Buah Jeruk, Simbol Keberuntungan dalam Perayaan Imlek

Buah Jeruk, Simbol Keberuntungan dalam Perayaan Imlek
info gambar utama

Tahun Baru Imlek identik dengan buah jeruk, anggota famili Rutaceace itu melambangkan hoki dan panjang umur. Itulah sebabnya biasanya permintaan tanaman buah dalam pot atau tabulampot jeruk meningkat tajam menjelang Imlek.

“Jeruk disebut sebagai buah wajib saat Imlek. karena itu pedagang memanfaatkan perayaan Imlek untuk berniaga jeruk,” tulis Trubus dalam buku berjudul Memburu Jeruk Imlek.

Seorang pedagang di Meruya, Jakarta Barat bernama Frans mendatangkan 3.000 tabulampot jeruk dari Tiongkok pada Januari 2019 atau sebulan sebelum Imlek datang. Jenisnya jeruk chusa dan jeruk kim kit atau kip. Tanaman setinggi rata-rata 70-200 cm itu sarat buah.

Kulit buah yang kuning cerah amat kontras dengan hijau daun. Menurut Frans, warna jeruk diyakini sama dengan simbol warna emas atau kekayaan yang dipercaya oleh masyarakat Tionghoa. Dengan permintaan yang besar saat Imlek terntunya akan makin melimpah rezeki bagi pedagang.

Frans menjual tabulampot jeruk Rp500 ribu hingga Rp7 juta per pot tergantung ukuran dan kelebatan buah. Makin tinggi tanaman, bagus bentuk, dan banyak buah makin mahal. Menjelang Imlek 3.000 tabulampot itu sudah ludes terjual.

Mengenang Menteng, Buah Asli Indonesia yang Kini Semakin Langka

Warga Tionghoa memang sangat senang memajang tabulampot jeruk daripada memetik buah untuk konsumsi. Walau rasa buahnya masam, jeruk sering dijadikan sebagai lambang keharmonisan dan hubungan antar keluarga.

“Hal ini karena pohon jeruk buahnya selalu berkumpul dan menyatu saat berbuah. Itu merupakan simbol kedekatan hubungan keluarga,” bebernya.

Arya Vandana seorang penjual tabulampot dari Kelapa Gading, Jakarta Uara juga memasarkan tabulampot jeruk. Arya menyediakan 50 tabulampot jeruk kip setinggi 40 – 50 cm seharga Rp550 ribu. Semua jeruk itu juga ludes menjelang Imlek.

Penjual tabulampot di Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Saafat Ruswandi Efendi menyebut pasar menghendaki tabulampot jeruk yang lebat dan buah matang berwarna kuning.

Dia mengaku mampu memasarkan hingga 100 tabulampot jeruk menjelang Imlek. Jumlah itu sesuai pesanan dari Jakarta. Sebulan sebelum Imlek, dia mempersiapkan bibit berumur 1-2 tahun. Pemilik kios Nusa Indah Flora ini menjual tabulampot jeruk setinggi 70 cm Rp250 ibu.

Omzet menjual tabulampot jeruk setinggi 70 cm Rp250 ribu artinya omzet menjelang Imlek Rp25 juta. Sementara di luar Imlek, Aat – panggian Safaat Ruswandi Efendi –rata-rata menjual 5 tabulampot dengan harga sama. Sedangkan Aat menanam 2-3 pohon dalam 1 pot agar berbuah manis.

Jeruk dan makna keberuntungan ketika Imlek

Larisnya jeruk saat Imlek tidak lepas dari kepercayaan yang dianut keturunan Tionghoa secara turun-temurun. Jeruk Imlek yang memiliki warna kuning menyala dianggap sebagai sebuah simbol emas alias kekayaan.

Dalam bahasa Mandarin, jeruk disebut juzi dekat pelafalannya dengan ji.ji yang memiliki arti keberuntungan. Artinya karena memiliki kemiripan pelafalan maka jeruk identik dengan keberuntungan. Selain itu, jeruk oranye atau jeruk mandarin juga menyimbolkan warna emas.

Simbol ini menggambarkan harapan, bahwa sepanjang tahun ke depan akan dilingkupi keberuntungan dan kesejahteraan. Warna emas serta dengan warna merah sama menyimbolkan keberuntungan. Maka tak heran jika setiap perayaan Imlek, mayoritas aksesoris berwarna kombinasi, merah dan emas.

Kepercayaan lain yang tak kalah penting, jeruk yang berbuah banyak melambangkan keluarga. Dompolan buah yang menyatu dimaknai sebagai persatuan dalam keluarga. Sedangkan rasa manis asam dan penampilan keseluruhan yang cantik dipercaya mendatangkan keharmonisan keluarga.

“Keluarga makmur dan harmonis tentu menjadi idaman setiap orang,” kata William Widranata seorang pedagang buah.

Satu lagi yang disukai warga Tionghoa dari jeruk imlek asli dari China ini sanggup bertahan 4-6 bulan. Terutama untuk jenis lazim yakni jeruk klip alias kimkit. Sementara jenis sakam, tergolong jeruk besar, bertahan hingga 4 bulan.

Mengenal Ragam Buah Asli Indonesia (Bagian 1)

“Siapa pun pasti bangga punya tanaman buah dalam pot selalu berbuah,” ujar Eddy Suharry yang telah mengimpor jeruk imlek sejak 20 tahun silam.

Dalam laman Asiaone, jeruk imlek mulai tersebar luas sejak awal abad ke 19. Jeruk ini memiliki rasa yang segar dan berwarna oranye terang. Banyak jenis jeruk terbaik justru baru tumbuh saat pertengahan musim dingin dan pertengahan musim semi.

Cara menyimpannya mudah, jauhkan jeruk dari kelembapan dan suhu tinggi. Hindari menggunakan wadah yang dalam dan cobalah untuk tidak menumpuk jeruk ini. Anda juga dapat menyimpan jeruk ini di dalam kulkas selama beberapa hari.

Menurut Andreas Lumampauw Koko Jakarta 2019, buah jeruk memang melambangkan sesuatu yang segar dan manis dalam menyambut perayaan Imlek. Menjadi sebuah simbol untuk lebih semangat dan menyambut tahun baru.

“Dan, kebetulan memang jeruk itu buah yang segar dan bervitamin baik untuk tubuh. Kebetulan memang sedang musim jeruk yang membuat jeruk tumbuh subur,” ujarnya.

Jeruk imlek masuk Indonesia

Jeruk imlek masuk ke Indonesia pada era 1980-an, Ketika itu jeruk masih dikirim dari Malaysia dan Singapura. Baru pada akhir 80 an dan awal 90 an importir mendatangkan langsung dari sentral jeruk imlek di China.

Di sebuah distrik di Provinsi Guangdong, terdapat sebuah daerah yang menjadi perkebunan tabulampot jeruk. Menurut Eddy, pemandangannya seperti singkong di Lampung, hampir setiap penduduk punya kebun.

Distrik Shunde, Kota Foshan, Provinsi Guangdong, sebagai sentral jeruk di China kemudian dikirim ke mancanegara setiap menjelang akhir tahun. Menurut Eddy, pasar mereka ialah Hongkong, Singapura, Indonesia, dan Malaysia.

Hongkong menjadi penyerap jumlah jeruk imlek paling banyak. Seperti halnya Indonesia, konsumen mereka ialah warga negara keturunan China. Ketergantungan empat negara itu pada jeruk dari China bukan tanpa sebab.

Mantan direktur Buah Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian, Dr Winarto MSc menyebut daratan Tiongkok memang cocok untuk penanaman jeruk yang aslinya buah subtropic. Hal ini memang terlihat dari produksinya yang jauh lebih tinggi.

Mengenal Ragam Buah Asli Indonesia (Bagian 2)

Sementara itu memajang jeruk pada saat tahun baru Imlek juga membudaya di Indonesia. Terutama dilakukan oleh mereka yang memiliki hubungan kekerabatan kuat dengan daratan China, Taiwan dan Hongkong.

Rangkaian yang dibuat sangat bervariasi. Ada rangkaian mini setinggi 30 – 40 cm yang cocok sebagai hiasan meja. Ada juga yang berbentuk kapsul raksasa atau disusun berjenjang delapan. Angka delapan memang favorit bagi masyarakat Tionghoa.

Angka itu melambangkan rezeki yang tidak putus seperti cara penulisan angka delapan. Selain bentuk, jenis yang dirangkai pun beragam. Sebut saja kimkit, chu sa, dan sakam. Masyarakat Tionghoa di Indonesia mengenal kimkit sebagai jeruk imlek.

Buah kimkit berukuran kecil sebesar bola pingpong dan berwarna kuning. Dia memang cantik sebagai pajangan lantaran buahnya lebat. Jenis lain yang juga tak kalah menarik adalah chu sa. Di tanah air, dia tergolong baru.

Beda dengan kimkit, chu sa memiliki rasa manis dengan sedikit masam. Jeruk ini pantas untuk pajangan Imlek karena pantat buah rata jadi cukup bagus bila ditata sebagai rangkaian. Chu sa juga tidak pelit berbuah, dia masih kuat melekat ditangkai sampai tiga bulan setelah menguning.

Sementara sakam lebih menakjubkan lagi, ukuran buah paling raksasa seperti jeruk bali. Sama seperti chu sa, sakam juga enak dimakan, Meski tak selebat kimkit, tetapi penampilan sakam tetap cantik sebagai penghias rumah saat imlek.

Pantas harganya pun mahal. Tabulampot setinggi 1,2 m dibandrol Rp3 juta/pot. Namun, demi berharap keberuntungan di Tahun Baru Imlek. Selalu menjadi kewajiban memajang kimkit, chu sa, dan sakam di kediaman.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini