Slup-Slupan, Tradisi Syukuran Menempati Rumah Baru Bagi Masyarakat Jawa

Slup-Slupan, Tradisi Syukuran Menempati Rumah Baru Bagi Masyarakat Jawa
info gambar utama

Ada banyak cara yang dilakukan setiap orang sebagai wujud rasa syukur ketika memperoleh karunia atau berbagai macam rezeki, salah satunya ketika memiliki rumah baru. Masyarakat Indonesia sendiri secara umum selama ini lekat dengan kebiasaan syukuran ketika hendak menempati rumah yang akan dijadikan tempat bernaung untuk tinggal.

Namun jika membahas lebih spesifik mengenai perbedaan adat dan budaya, sebenarnya tiap daerah di tanah air memiliki caranya masing-masing untuk merefleksikan rasa syukur yang dimaksud.

Misalnya saja masyarakat Jawa yang selama ini ternyata juga memiliki ritual atau cara tersendiri yang dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur ketika menghuni rumah baru, yakni melalui tradisi Slup-Slupan yang saat ini masih bisa ditemui praktiknya pada salah satu desa yang memang dikenal akan kekentalan nilai tradisi yang masih dijaga, yakni Desa Sangiran.

Menyusuri Jejak Manusia Purba di Desa Sangiran yang Diakui UNESCO

Dianggap sebagai momen sakral

Tradisi slup-slupan
info gambar

Bukan hanya dikenal sebagai lokasi dari situs manusia purba yang dibanggakan dan diakui UNESCO, kawasan yang ditetapkan sebagai desa wisata ini banyak disorot karena masih memegang teguh berbagai tradisi yang sudah ada secara turun-temurun sebagai warisan budaya dari nenek moyang.

Secara khusus bagi masyarakat Situs Sangiran lebih tepatnya di wilayah Dusun Ngampon, kebiasaan syukuran saat menempati rumah baru baik dalam bentuk selesai dibangun atau dibeli lebih dikenal dengan istilah slup-slupan.

Bagi masyarakat setempat, momentum pindah rumah baru masih dianggap sebagai saat yang sakral, sebagai penanda awal sekaligus pengharapan agar diberikan keselamatan dalam menghuni rumah bagi pemiliknya. Sama halnya seperti kebiasaan syukuran yang saat ini sering dijumpai, prosesi selamatan ini dimulai dengan mengundang keluarga besar dan tetangga sekitar, biasanya yang berada dalam wilayah satu dusun.

Setelah tamu undangan hadir, ubo rampe atau sesajian berupa nasi gurih beserta lauk pelengkap diletakkan di tengah undangan dan kemudian didoakan bersama-sama. Setelahnya ubo rampe tersebut dibagi untuk dimakan bersama-sama dengan seluruh kerabat yang hadir.

Hal yang membuat slup-slupan berbeda dengan tradisi syukuran di masa kini dapat dilihat dari segi ritual khusus yang tak boleh dilewatkan. Dalam prosesnya, akan ada orang atau biasanya pemilik rumah yang memegang sapu lidi untuk menyapu, dan satu orang lagi memegang lampu minyak beserta tempat air.

Dua orang tersebut akan berdoa terlebih dahulu di depan rumah kemudian mengitari rumah dengan menyapu dan menyirami sekeliling rumah dengan air. Prosesi tersebut bermakna agar rumah menjadi adem (nyaman) dan tenteram.

Sapu lidi dan kegiatan menyapu memberikan makna agar semua kotoran yang ada bersih, baik kotoran fisik maupun nonfisik, sedangkan lampu memiliki makna agar mendapat pencerahan dalam hidup bagi para penghuni rumahnya.

Selain itu, dilakukan juga pemasangan padi, tebu, dan kelapa di posisi tengah atap rumah, yang dimaksudkan agar pemilik rumah mendapat penghidupan yang baik sehingga hidup mereka terjamin.

Kekinian, disebutkan jika meski masih mengedepankan tradisi Jawa tapi praktiknya sudah sangat dipengaruhi nilai-nilai Islam, di mana kembang setaman masih digunakan dalam proses ritual tersebut tetapi sudah tidak menggunakan kemenyan lagi pada pelengkap sesajian ubo rampe.

Satu hal yang tak boleh terlupakan dari kebiasaan masyarakat Jawa, adalah pelaksanaan ritual atau tradisi slup-slupan yang dilakukan dengan memperhitungkan hari baik sesuai pertanggalan Jawa.

Rumoh Aceh, Arsitektur Rumah Adat Tahan Gempa yang Awet 200 Tahun

Berlaku untuk tempat kerja

Slup-slupan yang diterapkan pada tempat kerja
info gambar

Sementara itu jika membahas penerapannya di era yang lebih modern seperti saat ini, pelaksanaan ritual slup-slupan rupanya tidak hanya digelar bagi seseorang yang akan menempati rumah tinggal baru saja, melainkan juga berlaku bagi penempatan untuk keperluan lainnya semisal lokasi untuk tempat kerja.

Dari segi pelaksanaan tidak ada yang berbeda di mana prosesinya masih sama persis, hanya saja para pelaku ritual sakral ini berjumlah lebih banyak. Salah satu praktik tradisi slup-slupan yang dilakukan di tempat kerja sempat diterapkan oleh kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Karanganyar.

Para partisipan upacara sakral ini mengenakan baju adat jawa berupa beskap untuk pria dan kebaya bagi wanita, dengan membawa air dalam kendi dan tanaman akar wangi. Karena lebih modern, ubo rampe berupa nasi gurih digantikan dengan nasi tumpeng yang juga disertai dengan lauk-pauknya.

Begitu tiba di kantor baru, air yang telah dicelup akar wangi kemudian dicipratkan ke sudut-sudut kantor, sambil memanjatkan doa agar berbagai hal yang berlangsung di tempat baru tersebut diberkahi. Hingga saat ini, prosesi sakral slup-slupan dipandang sebagai bentuk tirakat masyarakat Jawa yang lazim dilakukan jelang menempati rumah atau tempat bernaung baru.

76 Rumah Gadang Tua Menghiasi Perkampungan Adat di Nagari Sijunjung

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini