Kapal Tua Bekas Nelayan Disulap Menjadi Furnitur Bernilai Tinggi di Rusia

Kapal Tua Bekas Nelayan Disulap Menjadi Furnitur Bernilai Tinggi di Rusia
info gambar utama

Tidak semua nelayan di Indonesia melakukan penangkapan ikan dengan peralatan memadai seperti menggunakan kapal atau perahu besar, nyatanya tidak sedikit pula sejumlah nelayan di tanah air yang mengandalkan penggunaan kapal dan perahu kayu berukuran kecil yang biasanya dimiliki secara pribadi.

Bicara soal kapal, sama seperti barang pada umumnya yang memiliki masa dan usia pakai, kapal atau perahu milik para nelayan sudah barang tentu juga memiliki masa penggunaan maksimal.

Ketika dirasa sudah tidak dapat digunakan lagi karena beberapa kondisi tertentu, kapal-kapal tersebut pada akhirnya akan digantikan dengan keberadan kapal baru. Siklus tersebut tak dimungkiri akan terus terjadi sehingga berujung pada pertanyaan, kemana perginya atau bagaimana nasib kapal bekas para nelayan yang sudah tidak dapat digunakan lagi?

Kapal yang sudah tidak dapat digunakan tentu tidak serta merta langsung dikategorikan sebagai sampah seperti barang biasa yang tak terpakai. Mengingat dalam pembuatannya, kapal nelayan umumnya menggunakan material berupa kayu dengan kualitas sangat baik, yang dikenal tahan akan hantaman ombak dan cuaca ekstrem di lautan.

Beruntung selalu ada pihak yang bisa melihat sisi lain dari suatu hal, termasuk pemanfaatan kapal tua bekas para nelayan yang sudah tidak bisa lagi digunakan. Salah satu pihak tersebut adalah pengusaha furnitur asal Rusia, Like Lodka.

Ekspor Furnitur Indonesia ke Kanada Meningkat 49,4 Persen di Kuartal I 2021

Mengubah kapal tua menjadi furnitur bernilai jutaan rupiah

Like Lodka adalah perusahaan furnitur yang didirikan oleh sepasang desainer furnitur asal Rusia, yang tertarik meneruskan siklus hidup kayu pada kapal dan perahu nelayan di sejumlah wilayah Indonesia, dengan mengubahnya menjadi berbagai furnitur seperti hiasan rumah, lemari penyimpanan dengan laci, atau bahkan menjadi rak untuk penyimpanan wine karena nilai estetis yang dimiliki.

Melansir Reuters, pasangan desainer yang mengelola Like Lodka biasanya membeli kapal-kapal nelayan tua yang berada di wilayah Jawa dan Bali, lalu memodifikasinya sebagai furnitur dan dibawa ke Rusia yang kemudian laku dijual serta dipakai oleh berbagai kafe yang berada di Negeri Beruang Putih tersebut.

Menurut salah satu desainer Like Lodka yaitu Yan Averkiev, furnitur yang mereka hasilkan dari material kapal tua bekas para nelayan di nusantara memiliki daya tahan dan kualitas yang jauh lebih baik ketimbang furnitur yang dibuat dari material baru.

Bukan tanpa alasan, hal tersebut bisa terjadi karena kayu yang digunakan pada perahu para nelayan memang umumnya dibuat menggunakan kayu jati dan mahogani dengan kualitas yang tak perlu diragukan lagi.

Lain itu, Averkiev juga menilai bahwa perahu bekas yang ia dapatkan memiliki keunikan tersendiri berkat adanya lukisan sederhana yang dibuat oleh para nelayan, dan justru dianggap sebagai suatu seni.

“Nelayan melukis burung, gelombang, atau garis sederhana pada kapalnya. Tapi saat orang (di Rusia) yang tidak tahu melihatnya, itu nampak seperti lukisan abstrak…” ujar Averkiev dalam video wawancara Reuters yang dimuat oleh VOA Indonesia.

Sementara itu, dalam proses pemodifikasian dari kapal tua yang sebelumnya digunakan oleh para nelayan menjadi furnitur, desainer lainnya yaitu Ekarina Everkiyeva mengungkap bahwa mereka bekerja sama dengan pekerja di Indonesia sebelum furnitur hasil akhirnya dibawa ke Rusia.

Saat kapal tua yang dimaksud sudah seutuhnya bertransformasi menjadi furnitur yang dapat menghias setiap sudut ruangan baik di rumah atau bangunan lain, nilai jualnya meningkat dengan harga yang bervariasi mulai dari kisaran Rp7 juta hingga Rp17 juta.

Kerajinan Lokal Semakin Diminati, dengan Dukungan Alat Canggih Industri Mebel RI Pantas Kuasai Dunia

Bukan yang pertama, perajin furnitur Indonesia kerap melakukan hal serupa

Industrial dining set yang dibuat dari kapal tua nelayan
info gambar

Faktanya apa yang dilakukan oleh pengusaha furnitur asal Rusia di atas ternyata bukanlah yang pertama. Diketahui bahwa sebelumnya, sudah ada pihak yang mengambil kapal bekas para nelayan untuk dibuat menjadi berbagai furnitur dan perkakas.

Hal tersebut umumnya dilakukan oleh para perajin di wilayah Jepara dan Probolinggo, yang mengambil kapal tua bekas dari nelayan di sekitaran Situbondo.

Sementara itu di wilayah lain, salah satu pihak yang juga menerapkan cara ini adalah perusahaan furnitur bernama My Own Bali, yang sudah ada sejak tahun 2011.

Dengan fokus mengurangi tumpukan kapal tua yang sudah tidak terpakai dan memperpanjang fase kehidupan kayu, perusahaan furnitur tersebut merubah kayu jati kapal menjadi barang fungsional untuk digunakan sebagai interior rumahan atau restoran.

Melalui laman resminya, dijelaskan bahwa material kayu dari kapal yang mereka beli sebelumnya dirawat oleh para nelayan dengan lapisan cat primer yang mendukung kayu untuk lebih tahan terhadap garam laut, air, dan sinar matahari.

Sementara itu seiring dimakan usia, kondisi kayu pada kapal yang dimaksud membentuk lubang, goresan, atau gurat unik yang memberikan kesan hidup saat diubah menjadi furnitur.

Berangkat dari kondisi itu pula, saat ini sebenarnya para pengusaha furnitur di Indonesia sudah banyak yang menggunakan bahan dasar kayu dari bekas kapal tua milik para nelayan. Namun tak dimungkiri, bahwa furnitur dengan material bekas yang didaur ulang (reclaimed) justru lebih banyak diminati oleh para pembeli yang berasal dari luar negeri.

Kayu Ramah Lingkungan Indonesia yang Makin Diakui Pasar Eropa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini