Mbah Jugo, Sosok Tabib Sakti yang Jinakkan Wabah Kolera di Jawa

Mbah Jugo, Sosok Tabib Sakti yang Jinakkan Wabah Kolera di Jawa
info gambar utama

Pesarean (makam) Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, menjadi salah satu tempat wisata religi yang cukup populer. Banyak peziarah yang datang tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga luar negeri.

Terkenalnya pesarean ini karena ada dua makam tokoh, yaitu Mbah Jugo alias Kanjeng Kiai Zakaria ll, dan Raden Mas Imam Soedjono, yang pada masa hidupnya dianggap sebagai tokoh karismatik dan pejuang yang gagah berani.

Sosok Mbah Jugo bahkan tidak hanya dihormati oleh orang Jawa, tetapi juga bagi masyarakat Indonesia keturunan China. Orang-orang ini lebih mengenal Mbah Jugo dengan nama Taw Low She, yang maknanya berarti Guru Besar Pertama.

Ditulis oleh Bisnis Bandung, makam Mbah Jugo selalu didatangi oleh ratusan orang China setiap harinya, termasuk juga orang pribumi. Apalagi ketika masa liburan panjang, atau bertepatan dengan hari pasaran, seperti Jumat Legi, Senin Pahing, Syuro, dan Tahun Baru.

Para peziarah memang datang dengan beragam motif, ada yang sekadar berwisata, mendoakan para leluhur, melakukan penelitian ilmiah, atau yang mayoritas tentu memanjatkan doa agar lekas terkabul.

Legenda Kyai Sengkelat, Keris yang Bisa Usir Wabah Penyakit dari Majapahit

Ada beragam cerita mengapa makam Mbah Jugo selalu ramai didatangi oleh masyarakat keturunan China. Salah satu kisahnya adalah pertemuan antara Mbah Jugo dengan orang China perantauan, Tan Giok Tjwa.

Dikisahkan, Tan Giok Tjwa saat itu mengikuti temannya untuk datang ke pedepokan Mbah Jugo. Dengan ramah, Mbah Jugo lantas mempersilakannya tamu tersebut masuk, sambil berkata.

“Akhirnya engkau datang juga anakku," ucap Mbah Jugo yang membuat Tan Giok Tjwa terheran-heran.

Kemudian dirinya mengingat cerita ibunya bahwa ada seorang pendatang yang pernah membantu ekonomi keluarganya. Sebelum pergi, pendatang itu mengangkat Tan Giok Tjwa sebagai putranya, dan meminta setelah besar untuk menemuinya.

Takdir kemudian menuntun Tan Giok Tjwa untuk bertemu dengan ayah angkatnya yang ternyata ada Mbah Jugo. Setelahnya Tan Giok Tjwa dan Mbah Jugo tinggal bersama, dan kemudian berganti nama menjadi Ki Djan.

Ki Djan kemudian membangun tempat berdoa dengan gaya arsitektur China. Beberapa tahun berlalu, banyak peziarah yang kemudian mulai berdatangan ke Gunung Kawi.

Pengawal Pangeran Diponegoro yang anti Belanda

Dalam Jejak Pejalan Kaki ditulis, Mbah Jugo yang sehari-harinya dikenal sebagai Mbah Kromodi Redjo sebenarnya masih keturunan penguasa Mataram Kartasura pada abad ke-18.

Riwayat Mbah Jugo bisa ditelusuri melalui surat keterangan yang dikeluarkan oleh pengageng Kantor Tepas Darah Daken Kraton Yogyakarta Hadiningrat nomor: 55/TD/1964 yang ditandatangani oleh Kanjeng Tumenggung Danoehadiningrat pada 23 Juni 1964.

Disebutkan dalam naskah itu, Mbah Jugo merupakan putra dari Kiai Zakaria, yang juga masih keturunan Paku Buwono I dan ulama dari Kerajaan Mataram. Ulama ini kemudian mempunyai putra bernama Raden Mas Soeryokoesomo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo.

Semenjak masa muda Raden Mas Soeryokoesomo telah menunjukkan minat dalam mempelajari ilmu agama Islam. Lalu karena kemampuan yang mumpuni dan ketekunan memperdalam Islam, Paku Buwono V lalu mengganti namanya.

"Maka atas perkenan Kanjeng Susuhunan Paku Buwono V, RM Soerjo koesoemo mengubah namanya sesuai Peparing Dalem Asmo (pemberian nama oleh Sunan, red), nunggak semi dengan ayahandanya menjadi Kanjeng Kiai Zakaria II, yang tiada lain Mbah Jugo," catat naskah tersebut.

Mbah Jugo juga terkenal sangat anti dengan Belanda. Bahkan dirinya pernah menjadi pengawal perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda.

Foto: Edukasi Kopi di Kaki Gunung Kawi? Seperti Apa?

Namun setelah Pangeran Diponegoro ditangkap lalu dibuang ke Makassar, Mbah Jugo lalu berkelana ke Jawa Timur, tepatnya di Kesamben, Kabupaten Blitar.

Melansir dari Budaya Tionghoa, saat itu dirinya menyamar menjadi rakyat biasa demi menghindarkan diri dari Belanda yang pengaruhnya makin kuat di istana. Rute pengembaraan Mbah Jugo adalah sebagai berikut: Yogyakarta-Sleman-Nganjuk-Bojonegoro-Blitar.

Sesampainya di Blitar, Mbah Jugo ternyata kurang menyukai wilayah itu karena masih berdekatan dengan kadipaten yang dikuasai Belanda. Dirinya kemudian berjalan lagi 60 km hingga sampai di tepi Sungai Brantas, Desa Sonan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar.

Dirinya kemudian bertemu dengan Tosiman yang menanyai asal usulnya. Agar tidak dicurigai, Mbah Jugo lalu mengatakan dirinya sedang sajugo (sendirian).

Tetapi Tosiman salah sangka dan mengira nama beliau adalah Sayugo. Inilah muasal sejarah nama panggilan Mbah Jugo dimulai.

Menyembuhkan pegebluk di Jawa

Selain berdakwah, Mbah Jugo juga mengajarkan masyarakat ajaran moral, cara bercocok tanam, pengobatan, serta keterampilan lain yang berguna bagi penduduk setempat. Karena inilah, nama Mbah Jugo kemudian bertambah populer dan dihargai oleh penduduk setempat.

Sementara itu pada 1860-an, secara bersamaan daratan Pulau Jawa terserang penyakit kolera. Tidak terhitung berapa jumlah korban berjatuhan atas peristiwa yang terkenal sebagai pagebluk ini.

Di tengah kepanikan ini, warga desa kemudian mendatangi kandang sapi yang biasanya menjadi tempat tinggal Mbah Jugo. Tetapi pria yang dicari tidak ditemukan batang hidungnya, karena telah masuk ke hutan.

Saat masyarakat bingung, Mbah Jugo kemudian datang dan menenangkan warga yang sedang panik. Mbah Jugo lalu meminta penduduk yang terkena penyakit malaria datang ke kandang sapi.

Sementara bagi para penderita yang tidak bisa berjalan cukup di rumah saja, karena akan diberi air minum yang telah mendapatkan doa dari Mbah Jugo.

Benar saja dalam waktu beberapa hari, penduduk desa ini telah terbebas dari wabah kolera. Berita menggembirakan ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru Pulau Jawa.

"Akhirnya dengan keampuhan ilmu Mbah Jugo, wabah penyakit tersebut berhasil disingkirkan dan masyarakat makin hormat pada Mbah Jugo," tulis Dr. Tashadi dan kawan-kawan dalam Budaya Spiritual Dalam Situs Keramat di Gunung Kawi Jawa Timur, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994/1995.

Legenda 99 Kera Santri Penjaga Petilasan Sunan Kalijaga di Cirebon

Bupati Blitar, yang kala itu dijabat Kanjeng Pangeran Warsokoesoemo pun langsung mendatangi Mbah Jugo untuk meminta kesediaannya mengobati warganya. Singkat kata, Mbah Jugo akhirnya bisa mengobati penyakit kolera yang diderita warga Blitar.

Bupati Blitar kemudian memberikan sebidang tanah seluas 7 hektare yang bebas pajak kepada Mbah Jugo. Karena telah dekat, Mbah Jugo tidak bisa menampik tawaran dari bupati tersebut.

Lalu dari sebidang tanah itu, Mbah Jugo mendirikan pedepokan sekaligus menjadi tempat tinggal hingga dirinya menghembuskan napas terakhir. Pada 22 Januari 1871, Mbah Jugo wafat di Kesamben, Blitar.

Sebelum wafat, dirinya memberikan wasiat agar jenazahnya dimakamkan di Wonosari, lereng Gunung Kawi yang saat itu telah menjadi sebuah perkampungan. Sementara itu pedepokan itu kelak ditempati oleh para siswa beliau, seperti Ki Tasiman, Ki Dawud, dan lain sebagainya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini