Mengintip Desa Bonjeruk, Destinasi Wisata Dekat Sirkuit Mandalika

Mengintip Desa Bonjeruk, Destinasi Wisata Dekat Sirkuit Mandalika
info gambar utama

Kawasan Mandalika tengah banyak bebenah guna menyambut kedatangan wisatawan pada ajang MotoGP 2022. Penyelenggaraan seri kejuaraan balap motor kelas utama ini menjadi kesempatan untuk membangkitkan pariwisata di Nusa Tenggara Barat yang sempat lesu karena dilanda pandemi.

Selama menyaksikan ajang balapan tersebut, diharapkan para penontonnya juga menjelajahi destinasi wisata yang ada di sekitar Mandalika, seperti misalnya Desa Bonjeruk.

Desa Bonjeruk terletak di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Lokasinya bisa ditempuh sekitar 30 menit dari Bandar Udara Internasional Lombok. Sebagai salah satu desa wisata yang menjadi penyangga MotoGP Sirkuit Mandalika, Desa Bonjeruk juga sedang memaksimalkan potensinya.

Pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan menyiapkan pelatihan serta pendampingan untuk Desa Bonjeruk. Hal ini dilakukan demi meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang tujuannya tentu agar potensi pariwisatanya lebih maksimal dan masyarakat desa bisa memberikan pelayanan terbaik bagi wisatawan yang datang.

Sebagai desa wisata yang lokasinya dekat dengan Sirkuit Mandalika, kira-kira apa yang menarik dari Desa Bonjeruk?

Berwisata Sambil Mempelajari Kesenian Tradisional di Desa Gegesik Kulon Cirebon

Daya tarik Desa Bonjeruk

Sebelum membahas daya tarik desa ini, Anda mungkin penasaran dengan namanya yang mengingatkan kita pada kata buah jeruk. Desa ini bukanlah kawasan perkebunan jeruk, namanya diambil dari kata bun atau buwun dan jeruk.

Bun sendiri berarti sumur dan jeruk secara harfiah memang menggambarkan buah jeruk. Di desa ini terdapat 13 sumur yang tak henti-hentinya mengeluarkan air dan di sekitarnya terdapat pohon jeruk yang juga tak pernah berhenti berbuah sepanjang tahun.

Melansir laman Hikayatjonggat.com, sumber air dari sumur tersebut sangat menolong warga setempat bila mengalami kekeringan dan memang masih digunakan untuk mandi, mencuci, hingga air minum.

Soal daya tarik Desa Bonjeruk, salah satunya adalah dari sisi sejarah desa. Pada masa kolonial, desa ini pernah jadi pusat pemerintahan Kedistrikan Hindia-Belanda. Kini, peninggalan dari era tersebut masih bisa dilihat dari banyaknya bangunan tua dengan arsitektur bergaya Eropa yang mudah ditemukan di Bonjeruk.

Tentunya hal tersebut menjadikan Desa Bonjeruk tergolong unik. Sebab kebanyakan desa wisata di Indonesia menawarkan pemandangan alam berupa pegunungan, persawahan, air terjun atau pantai. Keberadaan bangunan tua tersebut juga menjadi pemandangan menarik karena kontras dengan suasana pedesaan yang asri.

Salah satu bangunan ikonik di Desa Bonjeruk adalah gapura berwarna krem dengan tulisan Bondjeroek den 10 mei 1833 yang melambangkan waktu pembangunannya. Gapura tersebut merupakan gerbang masuk menuju kawasan perumahan berdesain art deco yang juga peninggalan dari zaman Belanda. Rumah tersebut merupakan lokasi pusat pemerintahan tingkat Distrik Jonggat.

Menurut penjelasan Wiryadi, Ketua Harian Pokdarwis Wirajaya Putrajaya Jonggat, bangunan bersejarah tersebut akan dimaksimalkan untuk pengambangan wisata sejarah di Desa Bonjeruk. Kini, bangunan tersebut sedang ditata dan akan dibangun museum agar pengunjung bisa mempelajari sejarahnya lebih dalam.

Daftar Lengkap Para Pemenang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021

Agrowisata dan kuliner di Desa Bonjeruk

Desa Bonjeruk memiliki konsep desa wisata berbasis lingkungan dan budaya. Kawasan pedesaan ini didominasi oleh lahan pertanian, mulai dari padi, kedelai, jagung, aneka sayur-mayur, dan buah-buahan. Banyak masyarakat desa yang memelihara hewan ternak seperti sapi, kambing, ayam, dan itik. Sebagian besar warga Bonjeruk juga bekerja sebagai petani dan peternak.

Memiliki alam yang subur, tak heran hal ini juga menjadi potensi agrowisata. Mengunjungi Desa Bonjeruk, pengunjung bisa menyaksikan berbagai kegiatan yang menyangkut pertanian, persawahan, perkebunan buah, hingga perdagangan hasil bumi. Serunya, pengunjung juga dapat mencicipi langsung buah-buahan yang baru dipetik dari kebun.

Selain itu, berjalan-jalan menyusuri sawah juga menjadi kegiatan yang bisa dilakukan pengunjung selama berwisata di Desa Bonjeruk. Setelah itu, bisa juga mencoba permainan tradisional yang sering dimainkan warga, seperti egrang dan gangsing. Kegiatan yang tak kalah menarik adalah membaca lontar, hikayat dalam Bahasa Sasak.

Tak hanya itu, Desa Bonjeruk juga memiliki berbagai kuliner nikmat yang sayang untuk dilewatkan. Untuk mencobanya, pengunjung bisa datang ke Pasar Bambu sebagai sentra wisata kuliner.

Salah satu menu andalan yang wajib dicoba adalah nasi ayam merangkat. Hidangan khas Bonjeruk ini terdiri dari ayam kampung panggang yang disajikan bersama sambal monte atau limau, sayur bening, telur rebus, dan sambal pedas.

Ayam merangkat biasanya dihidangkan ketika ada warga yang menikah. Untuk menyambut kedua mempelai, sebelumnya keluarga akan memotong puluhan ayam kemudian dibakar dan dilumuri sambal. Makanan ini dibuat sebagai lambang rasa syukur keluarga karena anak mereka akan menikah.

Meski identik dengan rasa pedas, khusus untuk wisatawan asing rasanya disesuaikan dengan lidah mereka yang tidak menyukai pedas seperti kebanyakan orang Indonesia.

Selain ayam merangkat, di Desa Bonjeruk juga menyediakan paket begawe yang terdiri dari sekumpulan menu masakan lokal. Biasanya menu-menu ini disajikan dalam acara pernikahan, sunatan, dan syukuran. Menunya terdiri dari sate kuncung, ares, daging, tum ayam, dan sayur ebatan.

Mempelajari Budaya Sunda di Kampung Budaya Sindang Barang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini