Tak Ada Gawai dan TV, Guru Ujang Setiawan Keliling Rumah Murid untuk Bantu Belajar

Tak Ada Gawai dan TV, Guru Ujang Setiawan Keliling Rumah Murid untuk Bantu Belajar
info gambar utama

Semenjak diberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat karena darurat Covid-19, hampir semua sekolah di Indonesia mengambil keputusan untuk belajar dari rumah atau disebut dengan istilah pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Semua kegiatan selama PJJ dilakukan secara daring. Baik guru dan murid sama-sama belajar untuk memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Dalam pelaksanaannya, tentunya guru dan murid butuh sarana yang menunjang, misalnya komputer, ponsel, dan koneksi internet yang mumpuni.

Proses belajar-mengajar pun dapat dilakukan dengan banyak media, mulai dari grup WhatsApp, Google Classroom, Google Meet, Zoom Cloud Meeting, dan aplikasi lainnya yang sejenis.

Namun, tentunya menjalankan PJJ tak semudah yang dibayangkan. Sebab, banyak juga murid dan guru yang mengalami kendala seperti tidak memiliki ponsel, laptop, dan akses internet yang stabil.

Sebagai upaya mendukung pembelajaran murid sekolah, Kemendikbud bekerja sama dengan TVRI dan membuat program “Belajar dari Rumah.” Hal ini dilakukan demi membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua kalangan di tengah kondisi pandemi. Khususnya membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan pada akses internet, baik karena ekonomi maupun letak geografis.

Program belajar tersebut sudah berjalan sejak April 2020 dan materinya ditujukan untuk semua jenjang pendidikan, dari PAUD hingga SMA/SMK.

Adib Budiono dan Inovasinya Membuat Masker untuk Tunarungu
Ujang Setiawan Firdaus © Instagram @ujang_setiawan01
info gambar

Kunjungi rumah murid untuk bantu belajar

Ujang Setiawan Firdaus, S. Pd. adalah seorang guru di kelas V di Sekolah Dasar Negeri 01 Purbayani, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Daerah sekitar tempat tinggal Ujang jaraknya sekitar 100 kilometer dari ibu kota Garut, dengan waktu tempuh 3-4 jam. Di sana, mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan nelayan. Bila pernah mendengar nama Pantai Santolo Garut, kira-kira jaraknya sekitar 31 kilometer sampai ke Kecamatan Caringin.

Seharusnya di masa PJJ ini, baik guru dan murid sama-sama di rumah masing-masing. Namun tidak dengan Ujang. Setiap hari, ia menyambangi rumah-rumah muridnya dan membawa satu tas penuh berisi kertas-kertas fotokopi buku pelajaran sekolah dasar serta sejumlah masker untuk dibagikan pada muridnya.

Ujang tahu betul bahwa sebagian besar muridnya tak memiliki gawai/ponsel untuk belajar daring. Ya, ada siaran di televisi, tetapi faktanya pembelajaran lewat siaran televisi pun sulit diakses karena sinyal hanya dapat tertangkap bila menggunakan antena parabola. Tentunya, harga parabolanya pun mahal dan memberatkan orang tua diharuskan membelinya.

Akhirnya, Ujang berinisiatif untuk mendatangi rumah muridnya untuk membantu anak-anak belajar. Kata Ujang, tak mungkin anak-anaknya bisa mengikuti belajar daring. Bila ada gawai, itupun milik orang tuanya dan belum semuanya punya. Soal siaran televisi, Ujang mengatakan bahwa di daerah tak semuanya masuk saluran TVRI.

Demi murid-muridnya, ia pun memutuskan untuk mengambil langkah ini. Menurut Ujang, anak didiknya harus tetap belajar mesti di rumah saat masa pandemi seperti ini.

Semangat Dewi untuk Indonesia, Dorong Anak Muda Mengabdi Bagi Negeri di Tengah Pandemi
Ujang Setiawan Firdaus © Instagram @ujang_setiawan01
info gambar

Tanggung jawab sebagai guru kepada murid

Sebagai guru sekaligus wali kelas, Ujang merasa dirinya bertanggung jawab untuk menuntaskan pembelajaran bagi siswa-siswanya. Maka, setiap pagi ia mengunjungi murid-muridnya per area kampung. Ujang rela merogoh kocek pribadi untuk fotokopi materi pembelajaran, plus biaya bensin untuk mengunjungi rumah-rumah muridnya itu.

Biasanya, anak-anak yang tinggal sedaerah akan dikumpulkan untuk belajar bersama. Hari esoknya, ia akan mengunjungi anak-anak yang tinggal di kampung lain, dan terus ia lakukan selama enam hari dalam seminggu.

Untuk belajar bersama, Ujang akan memilih rumah murid, rumah kosong, bahkan masjid. Ia pun tetap berjaga jarak dengan murid-muridnya selama proses belajar.

Selain materi sesuai kurikulum, Ujang juga membahas soal virus corona kepada murid-muridnya. Pada awalnya, anjuran penggunaan masker pun begitu sulit disampaikan karena di daerah tempat tinggal Ujang barang tersebut masih langka.

Soal target pembelajaran, Ujang mengaku bersikap realistis karena tidak mungkin semuanya bisa tercapai dalam situasi seperti ini.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini