Motivasi Masyarakat Jawa Kuno Berikan Nama Orang dari Sosok Binatang

Motivasi Masyarakat Jawa Kuno Berikan Nama Orang dari Sosok Binatang
info gambar utama

Bila belajar sejarah Indonesia, pastilah tidak asing dengan nama-nama yang sering digunakan oleh kerajaan di Nusantara. Khususnya di Jawa, hal yang unik penggunaan nama biasanya menggunakan panggilan hewan.

Misalnya saja di Kerajaan Majapahit yang berpusat di daerah Jawa Timur. Pada kerajaan yang didirikan oleh Raden Wijaya sekitar tahun 1293 Masehi itu ternyata ada banyak tokoh-tokoh yang namanya diambil dari nama-nama binatang.

Bahkan sejarah mencatat, pada zaman keemasan Majapahit, tidak bisa lepas dari dua tokoh besar yang namanya juga diambil dari binatang, yakni Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.

Nama Hayam Wuruk berasal dari dua kata, hayam yang berarti Ayam dan wuruk yang artinya terpelajar. Hal ini berarti Hayam Wuruk adalah ayam yang terpelajar. Sedangkan Gajah Mada berarti gajah yang tangkas cerdik atau energik.

Budaya Jawa memang mengenal penamaan diri yang diambil dari nama alam, tumbuhan, binatang, religi, benda, bilangan, tokoh cerita, perasaan, peristiwa, situasi, asal-usul, dan juga dari sifat manusia.

Theodore G Pigeaud dalam Java in The 14 Century menulis pada zaman Jawa Kuno, masyarakat sendiri sudah mengenal penamaan diri yang berkaitan dengan unsur alam, seperti nama binatang.

Catatan Penghormatan Raja dan Masyarakat Jawa Kuno Terhadap Sosok Guru

“Informasi ini diperoleh berdasarkan riwayat beberapa nama tokoh menonjol yang terdapat dalam beberapa karya sastra Jawa kuno, seperti cerita-cerita Panji,” tulisnya.

Nama-nama itu di antaranya adalah Kebo Anabrang, Kidangwalangka, Banyak Kapuk, dan Gagak Sumiring. Selain dari cerita Panji, nama-nama ini juga sebenarnya cukup banyak ditemui dalam nama-nama tokoh pada karya sastra seperti Pararaton dan Ranggalawe.

Ahli epigrafi dari Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI), Sasongko dalam penelitiannya mendapat kesimpulan bahwa nama-nama binatang yang digunakan oleh orang Jawa Kuno sebagai nama diri, kebanyakan adalah nama hewan endemik di Pulau Jawa.

Dalam temuannya, nama binatang yang paling banyak digunakan sebagai nama diri di antaranya Kebo, Gajah, Gagak, Lembu, dan Hayam. Sementara nama-nama seperti Makara, Naga, Sinha, Mahisya, katanya terpengaruh dari kebudayaan India.

Selain faktor ekosistem, budaya agrikultur masyarakat Jawa kuno waktu itu juga sangat mempengaruhi penamaan diri. Misalnya nama Kebo, Sapi, Minda, Lembu, dan Hayam yang banyak digunakan.

“Nama Kebo menjadi paling mendominasi karena tidak terlepas dari tradisi asli Indonesia yang sering menjadikan kerbau sebagai hewan sakral dan simbol kesuburan serta perannya dalam kehidupan agraris masyarakat masa itu,” tulis Rita Istari dalam Peranan Kerbau dalam Masyarakat Jawa Dahulu dan Sekarang.

Berkaitan dengan panji perang?

Chacuk Tri Sasongko dan Ninie Susanti dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menduga kemunculan nama-nama ini ditandai dari masa Rakai Pikatan (abad ke 9 Masehi) sampai masa Majapahit akhir atau awal abad ke 16 Masehi.

Sedangkan jelasnya, gejala terbanyak ditemukan pada masa Kertanegara, Kroncarryyadipa, dan Sarweswara, atau dari masa Kerajaan Kadiri/Kediri pertengahan hingga masa Kerajaan Singhasari akhir.

Dalam penelitian mereka, nama tunggal pada umumnya telah ditemukan pada masa Mataram Kuno yang meliputi Kebo, Gajah, Iwak, Katak, Kuda, dan lain-lain. Pengaruh Hindu-Buddha juga tercermin dari penamaan Makara, Naga, dan Sinha.

Berbagai nama hewan ini juga mencerminkan hewan ekosistem atau domestikasi, seperti gajah dan kuda sebagai kendaraan kaum kesatria serta anjing atau asu sebagai hewan penjaga. Sebagaimana dibuktikan dalam relief Candi Borobudur.

“Kemunculan nama berbagai jenis ikan, yakni Bandeng, Iwak, dan Lele, juga seolah tidak bertolak belakang dengan kemampuan masyarakat Mataram Kuno yang sudah mengenal cara penangkapan, pembudidayaan, dan pengolahan ikan,” tulisnya dalam penelitian bertajuk PU Sapi dan Lembu Agra: Kajian Antroponimi Berdasarkan Isi Prasasti Jawa Kuno (Abad ke 9-16 Masehi).

Di Mana Sebenarnya Titik Paling Tengah Pulau Jawa?

Sementara itu penggunaan nama bintang sebagai nama depan juga lazim ditemukan pada masa Kadiri-Majapahit. Menurut mereka, nama-nama seperti Kebo, Gajah, Gagak, Lembu lebih menunjukan hubungan dengan sektor agraris.

Guru besar UI di bidang arkeolog, Agus Aris Munandar menjelaskan bahwa ada juga penamaan depan diri yang melibatkan keputusan penyandangnya, seperti gajah yang dipakai oleh Gajah Mada.

Gajah merupakan simbol dari Airawata yang menjadi tunggangan dari Dewa Indra. Menurut Agus, Gajah Mada memposisikan dirinya sebagai Airawata yang melayani dan mengabdi kepada tuannya yakni, Jayanegara, Tribhuwanatunggadewi, dan Hayam Wuruk.

Ada juga pendapat lain dari Johannes Gijsbertus de Casparis yang menyatakan nama depan diberikan kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kerajaan. Hal ini katanya, terkait dengan identitas mekasirkasir.

Istilah ini berasal dari kata kasir-kasir yang artinya panji-panjian atau bendera. Penamaan nama depan seperti Gajah, Menjangan, Macan, dan Tikus, lanjutnya pada masa itu mengindikasikan golongan kasta kesatria atau profesi ketentaraan waktu itu.

Misalnya dalam karya sastra Ranggalawe, nama depan Rangga (kijang) disematkan oleh Raden Wijaya pada Lawe dengan harapan agar dia menjadi sosok prajurit Majapahit yang cerdas dan bijaksana.

Motivasi pemberian nama

Kecenderungan pada masa Kadiri-Majapahit menunjukan bahwa formulasi nama depan yang diikuti nama belakang paling mendominasi. Penempatan nama binatang sebagai nama depan seolah menandai status sosial dan jabatan penyandangnya.

Pada masa itu, orang-orang dengan nama binatang secara garis besar didominasi dari kalangan berstatus sosial rendah dan tinggi. Hal ini berbeda dengan zaman Mataram Kuno yang memberikan nama sandang pu untuk orang dengan status sosial tinggi.

Pemberian nama ini bisa dilihat dari sosok Hayam Wuruk yang mengambil nama depan dari hayam, gelar ini ditulis dalam naskah Pararaton. Menurut De Casparis dan Pigeaud, penggunaan nama diri hayam ini adalah bentuk penghormatan.

Dalam Prasasti Jaring dari masa Kadiri, menyebut pemberian anugerah kepada para pejabat daerah di Jaring yang kebanyakan merupakan orang-orang bernama depan diri dari nama binatang yang disertai titel makasirkasir.

“Penghadian anugerah itu disebabkan oleh jasa mereka membantu raja dalam peperangan,” tulis Edi Sedyawati dalam Janggala, Kadiri, dan Lainnya.

Kuantitas pemberian nama depan dari binatang juga bertambah pada masa pemerintahan Kertanegara di Singhasari. Raja ini memang dikenal dengan ambisi politiknya untuk memperluas kekuasaan di luar wilayah negaranya.

De Casparis menambahkan bahwa penamaan diri itu berguna sebagai pengingat akan sosok yang menonjol dari setiap kelompok. Sebagai contoh, kelompok militer dengan nama diri gajah, mengingatkan pada sosok Gajah Mada.

Wdihan dan Ken sebagai Refleksi Status Sosial Bangsawan Jawa pada Masanya

Sehingga tidak mengherankan bahwa jabatan mahapatih setelahnya, digantikan oleh beberapa tokoh yang bernama depan diri Gajah, seperti Gajah Geger yang termuat dalam prasasti Waringin Pitu.

Pemberian nama diri dari binatang juga dipersepsikan dengan wahana atau kendaraan dewa. Tokoh-tokoh binatang dari mitologis Hindu-Buddha ini memang dihargai dalam kebudayaan Jawa Kuno.

Diharapkan dengan memberi nama diri dari binatang, kekuatan dari sifat dewa atau hewan mitologi Hindu-Buddha akan termanifestasi dalam dirinya, salah satunya Gajah Mada. Pengharapan dan representasi kekuatan tersebut juga berlaku kepada hewan-hewan sakral.

Tetapi secara umum, motivasi penamaan diri dengan nama binatang pada masa Jawa Kuno karena binatang-binatang tertentu sangat dihargai. Hewan-hewan ini dianggap memiliki peran penting dalam kebudayaan masyarakat sehingga menempati posisi istimewa.

“Fenomena tersebut merupakan salah satu bentuk perwujudan apresiasi budaya masyarakat Jawa Kuno terhadap alam sekitar,” ujar Sasongko.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini