, atau keluarga. Luangkanlah lebih banyak waktu untuk dikelilingi orang-orang tersayang, baik itu bertemu langsung jika memungkinkan, mengobrol di telepon, atau lewat panggilan video. Semua kontak ini akan membantu seseorang ingat kembali bahwa ia tidak sendirian.

Cara Anak Muda Menilai Perilaku Warganet Indonesia

Lebih bersosialisasi

Jadikan kegiatan bersosialisasi dengan orang lain menjadi bagian dari rutinitas. Caranya bisa dengan rutin berkirim pesan kepada teman, baik yang masih sering berkontak atau teman lama. Anda bisa mulai percakapan, saling bertanya kabar, bertukar hiburan seperti konten receh atau video kucing menggemaskan.

Membagikan perasaan

Berbagi perasaan kepada orang lain dapat membantu mengatasi kesepian. Mendengar suara yang akrab di telinga atau membuat wajah orang-orang yang ramah membuat kita merasa tenang dan diingatkan kembali bahwa Anda tak sendiri.

Bila sedang merasa kesepian, bagikanlah perasaan itu pada seseorang yang dipercaya. Akan lebih mudah melakukannya bila ada waktu untuk mengobrol sambil bersantai. Namun, ingatlah untuk tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain karena ini bisa membuat seseorang lebih merasa kesepian.

Manfaat Mindfulness, Mampu Meningkatkan Kesehatan Fisik dan Mental

Melakukan hal-hal menyenangkan

Bila ada waktu luang sehari-hari, misalnya selepas bekerja atau waktu istirahat, cobalah untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. Berkegiatan akan menghentikan Anda dari fokus pada perasaan kesepian.

Lakukan apapun yang membuat Anda senang dan ini pastinya berbeda-beda pada setiap orang. Kegiatannya bisa menonton film, membaca buku, menulis, menggambar, merajut, bercocok tanam, bermain gim, mendengarkan podcast yang lucu atau inspiratif, jalan kaki di luar rumah, memasak, atau olahraga.

Mempelajari hal baru

Terkadang, hal-hal yang biasanya memberikan kesenangan tak lagi menyenangkan dilakukan. Maka dari itu, teruslah mengeksplor berbagai kegiatan baru untuk menemukan kesenangan yang baru pula. Jika sedang tidak mood untuk menonton atau membaca buku, cobalah kegiatan yang lebih aktif seperti olahraga atau mengikuti kelas seni dan kerajinan.

Jika sedang tak ingin olaharga, mungkin bisa coba memasak, membuat kue, belajar alat musik, belajar bahasa asing, menari, atau kelas-kelas virtual yang berhubungan dengan profesi saat ini untuk mempertajam keterampilan pribadi.

Ingatlah bahwa Anda tidak sendiri

Melansir Mentalhealth.org.uk, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang terbebas dari perasaan kesepian pada waktu-waktu tertentu. Kita semua, di beberapa titik lainnya selama pandemi, akan merasa terputus koneksi atau jauh dari orang yang dicintai. Namun, beberapa dari kita memiliki akses lebih besar kepada teknologi dibanding yang lain.

Saat merasa kesepian, ingatlah teman dekat atau keluarga tersayang yang mungkin saat itu pun sedang merasakan kondisi yang sama. Dengan saling peduli, saling memeriksa orang-orang di sekitar yang mungkin lebih terisolasi, atau bahkan menjadi sukarelawan, kita dapat mencegah masalah kesepian ini



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini