Kisah Tunggal Panaluan, Tongkat Sakti Para Datu Batak Toba

Kisah Tunggal Panaluan, Tongkat Sakti Para Datu Batak Toba
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Masyarakat Batak Toba mengenal sebuah tongkat bernama Tunggal Panaluan. Bagi masyarakat, toba adalah tongkat sakti dengan panjang sekitar 150 sampai 200 meter. Tunggal Panaluan memiliki arti, yakni kata ‘tunggal’ berarti satu dan ‘panaluan’ berarti selalu mengalahkan.

Tongkat sakti ini hanya dimiliki oleh para datu atau dukun. Tongkat sakti dipercaya sebagai tempat bersemayam roh leluhur yang mampu memanggil hujan, menyembuhkan orang, mengusir wabah penyakit, menjaga rumah, serta mendatangkan berkah. Pembuatan tongkat ini juga tidak sembarangan.

Tunggal Panaluan terbuat dari kayu tada-tada dan ada ritual sesajen, pangurason dan berpuasa dalam proses pengerjaannya. Beberapa orang percaya, jika memiliki tongkat ini mereka akan memiliki kekuatan, kekuasaan, dan ditakuti.

Dampak Perubahan Iklim di Sektor Perikanan, Andre Sumual: Kita yang Harus Menyesuaikan

Kisah tunggal panaluan

Tunggal Panaluan | Foto: Kompas
info gambar

Tongkat sakti ini tak lepas dari berbagai legenda masa lalu yang ada dalam masyarakat. Konon, pada masa lalu Sang raja memiliki anak kembar, laki-laki dan perempuan yang pergi bermain ke hutan.

Masyarakat Batak memiliki adat untuk tidak memperbolehkan hubungan sedarah dan hubungan semarga. Mereka tidak boleh menikah dengan orang yang satu marga dengannya.

Namun, menurut cerita kedua anak kembar tersebut melakukan hubungan badan ketika bermain di hutan. Sang raja khawatir, karena kedua anaknya belum kembali sampai sore hari.

Mengapa Hantu Populer di Indonesia Identik dengan Perempuan?

Sang raja pun bergegas memanggil datu untuk meminta bantuan mencari anaknya. Sesampainya di hutan, mereka melihat bahwa dua anak tersebut terperangkap di dalam pohon. Ketika mencoba untuk mengeluarkannya, datu tak bisa melakukannya.

Sang dukun tersebut justru ikut tersedot ke dalam pohon itu. Sang raja pun memanggil dukun lainnya dan mereka juga tersedot. Hingga akhirnya, sang raja memanggil dukun yang paling sakti, namun tak bisa dan tersedot juga.

Konon, ini menandakan bahwa alam murka akibat adanya aturan yang dilanggar, bahwa tidak boleh berhubungan sedarah dan semarga. Akhirnya, pohon tersebut ditebang dan diukir berdasarkan orang-orang yang tersedot ke pohon kayu tersebut. Maka dari itu, tongkat ini memiliki ukiran wajah orang-orang.

Kisah lain dari tunggal panaluan

Tunggal Panaluan | Foto: Kompas
info gambar

Tongkat Tunggal Panaluan juga memiliki cerita turun-temurun lain, memang masih sama yakni mengenai perkawinan sedarah. Namun, bukan anak dari Sang raja.

Dalam cerita ini, dikisahkan mengenai sepasang suami istri bernama Guru Hatia Bulan atau Datu Arah Pane dan Nan Sindak Panaluan. Mereka masih belum dikaruniai seorang anak. Namun, mereka terus berdoa dan percaya akan diberikan anak.

Hingga akhirnya, setelan delapan tahun menunggu, Nan Sindak Panaluan mengandung seorang anak. Selama istrinya mengandung, Guru Hatia Bulan selalu mengalami mimpi buruk.

Fenomena Pendaki Hilang di Gunung, Masuk Portal Gaib Atau Hipotermia?

Nan Sindak melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan, mereka memberi nama Aji Donda Hatahutan Situan Parbaring dan Tapi Nauasan SIboru Panaluan atau Si Tapi Omas. Menurut legenda, kedua bayi tersebut lahir di hari yang buruk dalam mitologi Batak (Ari Sirangga Pudi).

Para tetua kampung meminta Guru Hatia dan Nan Sindak memisahkan kedua anak mereka, agar tidak terjadi bencana di kemudian hari. Namun, hal tersebut dihiraukan oleh Guru Hatia dan Nan Sindak. Mereka membesarkan keduanya dengan penuh kasih sayang hingga dewasa. Warga desa tersebut melihat kedua anak kembar itu seperti sepasang kekasih.

Bencana melanda desa

Tiba harinya, di desa tersebut terjadi kemarau dan hujan tidak turun selama tiga bulan. Tumbuhan layu, sawah, dan mata air mengering. Para tetua memanggil datu untuk menanyakan penyebab terjadinya bencana ini.

Menurut penglihatan datu, hal ini dikarenakan adanya hubungan terlarang yang dilakukan saudara sekandung. Para tetua dan warga desa pun tertuju pada anak kembar tersebut. Mereka pun berunding dan memanggil kedua anak tersebut, keduanya dipanggil dan ditanya berbagai macam pertanyaan.

Misteri Begu Ganjang, Kisah Mistik dan Fenomena Kecemburuan Sosial

Keduanya hanya ketakutan dan terdiam. Guru Hatia dan Nan Sindak pun tak dapat membela dan hanya pasrah dengan keputusan suara terbanyak. Kedua anak kembar tersebut diusir dari desa.

Ayah mereka membangun sopo (sejenis lumbung padi) untuk ditinggali oleh kedua anak tersebut dan meninggalkan anjing sebagai penjaga. Beberapa hari sekali, Guru Hatia dan Nan Sindak datang berkunjung untuk membawakan makanan sambil menahan kesedihan mereka. Sejak kedua anak tersebut tidak lagi tinggal di desa, kemarau pun berlalu.

Pohon melegenda

Tak jauh dari sopo, terdapat pohon dengan batang berduri dan berbuah banyak. Nauasan yang melihat pohon tersebut, meminta Aji Donda memetik buah tersebut untuknya. Ketika Aji Donda memetik, tiba-tiba tubuhnya tersedot ke dalam pohon dan tinggal kepalanya saja.

Nauasan pun memanggil kakaknya itu, namun tak ada jawab. Kemudian, dia memutuskan untuk menyelamatkan Aji Donda. Sayang, Nauasan juga mengalami nasib yang sama, tersedot ke dalam pohon.

Ketika memanjat, selendang Nauasan terjatuh dan anjing peliharaan mereka membawa selendang tersebut kepada Guru Hatia dan Nan Sindak sambil terus menggongong. Guru Hatia dan Nan Sindak pun bergegas menuju hutan.

Mengenal Besek, Kemasan Tradisional dan Merakyat

Mereka terdiam ketika menemukan anaknya telah menyatu dengan pohon Guru Hatia kembali ke desa dan memanggil datu untuk meminta pertolongan. Sayangnya, datu tersebut pun mengalami nasib yang sama dengan anak mereka.

Guru Hatia pun mencari bantuan datu lain, namun keempat datu yang dimintanya juga ikut tersedot ke dalam pohon. Guru Hatia masih belum menyerah, ia meminta bantuan kepada datu Parpansa Ginjang.

Berbeda dengan datu lainnya, datu Parpansa membaca doa, meminta sesaji dan tarian tor-tor. Kemudian, datu menebang pohon dan membawanya ke desa. Pohon tersebut diukir menyerupai si kembar dan para datu yang mencoba menolong mereka.

Pohon yang kemudian dikenal sebagai Tunggal Panaluan ini selalu dibawa untuk menghibur sepasang suami istri itu. Begitulah kisah legenda dari Tunggal Panaluan.*

Referensi : laketoba.travel | Kompas

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini