Menikmati Karya Seni Sang Maestro di Museum Affandi Yogyakarta

Menikmati Karya Seni Sang Maestro di Museum Affandi Yogyakarta
info gambar utama

Para pencinta seni lukis di Tanah Air tentu sudah tak asing dengan nama Affandi. Seniman kelahiran Cirebon, Jawa Barat, tersebut dikenal dengan karya-karyanya yang beraliran ekspresionisme atau abstrak. Tak hanya dikenal di negeri sendiri, karya-karyanya juga telah dipamerkan di berbagai negara.

Termasuk seniman berpengaruh di Indonesia, nama Affandi juga disebut sebagai maestro seni lukis. Meski sosoknya kini telah tiada, tetapi kita tetap bisa menikmati karya-karyanya di Museum Affandi yang ia bangun tahun 1962 di tepi Sungai Gajah Wong, Yogyakarta. Museum tersebut dibangun dari hasil penjualan lukisan-lukisan sang seniman dan merupakan bentuk dedikasinya terhadap seni rupa.

Menjadi salah satu daya tarik wisata di Yogyakarta, berikut hal-hal menarik yang bisa ditemukan di Museum Affandi:

Menjelajahi Wisata Sejarah di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Menikmati karya seni di Museum Affandi

Museum Affandi berada di Jalan Laksda Adi Sucipto dan menempati lahan seluas 3.500 meter persegi. Bangunan museum terdiri dari galeri dan bangunan pelengkap seperti tempat pembelian tiket, studio, dan rumah yang dihuni Affandi beserta keluarga.

Keunikan pertama yang dapat dilihat pengunjung dari museum ini adalah konsep bangunan dibuat serupa lembaran daun pisang. Rupanya hal ini memang merupakan ide Affandi yang ia dapatkan dari pengalaman masa kecilnya.

Saat itu, ada wabah cacar air dan belum ada cara untuk menyembuhkannya, bahkan vaksin dan obat-obatan pun belum tersedia. Kakak-kakak Affandi pun terkena cacar air dan orang tuanya menggunakan daun pisang untuk menutupi tubuh mereka agar dingin dan tidak diserbu lalat. Dari pengalaman tersebut menjadi inspirasi Affandi untuk membuat bangunan rumah panggung dengan atap berbentuk pelepah daun pisang.

Memasuki kompleks museum, pengunjung bisa menyambangi tiga galeri dengan koleksi berbeda. Galeri I seluas 314,6 meter persegi diresmikan tahun 1974 dan menjadi ruang pameran bagi hasil karya lukis Affandi yang terdiri dari sketsa di atas kertas, cat air, pastel, lukisan cat minyak di atas kanvas, dan sejumlah reproduksi pilihan. Di Galeri I, terdapat lukisan Affandi dari awal berkarya hingga tahun-tahun terakhir sebelum sang seniman berpulang.

Beberapa lukisan yang dipamerkan antara lain "Self Portrait" tahun 1938, "Affandi And Kartika (Potret met dochter)" tahun 1939, Nude (My Wife Maryati) tahun 1940, "He Comes, Waits and Goes" tahun 1944, dan "Line Up For Rice in Jakarta" tahun 1948.

Ada pula patung-patung dari tanah liat, semen, dan reproduksi patung yang menggambarkan Affandi dn putrinya, Kartika, dengan mobil kesayangan sang seniman yaitu Mitsubishi Gallant 1976.

Beralih ke Galeri II yang dibuka tahun 1988. Bangunan seluas 351,5 meter persegi ini terdiri dari dua lantai, di mana lantai pertama merupakan ruang pameran dan lantai dua menjadi tempat penyimpanan lukisan. Galeri tersebut memamerkan koleksi lukisan Affandi yang dijual dan menampilkan karya seniman populer lain seperti Sudjojono, Hendra Gunawan, Barli, dan Mochtar Apin. Kemudian ada pula karya seni seperti instalasi dan patung dari berbagai seniman lokal.

Setelah Galeri II, Galeri III dibangun untuk memenuhi keinginan sang maestro untuk memiliki gudang yang cukup untuk menyimpan karya seni dan koleksinya. Galeri ini diresmikan tahun 2000 dan memiliki tiga lantai untuk ruang pameran, ruang perawatan dan perbaikan lukisan, dan ruang bawah tanah sebagai penyimpanan lukisan. Galeri ini juga menampilkan berbagai karya seni dari anggota keluarga Affandi, seperti sulaman dari Maryati yang merupakan istri pertamanya, dan lukisan anak-anaknya yaitu Rukmini dan Juki Affandi.

Di museum ini, setidaknya ada 300 lukisan Affandi yang dipamerkan, ditambah dengan koleksi lukisan karya seniman lain. Selain karya seni, ada berbagai benda koleksi pribadi seperti mobil sedan Mitsubishi Gallant tahun 1975 dan sepeda Raleigh.

Tak hanya bangunan galeri, di kompleks museum ini pengunjung bisa menemukan sebuah gerobak yang dimodifikasi menjadi seperti rumah dengan kamar, dapur, dan kamar mandi. Gerobak ini dibangun atas permintaan Maryati untuk tempat beristirahat sembari menyulam. Pengunjung juga bisa mengunjungi Art Shop untuk membeli merchandise tentang Affandi, juga mengikuti kelas melukis, lokakarya, dan melihat demonstrasi seniman melukis di museum tersebut.

Berpulang pada 23 Mei 1990, Affandi dimakamkan di antara bangunan Galeri I dan Galeri II, berdampingan dengan karya-karyanya semasa hidup.

Rongkop dan Plumbungan, Dua Lokasi Kampung Anggur di Yogyakarta

Affandi sang maestro

Siapa tak kenal Affandi? Maestro lukis Indonesia ini dikenal dengan teknik melukisnya yang khas yaitu menumpahkan cat langsung pada kanvas, kemudian baru disapukan, dibentuk, dan dilukis dengan jari-jarinya tanpa kuas. Ia menyebut dirinya “Pelukis Kerbau” karena ia meras bodoh sebab tak suka membaca dan tak peduli pada teori.

Sepanjang kariernya, ia termasuk pelukis yang produktif karena telah menghasilkan lebih dari 2.000 lukisan. Atas dedikasi dan karya-karyanya, Affandi telah menerima berbagai penghargaan yang membuat namanya juga dikenal sebagai salah satu maestro lukis di dunia.

Affandi pernah menerima pemberian gelar kehormatan Doctor Honoris Causa dari Universitas Singapura. Ia juga mendapatkan Penghargaan Perdamaian Internasional dari Yayasan Dag Hammerskjold dan gelar Grand Maestro. Namanya juga diangkat sebagai anggota Akademi Hak Asasi Manusia dari Akademi Perdamaian Pusat, Pax Mundi, di Florence, Italia. Sejak tahun 1951, Affandi juga telah mengikuti pameran di London, Belgia, Brasil, dan Italia.

Belajar Sejarah dan Budaya Jawa di Desa Tembi Yogyakarta

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini