Membaca Pacar Merah, Novel Petualangan dari Pahlawan yang Termajinalkan

Membaca Pacar Merah, Novel Petualangan dari Pahlawan yang Termajinalkan
info gambar utama

Memiliki nama asli Sutan Ibrahim. Dia bergelar Datuk Tan Malaka yang diberikan dalam sebuah upacara adat, gelar ini menunjukkan bahwa dia adalah orang istimewa. Tan Malaka salah satu tokoh awal yang mewacanakan tentang republik.

Tan Malaka menghabiskan masa hidupnya untuk bergerilya. Di dalam negeri, dia bergerak dari Bukittinggi, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, sampai Kediri. Sementara di luar negeri, dia berjuang di Amsterdam, Berlin, Moskow, Saigon, Bangkok, sampai Manila.

Penggambaran petualangan Tan Malaka ini diperlihatkan dalam sebuah roman sejarah berjudul Pacar Merah Indonesia: Petualangan Tan Malaka Menjadi Buron Polisi Kolonial (1938) karya Matu Mona.

Novel ini serupa dengan roman petualangan yang memikat, lengkap, dengan spionase, nuansa perjuangan, aroma politik, dan disertai romantika. Oleh Matu Mona kisah sejarah ini, ditulis dalam bentuk karya fiksi.

Pacar Merah Indonesia memang membubuhkan beberapa fakta sejarah tentang gerakan komunis dan kiri radikal, terutama tentang beberapa tokohnya dengan khayalannya sendiri. Sehingga ada beberapa pemimpin komunis terkenal yang masuk dalam novel ini.

Muncul beberapa nama tokoh seperti Paul Musotte (Muso), Ivan Alminsky (Alimin), Darsonoff (Darsono), dan Semounoff (Semaun). Kelima tokoh ini dipimpin tokoh utama yang disebut sebagai Pacar Merah (Tan Malaka).

Madilog dan Gagasan Tan Malaka Agar Bangsa Indonesia Berpikir Secara Merdeka

Dirinya seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Airnya Indonesia dari kolonialisme Belanda, dan cita-cita sosialis-komunisnya. Oleh karena itu, dirinya harus terpaksa melarikan diri sehingga jadi buron polisi internasional.

Di Thailand, dirinya menggunakan nama Vichtira dan dalam pelariannya ini dia dibantu oleh Nona Ninon Phao, anak perempuan dari kepala polisi rahasia Thailand, Khun Phra Phao untuk bersembunyi di Senggora, sebuah kota kecil di negeri Siam.

Pacar Merah juga sempat ditangkap oleh pihak interpol akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh tunangan Ninon Phao. Sebelum akhirnya dibebaskan kembali berkat bantuan dari tunangan Ninon Phao itu sendiri.

Langkah Pacar Merah tidak berhenti di negeri Siam, untuk menghindari dari penangkapan interpol, dia berpindah-pindah ke suatu negeri ke negeri lain, seperti Filipina, Kamboja, Hongkong, hingga China.

Dalam setiap pelariannya itu, dia harus bersembunyi, baik itu di dalam kapal, di rumah seorang tokoh pergerakan, di loteng rumah atau di wilayah terpencil. Bahkan Pacar Merah harus menyamar sebagai perempuan tua dengan tiga anak.

Meskipun buron, Pacar Merah dapat turut menghadiri Konferensi Pertama Pan-Malay Peoples Union. Selain itu juga datang ke Konferensi Buruh Pasifik yang diadakan di China, di Kamboja, Pacar Merah ikut menyaksikan pemberontakan kaum radikal.

Novel ini juga mengisahkan tentang pertemuan antara Ivan Alminsky dengan Pacar Merah agar mau rujuk kembali dengan rezim komunis Moskow. Rupanya Pacar Merah dinilai telah bertindak semaunya sendiri.

Tetapi dalam pertemuan itu, Pacar Merah menolak untuk tunduk kepada Moskow. Dia berketetapan untuk terus berjuang bagi kemerdekaan Tanah Airnya dan bukan untuk kepentingan Moskow.

Tan Malaka dalam novel

Pacar Merah Indonesia, novel karya Matu Mona ini memang menarik. Serupa roman petualangan yang memikat, lengkap dengan spionase, politik dan romantika di lokasi-lokasi yang menarik pada masa kolonial.

Buku ini jadi semakin menarik bila pembaca mengetahui sedikit tentang latar belakang pengarang, serta cara dia menggarap novel ini, dan tentang sambutan khalayak pembaca dari cetakan pertama buku ini.

Matu Mona merupakan nama samaran dari Hasbullah Parindurie yang dilahirkan dan dibesarkan di Medan. Dirinya merupakan pembantu tetap pada majalah Pandji Poestaka, milik Balai Pustaka.

Dirinya menerbitkan pertama kali novel Pacar Merah Indonesia di Medan, pada Maret 1938. Hal yang menarik dari novel ini, karena penulisannya dilakukan saat tokohnya yakni Tan Malaka kala itu masih hidup.

Dalam beberapa kasus, Matu Mona mengungkapkan berbagai peristiwa yang hanya tercantum dalam laporan Dinas Intelijen Politik (PID), atau dalam memo diplomatik, yang baru di kemudian hari diumumkan, seperti Dari Penjara ke Penjara (Tan Malaka).

Tan Malaka, Tokoh Besar Indonesia yang Disanjung Manila

Matu Mona terinspirasi dari surat-surat dari Tan Malaka kepada Adinegoro, pimpinan redaksi Pewarta Deli. Dirinya kemudian menyarikan laporan dari kehidupan Tan Malaka serta para pemimpin PKI lainnya.

Pada surat-surat yang diberikan kepada Adinegoro, Tan Malaka menceritakan pengembarannya serta gagasan-gagasan tentang kemerdekaan Indonesia. Surat-surat pertama tertanggal akhir tahun 1932 atau permulaan tahun 1933.

Surat pertama berstempel pos Filipina yang tiba lebih kemudian, dibawakan oleh seorang pelaut. Adinegoro memperlihatkan surat-surat tersebut kepada Matu Mona yang ketika itu sebagai redaktur Pewarta Deli.

Hal inilah yang menimbulkan inspirasi dari Matu Mona untuk mengarang novel, kemudian dimuat dalam cerita bersambung dalam harian Pewarta Deli (9 Juli-19 September 1934). Cerita ini mendapat sambutan demikian hangat.

Karena itu pada Maret 1938, diterbitkan sebagai buku oleh Centrale Courant en Boekhandel (Toko Buku dan Surat Kabar Sentral di Medan). Badan penerbit dan toko buku ini berhubungan erat dengan Pewarta Deli.

Novel sejarah memikat

Matu Mona dalam jagat sastra Indonesia modern adalah novelis yang memiliki kekhasan dalam mengangkat tema-tema tertentu dalam karyanya. Kekhasan tema dalam novel ini terletak pada tokoh-tokoh yang termarjinalkan.

Demikian pula dengan Tan Malaka yang merupakan seorang pejuang nasionalis Indonesia yang pernah termarjinalkan karena kerap berseberangan dengan tokoh-tokoh bangsa pada masa itu.

“Meskipun Mohammad Yamin pernah menulis “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia”, Tan Malaka pernah terusir dari Indonesia, tertangkap berkali-kali, dan kematiannya misterius,” tulis Yeni Mulyani Supriatin dalam Pacar Merah, Pahlawan yang Termarjinalkan.

Beberapa kalangan mengatakan bahwa novel ini memiliki keunikan jika dibandingkan dengan novel sejarah lain. Harry A Poeze seorang Indonesianis pada pengantar novel ini mengatakan bahwa karya ini sangat memikat, lengkap dengan cerita spionase, dan sejarah.

Pada era 1930 an, dunia penerbitan Hindia Belanda sedang diwarnai dengan kemunculan karya-karya yang dikenal dengan roman picisan. Umumnya karya ini berupa cerpen yang terbit dalam surat-surat kabar selama satu atau dua kali sebulan.

Matu Mona sendiri menciptakan nama pelaku utama ini meminjam dari isi buku terkenal Baronesse Orczy mengenai Scarlet Pimpernel yang bertindak sebagai pahlawan selama masa Revolusi Prancis.

“Dia menyelamatkan para pengikut monarki Prancis dari pancungan guillotine dan menyelundupkannya ke Inggris,” tulis Ruly Harmadi dalam Tan Malaka, Tintin, dan Pacar Merah: Berebut Pengaruh dalam Fiksi.

3 Tokoh Bangsa, Lulus di Luar Negeri Pulang Demi Kemerdekaan

Menurut penerbit kala itu, karya Pacar Merah Indonesia ini dinilai cocok dengan khalayak pembaca modern dan sesuai dengan jiwa abad ke 20. Matu Mona, ucap M. Sjarqawi sejalan dengan tradisi pengarang seperti Alexander Dumas, Victor Hugo, dan Karl May.

Roman tersebut berhasil gemilang, penerbit dan pengarangnya disambut sangat positif. Sjarqawi meminta Matu Mona menulis lanjutannya, namun setelah tujuh tahun menjadi redaktur Pewarta Deli dia ingin mengambil cuti.

Konon, Matu Mona ketika pergi ke Singapura sempat bertemu dengan Tan Malaka yang berpenampilan seperti orang China. Pada pertemuan itu, mereka hanya sekadar ramah tamah selama lima menit.

Kemudian pada akhir tahun 1938, terbit lanjutan cerita tersebut, Peranan Pacar Merah. Pada tahun 1940, kemungkinan sekali terbit jilid ketiga dalam seri Pacar Merah yaitu Panggilan Tanah Air.

Serial Pacar Merah ini mengakibatkan sosok Tan Malaka yang muncul bagaikan seorang pejuang politik demi Indonesia merdeka, yang diliputi tanda tanya, diburu, namun tak kunjung tertangkap, semakin menjadi legendaris.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini