Alfred Wallace dan Misteri Sulawesi yang Menghantui Hingga Akhir Hayatnya

Alfred Wallace dan Misteri Sulawesi yang Menghantui Hingga Akhir Hayatnya
info gambar utama

Sulawesi merupakan pulau yang khas dan terletak di antara dua benua yaitu Asia dan Australia. Wilayah ini memiliki tingkat endemisitas yang tinggi dalam hal flora dan fauna, serta memiliki perbedaan dengan dengan daerah lain.

Orang-orang tua dahulu menyebut, pada awalnya tidak ada Sulawesi, yang ada hanyalah laut di antara dua pulau. Kemudian keduanya bertabrakan dan terbentuklah pulau ini. Karena itu bentuk pinggangnya bergunung-gunung, banyak aliran sungai, besi serta emas.

Bentukan Sulawesi kini hasil dari geologi yang sangat kompleks. Banyaknya gunung-gunung, danau, dan sungai serta dataran tinggi yang berlipat-lipat merupakan wajah Sulawesi yang sangat jauh berbeda dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Naturalis terkemuka asal Inggris, Alfred Russel Wallace menjelajah pulau ini antara rentang tahun 1856 sampai dengan 1859 dan selama perjalanannya itu, dia membagi Indonesia berdasarkan persebaran faunanya, kelak disebut garis Wallace.

Namun sebelum itu semua, Wallace mengalami tahun-tahun penuh dengan pesona dan kebingungan. Hal ini dirasakannya setelah menyadari bahwa banyak spesies endemis yang ada di Pulau Sulawesi yang tidak dia temukan di belahan bumi lainnya.

Seperti halnya Charles Darwin yang mengagumi Pulau Galapagos, Wallace sangat terpukau dengan satwa endemis yang ditemuinya di Sulawesi. Februari 1858, sesaat setelah kepulangannya dari Manado, Sulawesi Utara, dirinya menulis surat kepada Darwin.

Orang Utan dalam Catatan Kelam Masa Silam

Di Ternate, Maluku Utara, Dirinya terserang demam, kemungkinan karena malaria. Tetapi dari kamar itulah dirinya menulis surat serta melampirkan makalah pendek yang diberi judul On The Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type.

Makalah yang ditulis tangan dengan tergesa-gesa selama dua malam itu merangkum lebih dari sepuluh tahun penelitian. Dirinya menggabungkan berbagai petunjuk dari penyebaran satwa di bentang alam dengan berbagai keragaman fenomena di dalam spesies.

Wallace mencoba menggugat, mengapa ada spesies yang mati dan sebagian lagi mampu bertahan? Hal dirinya jawab sendiri, bahwa di antara sesama satwa liar itu mereka bersaing untuk bertahan hidup.

“Hanya varian yang paling cocok dengan keadaan lingkunganlah yang sanggup bertahan,” jelas Wallace yang tertuang dalam tulisan Ahmad Arif dan kawan-kawan berjudul Inilah Sulawesi yang Memikat Wallace.

Makalah ini, jelas Arif, memberi jawaban bagi Darwin tentang fenomena seleksi alam yang hingga tahun itu belum dirumuskannya. Wallace menyebut perubahan kondisi fisik itu mungkin akan mengaburkan, bahkan menyebabkan kepunahan ras.

“Kijang dengan kaki lebih pendek atau lebih lemah akan lebih mudah diserang harimau,” kata Wallace.

Karena itu, jelas Wallace, kijang yang mampu bertahan hidup adalah yang memiliki kaki kuat. Dengan proses yang sama, hal ini menjawab mengapa jerapah berleher panjang, karena leher pendek, akan sulit mewariskan keturunan yang sanggup bertahan hidup.

Tulisan dari Wallace ini ditutup dengan sebuah kesimpulan, bahwa ada kecenderungan di alam untuk terus mengembangkan tipe tertentu yang semakin jauh dari aslinya, perkembangan yang tampaknya tidak terbatas.

Surat dan makalah Wallace dari Ternate ternyata menjadi tonggak penting bagi Darwin. Pada 1859, ketika Wallace masih menjelajahi hutan di Nusantara, Darwin menerbitkan bukunya, Origin of Species.

“Buku berisi uraian lebih rinci tentang proses seleksi alam yang memicu evolusi itu kian mempopulerkan Darwin sebagai “Bapak Evolusi”, sementara Wallace cenderung dilupakan,” jelas Arif.

Sulawesi menghantui Wallace

Wallace, pada waktu bersama juga mengirim makalah untuk diterbitkan di Linnean Society berjudul On the Zoological Geography of the Malay Archipelago (1859). Dalam makalahnya, dia menuliskan Nusantara terbagi menjadi dua wilayah penyebaran fauna, satu di timur dan lainnya di barat.

Bila ditarik garis melalui Selat Makassar dan Selat Lombok, maka di sebelah barat garis itu akan bisa ditemukan satwa khas Asia, sedangkan di timur akan didapati satwa khas Australia.

Padahal, kedua wilayah ini memiliki kondisi iklim dan habitat yang mirip. Delapan tahun kemudian, seorang ahli anatomi, Thomas H Huxley, menyebut batas demarkasi penyebaran fauna di Nusantara ini sebagai garis Wallace.

Pulau Kecil Di Timur Indonesia, Tempat Ditulisnya Teori Evolusi

Namun, jelas Arief, Wallace belum puas dengan kesimpulannya soal Sulawesi. Hal ini, katanya, masih menghantui Wallace hingga menjelang akhir hayatnya. Dalam tulisan-tulisannya yang diterbitkan tahun 1859 dan 1863-1867, dirinya menempatkan Sulawesi di bagian timur.

Namun, dalam bukunya The World of Life yang diterbitkan tahun 1910 atau tiga tahun sebelum kematiannya, Wallace kemudian merevisi posisi Sulawesi menjadi kelompok pulau-pulau di barat garis itu.

Dirinya menyebut secara khusus bahwa posisi Sulawesi sebagai Anomalus Island atau Pulau Anomali dalam buku Island Life. Fauna Sulawesi, ucap Wallace, sangat berbeda dengan dua bagian Nusantara sehingga sangat sulit memutuskan di mana posisi pulau ini.

Kumpulan fauna yang mengejutkan

Sulawesi yang terletak di tengah-tengah hamparan Kepulauan Nusantara, kemudian dikepung dari berbagai sisi oleh pulau-pulau dengan ragam kehidupan bervariasi. Membuat karakteristik fauna Sulawesi sangat mengejutkan.

Arief menyebut posisi Sulawesi seharusnya membuat pulau ini kaya fauna yang bermigrasi dari segala penjuru. Di wilayah ini memang ada sebagian satwa yang memiliki ciri Australia dan Asia.

“Hal itulah yang membuat Wallace berpikir bahwa sebagian Sulawesi kelihatannya pernah bersatu dengan Asia dan sebagian lagi pernah bersatu dengan Australia,” jelas Arief.

Tetapi hal yang menarik adalah hanya sedikit spesies fauna pendatang di Sulawesi dibandingkan dengan pulau lain. Misalnya, jumlah mamalia dan burung di wilayah ini kurang dari separuh di Pulau Jawa.

Padahal, wilayah Sulawesi jauh lebih luas dibandingkan dengan Jawa. Sebaliknya, fauna khas Sulawesi justru sangat berlimpah. Hal yang ditulis oleh Wallace bahwa Sulawesi memiliki jumlah spesies endemis yang mengagumkan.

Di Sulawesi, Wallace banyak meneliti keragaman kupu-kupu. Dia mendata dari 48 spesies kupu-kupu yang ditemukan, 35 jenis di antaranya adalah endemis. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Jawa yang hanya memiliki 23 spesies endemis dari 70 kupu-kupu yang ditemukan.

Cekakak-pita Biasa, “Dewi Laut” yang Dipuja Alfred Russel Wallace

Wallace tidak membuat data yang rinci mengenai mamalia endemis Sulawesi. Namun dirinya menyebutkan beberapa satwa Sulawesi yang menurutnya ajaib, seperti babi rusa, anoa, dan monyet hitam (yaki).

“Dengan demikian kita melihat bahwa mamalia Sulawesi tidak kurang khasnya dibandingkan burungnya, karena tiga spesies paling besar dan menarik tidak memiliki kerabat dekat dengan negeri-negeri di sekitarnya, tetapi tampak sangat samar-samar dalam menunjukan hubungannya dengan hewan yang ada di benua Afrika,” tulis Wallace dalam Sejarah Nusantara The Malay Archipelago.

Wallace memastikan bahwa Sulawesi merupakan salah satu bagian pulau yang tertua di Nusantara. Sedangkan, dia juga berspekulasi bahwa ada sebuah benua di Samudera Hindia yang bisa berfungsi sebagai jembatan untuk menghubungkan negara-negara yang jauh ini.

Anomali Sulawesi ini memang membuat dirinya mencari jawaban pada proses geologi yang membentuk pulau ini. Dirinya menduga keunikan satwa Sulawesi terkait dengan perubahan permukaan Bumi pada masa lalu, sebuah konsep aneh, tetapi belakangan terbukti benar.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini