Orangutan Kalimantan Terancam Punah, Perlindungan Apa yang Bisa Dilakukan?

Orangutan Kalimantan Terancam Punah, Perlindungan Apa yang Bisa Dilakukan?
info gambar utama

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan satwa endemik yang hidup di daerah hutan hujan tropis di Pulau Kalimantan. Dalam bahasa Dayak, satwa ini disebut tahui. Mereka biasa tinggal di daerah pegunungan dengan ketinggian 1.500 mdpl yang penuh dengan pepohonan lebat kemudian membuat sarang dari daun-daunan.

Spesies ini juga dapat ditemukan di Sarawak, Malaysia dan Kalimantan bagian barat laut. Sebenarnya di Indonesia, ada dua spesies orangutan lain yaitu Sumatra (Pongo abelii) dan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Namun, orangutan Kalimantan termasuk yang populasinya paling sedikit dan mengalami ancaman kepunahan.

Di sekitar habitatnya, primata ini banyak diburu karena dianggap hama dan diperjualbelikan secara ilegal. Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk melindungi spesies ini?

Ancaman nyata bagi kehidupan orangutan Kalimantan

Pada tahun 1994, status konservasi orangutan Kalimantan di International Union for Conservation (IUCN) Redlist adalah endangered (terancam). Kemudian pada Juli 2016, statusnya naik ke level kritis (critically endangered).

Sedangkan dalam Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) sudah masuk dalam daftar Apendiks I, artinya spesies ini tidak boleh diperdagangkan karena rentan terhadap kepunahan. Sementara itu, Pemerintah Indonesia juga telah memasukkan orangutan Kalimantan sebagai satwa yang dilindungi.

Hardi Baktiantoro, Founder Centre for Orangutan Protection, mengatakan kepada Mongabay.co.id bahwa ancaman habitat orangutan bertambah dengan adanya pembangunan infrastruktur untuk ibu kota Indonesia baru di Kalimantan Timur. Selain itu, ditambah dengan adanya perburuan, perdagangan liar, dan kebakaran hutan.

Populasi orangutan semakin mengalami penurunan karena rusaknya habitat, termasuk pembalakan hutan, kebakaran akibat fenomena iklim seperti badan El Nino dan musim kering berkepanjangan, dan menciutnya luas hutan yang dikonversi untuk pertanian, perkebunan, hingga pemukiman.

Birute Marija Galdikas, Sosok Kawan Sekaligus Pahlawan Bagi Orang Utan di Indonesia

Upaya perlindungan

Memberikan perlindungan dan pelestarian terhadap orangutan memang bukan perkara mudah. Yaya Rayadin, Koordinator Peneliti Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (Ecositrop) mengatakan bahwa perlindungan terbaik bagi orangutan adalah melindungi habitatnya.

Dijelaskan Yaya bahwa pemerintah telah mewajibkan pemilik usaha kehutanan untuk menyediakan minimal 10 persen lahan yang dikelola untuk konservasi. "Katakan dengan luasan lahan 100 ribu hektare yang dikelola perusahaan minimal bisa menyediakan 10 ribu hektare untuk konservasi. Itu sudah bisa menyelamatkan satu kelompok populasi orangutan dengan jumlah 100 individu orangutan," kata Yaya, seperti dikutip Republika.co.id.

Sebagai upaya penyelamatan populasi orangutan di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur berkolaborasi dengan Balai Taman Nasional Kutai dan Ecositrop untuk membentuk Tim Satuan Tugas Penyelamatan Orangutan. Sejak tahun 2010, tim satgas tersebut berpatroli untuk melindungi orangutan beserta habitatnya.

Adapun habitata yang mendukung kembangbiak orangutan adalah memiliki kanopi hutan yang bagus, tajuk pohon lebat, dan memiliki produktivitas pohon buah tinggi.

Di sisi lain, pihak WWF juga bekerjasama dengan pemerintah Indonesia, organisasi dan masyarakat lokal demi menyelamatkan dan mengurangi kerusakan habitat orangutan. WWF melaksanakan kegiatan konservasi dengan memfasilitasi terciptanya jaringan dari kawasan-kawasan lindung sebagai sebuah kawasan untuk melindungi spesies kunci seperti orangutan, menghubungkan kawasan lindung dengan koridor satwa yang dikelola dengan teliti agar orangutan bisa bergerak dengan leluasa.

WWF juga memastikan kawasan di perbatasan Borneo yang statusnya tidak dilindungi agar dapat dipertahankan sama seperti kawasan hutan dengan cara dikelola secara berkelanjutan. Dalam keterangannya, WWF memperkirakan bahwa lebih dari 70 persen populasi orangutan Kalimantan berada di luar kawasan dilindungi.

Ada beberapa program konservasi orangutan yang telah dijalankan WWF di Kalimantan tepatnya di Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum, serta koridor satwa yang ada di antaranya, yang difokuskan untuk orangutan Kalimantan.

Termasuk Satwa Endemik yang Paling Dijaga, Berapa Populasi Gajah Sumatra Saat Ini?

Mengapa spesies ini perlu dilindungi?

Dijelaskan M. Arif Rifqi, Praktisi Konservasi Habitat Satwa Terancam Punah dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara, orangutan Kalimantan merupakan spesies payung dan aktivitasnya sangat berpengaruh pada ekosistem di sekitar. Misalnya, dengan daya jelajah yang luas, orangutan dapat menyebarkan biji dari buah-buah hutan yang ia makan dan keluar lewat kotoran.

Mungkin nampak sederhana, tetapi keberadaan biji dari feses orangutan berkualitas baik dan bisa tumbuh subur dengan lebih baik pula jika dibandingkan dengan biji dari persemaian atau ditanam oleh manusia. Kata Arif, orangutan adalah agen regenerasi hutan terbaik. Keberadaan orangutan juga diharapkan dapat melindungi spesies lain yang ada di sekitarnya.

Morfologi orangutan Kalimantan

Secara umum, morfologi orangutan Kalimantan tidak jauh berbeda dari spesies orangutan Sumatra. Ia hidup di siang hari (diurnal) dan merupakan hewan arboreal yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di atas pohon. Hewan ini memiliki tubuh besar, gemuk, berlengan panjang dan kuat untuk meraih makanan seperti buah dan berayun dari pohon ke pohon, tetapi kakinya pendek dan tidak punya ekor.

Tubuhnya ditutupi oleh bulu berwarna merah kecokelatan. Ia pun memiliki jakun yang bisa digelembungkan dan menghasilkan suara keras. Biasanya ia mengeluarkan suara keras untuk memanggil dan memberitahu keberadaannya. Orangutan jantan memiliki bobot tubuh hingga 90 kilogram, sedangkan betinanya sekitar 56 kilogram. Masa hidupnya mencapai 56 tahun bila dalam perlindungan dan sekitar 35-45 tahun di alam bebas.



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini