Cerita Merawat Jiwa, Pembangunan RSJ Pertama pada Masa Kolonial Belanda

Cerita Merawat Jiwa, Pembangunan RSJ Pertama pada Masa Kolonial Belanda
info gambar utama

Masalah gangguan jiwa adalah penyakit yang sama tuanya dengan peradaban Nusantara. Namun sejarahnya sering terabaikan dan terlupakan oleh kajian historiografi Indonesia.

Dahulu Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) muncul dengan penyebab beragam. Salah satunya karena wabah, baik itu pes, flu Spanyol hingga tuberkulosis (TBC).

Iklim lembap di Asia Tenggara, dipercaya memiliki efek mengerikan pada keseimbangan tubuh orang Eropa, terutama ketika perubahan lingkungan berlangsung cepat.

Namun mereka yang mengalami gangguan kejiwaan akut biasanya memperoleh perlakuan kasar dan tidak manusiawi. Seperti yang terjadi di rumah sakit awal di Batavia antara tahun 1638-1642.

"Pasien yang memiliki perilaku yang tidak semestinya atau mengalami gangguan jiwa akut akan dihukum seolah-olah mereka seorang kriminal. Pasien-pasien itu dicambuk, dikurung, dan dipaksa melakukan tugas-tugas yang tidak manusiawi," tulis Nathan Porath dalam “The Naturalization of Psychiatry in Indonesia and its Interaction with Indigenous Therapeutics”.

Potret Perawatan Kesehatan Mental Era Kolonial di Museum Kesehatan Jiwa

"Satu-satunya makanan mereka adalah roti dan air. Mereka yang mencoba melarikan diri dari rumah sakit diamankan dengan cara tangan mereka ditancapkan ke pintu dengan menggunakan pisau," tambahnya.

Selain itu penyakit jiwa juga melanda masyarakat miskin yang terkena wabah di Hindia Belanda. Petaka itu makin menampilkan bobroknya kepemimpinan kolonial Belanda, terutama dalam menyediakan fasilitas kesehatan jiwa yang memadai.

"Seorang psikiater di Sekolah Indische Artsen Nederlands di Surabaya, Dr. Van der Schaar, menemukan dalam penyelidikannya sejak tahun 1930 bahwa di seluruh Jawa ada 1.377 orang sakit jiwa setiap tahun ditahan di penjara," imbuh Maiza Elvira dalam buku Indonesia dan COVID-19: Pandangan Multi Aspek dan Sektoral (2020).

Karena tidak mampu menangani, rumah sakit setempat biasanya mengirim pasiennya ke rumah sakit di Batavia. Rumah sakit di Batavia mempunyai posisi penting bagi orang-orang Eropa di kepulauan itu terutama terdiri dari orang-orang militer dan pedagang, yang tinggal di Nusantara tanpa keluarganya.

Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) memang bertanggung jawab atas kesehatan orang Eropa yang menjadi pegawainya, tetapi mereka tidak memedulikan kesehatan penduduk pribumi, kecuali seorang raja setempat yang secara pribadi mendaftar.

Secara singkat berbagai fasilitas medis untuk pasien sakit jiwa pada masa VOC dibagi berdasarkan kategori populasi: Eropa, Cina, dan penduduk asli.

"Sementara orang-orang Eropa dan Cina dikelompokkan berdasarkan etnis mereka, penduduk pribumi disatukan dengan orang miskin dan anak yatim di bawah kategori penduduk asli yang melarat," tulis Porath.

Pembangunan rumah sakit jiwa di Hindia Belanda

Pada akhir abad 18, mulai muncul dokter yang mempertimbangkan untuk merawat pasien sakit jiwa dengan metode terapi di dalam kurungan. Perawatan di tempat ini didasarkan pada perlakuan lembut yang diharapkan mampu mengarahkan hasrat moral pasien untuk pulih.

Era baru terapi untuk penyandang gangguan jiwa juga sampai ke Nusantara. Gagasan terapi moral ini nantinya akan memengaruhi pembangunan rumah sakit jiwa (RSJ) pertama di kepulauan itu.

Pada awal abad ke 19, terjadi peningkatan jumlah orang yang menderita gangguan jiwa, untuk mengatasi itu pemerintah kolonial melakukan sensus kesehatan mental pertama pada tahun 1862. Dalam laporan ini, dr. Wassink memperkirakan bahwa ada sekitar 586 orang gila berbahaya di pulau Jawa, 252 di antaranya dirawat di kota-kota besar.

Selain melakukan dokumentasi, Wassink juga membuat saran agar pemerintah hanya bertanggung jawab mengurusi orang gila yang berbahaya, tidak perlu ada kebijakan baru untuk orang gila yang tidak berbahaya. Dia juga memiliki saran agar pemerintah membangun RSJ khusus untuk orang Eropa.

"Tujuannya adalah untuk menyediakan lembaga yang lebih manusiawi, dengan lebih banyak tempat tidur dan kursi lurus daripada kayu pasung," ucap Porath.

Namun permintaan ini belum disetujui, Pemerintah Kolonial malah meminta dua dokter, Dr F. Bauer dan Dr W. Smit, untuk mengunjungi negara-negara tetangga Eropa untuk belajar tentang perawatan mereka untuk orang gila.

J.A. Latumeten, Psikiater Indonesia yang Pernah Hajar Orang Belanda

Setelah melakukan kunjungan ke berbagai negara dan Hindia Belanda, Bauer dan Smit Bauer dan Smit meminta izin pemerintah Belanda untuk membuka RSJ di Buitenzorg (Bogor).

Bogor dipilih karena letaknya yang dekat dengan Batavia tetapi sebaliknya lebih terpencil, sesuai dengan prinsip perawatan terapi saat itu yakni mengisolasi dari seluruh masyarakat.

"Baru pada tahun 1875 melalui sebuah dekret diumumkan pembangunan rumah sakit di Buitenzorg. Rumah sakit Jiwa pertama ini akhirnya dibuka pada tahun 1882," tulis Hans Pols dan Sasanto Wibisono dalam "Psychiatry annd Mental Health Care in Indonesia from Colonial in Modern Times”.

Di rumah sakit ini metode terapi modern digunakan untuk merawat para pasien. Apabila pada masa sebelumnya pasien dibelenggu, kini para pasien sakit jiwa menerima bimbingan moral dan perlakuan yang lebih lembut.

RSJ baru ini menolak bentuk organisasi medis sebelumnya yang hanya merawat pasien berdasarkan kelompok masyarakat (Eropa, Cina, dan penduduk asli). Sebaliknya, RSJ tersebut menerima berbagai macam pasien tidak peduli ras, etnis, atau latar belakang budaya.

"Meskipun begitu, orang Eropa masih diistimewakan dan ditempatkan pada kelas dan bangsal yang terpisah," beber Porath.

Pasien bumiputra tetap didiskriminasi

Memasuki abad ke 20, RSJ mulai dibangun di sejumlah kota di Hindia Belanda. RSJ kedua dibuka di dekat Lawang pada tahun 1902. Dua RSJ tambahan didirikan di dekat Magelang dan dekat Sabang, di sebuah pulau di utara Aceh. Keduanya dibuka pada tahun 1923.

Seluruh RSJ ini bisa menampung sekira 9000 pasien. Sementara, di kota-kota besar lusinan klinik psikiatris berdiri, mempermudah akses orang-orang yang ingin berobat.

Pada 1930-an, beberapa dokter mengusulkan agar membentuk koloni pertanian untuk pasien kronis jangka panjang yang kondisinya sulit membaik. Lembaga-lembaga ini dapat dijalankan oleh perawat dan dokter pribumi.

"Pada perkembangannya, koloni pertanian telah menjadi bagian dari rumah sakit jiwa yang lebih besar. Lembaga ini didirikan pada 1935 di Lenteng Agung," catat Pols.

Namun orang-orang pribumi yang ingin masuk ke dalam RSJ tidak semudah yang dibayangkan. Mereka yang ingin masuk harus melalui jalur pengadilan, sistem semacam ini bertahan bertahun-tahun dan cukup menyulitkan keluarga pasien.

Punya Peran Krusial, Kinerja Keuangan dan Saham Rumah Sakit Meroket di Tengah Pandemi

Selain itu tidak semua pasien bumiputra diterima di rumah sakit itu, hanya mereka yang dianggap menyebabkan gangguan publik dan tindakan kekerasan yang diterima. Oleh sebab itu, perawatan di lembaga-lembaga ini sebagian besar adalah penahanan.

Perlakuan berbeda ditunjukan pada pasien Eropa. Mereka dirawat secara lebih manusiawi, mereka dimandikan secara teratur, disediakan tempat tidur yang bersih dan udara terbuka.

"perawatan yang tersedia termasuk mandi terus-menerus, perawatan tempat tidur, dan perawatan udara terbuka. Sementara pengekangan fisik, pengekangan kimia, dan isolasi jarang digunakan," tambahnya.

Memang berkat banyak terobosan, sejak abad 19 penanganan pasien gangguan jiwa mulai terus membaik. Akan tetapi, fasilitas rumah sakit jiwa yang didirikan di Hindia Belanda masih sangatlah terbatas.

Oleh sebab itu, sering tidak dapat menampung jumlah pasien, sehingga menyebabkan penelantaran, perawatan yang buruk dan penempatan individu yang sakit di penjara.

Selain itu kesadaran tentang kesehatan jiwa masih terbatas pada masyarakat kota. Sedangkan bagi masyarakat desa dan jauh dari layanan kesehatan mental masih harus merana dalam kurungan, juga pasung.

"Karena ini banyak orang pribumi dengan penyakit mental tidak bisa masuk ke rumah sakit, sehingga mereka bertahan di lingkungan umum meski beberapa dari mereka dipasung," ujar Pols.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini