Braga Permai, Restoran Jadul Bernuansa Eropa Klasik di Bandung

Braga Permai, Restoran Jadul Bernuansa Eropa Klasik di Bandung
info gambar utama

Kawasan Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan sejak zaman dulu. Bahkan, sebelum era media sosial, daerah tersebut sudah dikenal sebagai salah satu destinasi liburan di Kota Kembang.

Jalan Braga dikenal dengan nuansanya yang klasik dan terkesan jadul. Meski kini sudah ada beberapa bangunan modern, beberapa gedung tua masih bertahan di sana.

Banyak wisatawan menikmati liburan dengan berjalan-jalan di sepanjang Jalan Braga, berfoto-foto di depan gedung tua, menyaksikan para seniman yang memamerkan karya lukisan di sepanjang jalan, hingga kongko di restoran atau kafe yang hampir memenuhi kawasan ini bisa jadi kegiatan yang menyenangkan.

Jika sedang merencanakan liburan ke Bandung dan hendak mengunjungi Jalan Braga, di sana ada sebuah restoran vintage yang menarik untuk dicoba, yaitu Braga Permai.

Menikmati Es Krim Tip Top, Kuliner Legendaris Yogyakarta Sejak 1936

Braga Permai, restoran jadul di Bandung

Memasuki kawasan Braga, pengunjung akan melihat sebuah restoran yang menempati bangunan tua. Di bagian depan restoran, ada sebuah plang dengan tulisan warna merah “Braga Permai”.

Restoran tersebut sudah ada sejak tahun 1918. Awalnya, tempat tersebut bernama Maison Bogerijen dan didirikan oleh L. van Bogerijn. Dalam Bahasa Perancis, maison berarti rumah dan Bogerijin diambil dari nama pendirinya. Pada kali pertama dibuka, lokasi restoran ini berada di sisi timur Jalan Braga dan Jalan Lembong. Namun, sejak tahun 1923, pindah ke Jalan Braga sampai saat ini.

Pada awal-awal pembukaan, restoran elite ini merupakan tempat pertemuan orang-orang Belanda dan memang hanya dikunjungi kalangan. Bahkan, Braga Permai menjadi restoran favorit Gubernur Hindia Belanda saat itu.

Bangunan restoran ini memang didesain megah dan modern pada masanya. Saat ini, beberapa bagian telah direnovasi, tetapi secara keseluruhan arsitektur aslinya masih dipertahankan. Perubahan nama dari Maison Bogerijen menjadi Braga Permai pun bukan tanpa alasan. Pada tahun 1960-an, Presiden Soekarno melarang usaha atau toko menggunakan nama kebarat-baratan.

Braga Permai masih mempertahankan resep dan makanan khas Maison Bogerijen. Menu makanan di restoran ini terbilang variatif, Anda bisa menemukan menu seperti ananas geap, speculaas almond, tompoesjes, booterstaf, ruzarensla, bitterballen, dan ontbijkoek. Ada pula menu favorit seperti tenderloin grill, lamb chop, sop buntut, hingga lontong cap go meh.

Untuk pilihan menu modern, ada lasagna dan salmon gamberoni. Selain itu, banyak pilihan menu es krim, cokelat, roti dan kue, hingga minuman seperti cocktail dan mocktail.

Dari segi makanan, menu-menu yang ditawarkan cenderung klasik, bahkan penyajiannya pun minimalis, tidak seperti makanan kekinian yang estetis. Namun, dari rasa tak perlu diragukan lagi. Suasana makan di restoran ini pun memberikan pengalaman berbeda, serasa kembali ke masa kolonial. Meja-meja tertata rapi dengan taplak, serbet, serta pengunjung akan diberikan sekeranjang roti dan air putih sambil menunggu hidangan datang.

Mengulik 6 Tempat Legendaris Cikini, Sejarah yang Tersembunyi di Jakarta

Menyusuri Jalan Braga, sejarah panjang Kota Kembang

Jalan Braga sudah cukup dikenal sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Saat ini pun masih menjadi salah satu ikon kota Bandung. Sepanjang jalan, Anda bisa menemukan toko-toko dan perkantoran yang tetap mempertahankan ciri arsitektur kuno khas Eropa yang memang sesuai dengan perkembangan Bandung masa itu.

Saat ini, sudah ada beberapa kafe yang tampak lebih modern. Namun, bila ditelusuri lagi, masih banyak gedung-gedung tua di sana, misalnya Sarinah, apotek Kimia Farma, da Gedung Merdeka atau Gedung Asia Afrika.

Nama Braga konon berasal dari Bahasa Sunda, ngabaraga atai bergaya. Memang kawasan ini sejak zaman dahulu dikenal sebagai pusat pertokoan yang menjual barang-barang mewah, ditambah dengan kehadiran kesenian dan hiburan bagi kalangan atas.

Pada tahun 1882, Pieter Sitijhof, seorang asisten residen Belanda memberikan nama baru pada jalan ini yaitu Bragaweg. Selain perubahan nama, tampilan jalan ini pun diubah dan dihiasi dengan batu kali serta lampu minyak.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini