Peran Tokoh Betawi MH Thamrin Persatukan Bangsa Melalui Sepak Bola

Peran Tokoh Betawi MH Thamrin Persatukan Bangsa Melalui Sepak Bola
info gambar utama

Keluarga besar Pahlawan Nasional Mohammad Husni (MH) Thamrin mendukung dan menghargai dorongan untuk mengganti nama Stadion Jakarta International Stadium (JIS) menjadi Stadion MH Thamrin.

Cucu MH Thamrin, Astuti Ananta juga mengapresiasi langkah sejarawan JJ Rizal yang membuat petisi secara daring (online) terkait usulan perubahan nama stadion berkelas internasional tersebut.

“Kami bersyukur karena itu artinya nama MH Thamrin masih diingat publik, malah jasanya kembali diangkat dalam bidang yang jarang diketahui, yaitu sepak bola Jakarta dan Indonesia,” tutur Astuti Ananta Toer yang dimuat dari Detik, Rabu (15/6/2022).

Putri dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer ini mengaku selama ini Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan jajarannya belum pernah melakukan komunikasi dengan pihak keluarga terkait usulan pergantian nama JIS tersebut.

Hanya saja, Anies sempat melibatkan pihak keluarga dalam acara Festival 125 tahun MH Thamrin dengan kegiatan pameran foto sejarah MH Thamrin dan sepak bola kebangsaan. Dari hal itu, dirinya berharap Anies mengabulkan usulan perubahan nama ini.

“Kami mendukung, kami berdoa. Tetapi, semua berpulang keputusannya kepada publik dan Pemerintah DKI Jakarta. Thamrin menyerahkan hidupnya untuk mengabdi kepada warga dan pemerintah kota, maka wargalah yang paling pertama serta pemerintah kota menimbangnya,” urainya.

Sejarah Hari Ini (16 Februari 1894) - M.H. Thamrin, Putra Betawi Pahlawan Rakyat Kecil

Seperti diketahui, Sejarawan JJ Rizal mendorong Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan agar mengumumkan perubahan nama JIS menjadi Stadion MH Thamrin ketika grand launching pada 25 Juni mendatang.

Rizal menyebut dirinya dan sejumlah pegiat budaya Betawi lainnya sudah mengirimkan surat secara resmi kepada Anies beberapa bulan lalu atas usulan perubahan nama stadion yang jadi ikon baru kota Jakarta ini.

“Semoga saja berhasil nanti Gubernur mengumumkan namanya Stadion MH Thamrin secara resmi pada 25 Juni 2022,” kata Rizal yang dimuat VOI.

Rizal mengakui sudah memberikan usulan ini secara langsung kepada Anies sejak tahun 2019 dalam acara Festival 125 Tahun MH Thamrin. Usulan ini kembali disampaikan ketika pembangunan JIS mencapai 75 persen.

Sementara itu usulan penggantian nama JIS juga dilakukan dengan petisi online melalui www.change.orgyang diperkasai JJ Rizal sejak akhir Mei lalu. Hingga 13 Juni, petisi tersebut telah ditanda tangani oleh 5.500 orang.

MH Thamrin dan Sepak Bola Jakarta

Thamrin sebagai pahlawan nasional memang tidak hanya dikenang dengan jasa-jasanya di dunia politik. Pria kelahiran 16 Februari 1894 ini juga dikenal sebagai penggila bola, dan berperan pada sepak bola nasional, khususnya di Jakarta.

“Kalau kita bicara sepakbola Indonesia, tetapi nggak bicarain Mohammad Husni Thamrin, itu kayak durhaka,” kata Rizal yang dinukil dari National Geographic.

Rizal mengatakan ketika para tokoh kebangsaan lain sedang ditangkap atau dibuang, Thamrin memiliki cara perjuangan sendiri. Saat itu pria kelahiran Weltervreden -kini kawasan Gambir- menggunakan sepakbola sebagai alat perjuangan.

Hal ini tercermin, jelas Rizal ketika Thamrin rela menggunakan uang pribadinya untuk membangun sebuah stadion sepak bola milik pribumi pertama yang saat itu sudah berstandar internasional.

Pada 1928, ketika masa kolonialisme Belanda, ada kebakaran di Pasar Baru, Jakarta. Ada dua perkumpulan (bond) sepak bola yang mencoba menyelenggarakan pertandingan amal untuk membantu korban kebakaran.

M.H Thamrin, Politisi Betawi Pejuang Masyarakat Miskin Perkotaan

Mereka yang merupakan anggota perkumpulan sepakbola pribumi di Batavia, kemudian mencari stadion yang dianggap pantas menjadi tempat pertandingan tersebut. Namun pada masa itu, semua stadion yang bagus di Jakarta adalah milik Belanda.

Celakannya, di depan setiap stadion itu selalu ada tulisan Belanda yang memiliki arti ”Dilarang masuk untuk pribumi dan anjing.” Karena itu, bila orang pribumi ingin meminjam stadion itu pasti dilarang.

Karena itulah perkumpulan ini mendatangi Thamrin, tokoh Betawi yang saat itu menjabat sebagai anggota Volksraad. Di dewan ini, Thamrin sebenarnya telah menyuarakan keinginan rakyat untuk meminjam stadion, namun tidak ada yang mendengarkan.

Dirinya kemudian mengeluarkan uang pribadinya sekitar 2.000 gulden. Stadion ini berdiri di daerah yang kini disebut Petojo, Jakarta Pusat. Dari stadion ini, Thamrin akhirnya membuat perkumpulan sepakbola yang semula bernama Voetbal Boemipoetera (VBB).

Setahun berselang, perkumpulan sepakbola itu berganti nama menjadi Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), kelak jadi Persija Jakarta. Dan nama stadion sepakbola ini berubah nama menjadi Stadion VIJ.

“Jadi perkumpulan sepakbola pertama yang pakai kata Indonesia ya cuma di Jakarta dan itu karena pengaruh Mohammad Husni Thamrin,” jelas Rizal

Persatuan dalam sepakbola

Thamrin sangat memperhatikan perkembangan sepakbola di Batavia, mulai dari pendirian VBB hingga VIJ. Rizal menduga Thamrin memiliki peran menjembatani semangat Kongres Pemuda Oktober 1928 dengan pendirian VBB November 1928.

Bob Hering dalam Mohammad Hoesni Thamrin: Tokoh Betawi-Nasionalis Revolusioner Kemerdekaan menyebut Thamrin kerap mendorong pembentukan kesatuan sinkretis yang padu demi menghapus diskriminasi.

Dirinya tak hanya berperan sebagai jembatan dalam politik, namun dalam lapangan sepakbola. Dia mendukung penuh pergantian nama VBB menjadi VIJ. Baginya, VIJ adalah wujud dari revolusi dan kebangsaan.

Thamrin juga menghubungkan VIJ dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya seperti Otto Iskandardinata yang merupakan kawannya di Volksraad. Seperti Thamrin, Otto adalah pecandu sepak bola.

Dia merupakan ketua Paguyuban Pasundan, salah satu organisasi pergerakan nasional. Dia sering meminjamkan gedung Paguyuban Pasundan untuk rapat pengurus VIJ. Kelak Otto yang berjuluk Si Jalak Harupat, namanya dijadikan stadion di Jawa Barat.

Otto dan Thamrin pernah melakukan pertandingan eksebisi dua kali pada 1932 dan 1933. Mereka mengajak tokoh-tokoh pergerakan nasional mengolah bola di lapangan. Hal ini terekam dalam foto-foto di Pemandangan dan Pandji Poestaka.

“Ada foto Thamrin, Otto, dan tokoh pergerakan nasional sedang rehat di pinggir lapangan, dekat gedeg (pagar dari bambu) lapangan Laan Trivelli, Jakarta pusat," kata Afif yang dimuat Historia.

Sejarah Kelam Perbudakan di Perkebunan Medan pada Era Belanda

Di lapangan ini pula, Thamrin mengajak Soekarno membuka kompetisi PSSI pada 16 Mei 1932, tak lama setelah Bunga Karno keluar dari penjara Sukamiskin, Bandung. Dari situlah, semua orang tahu bahwa sepak bola adalah bagian dari pergerakan kebangsaan.

Thamrin tidak berhenti di situ, dirinya tak merasa cukup bahwa persatuan hanya klub sepak bola di Jakarta. Jadi dia meminta orang-orang VIJ agar mendorong klub sepak bola di daerah untuk berkumpul.

“Jadi bergeraklah anak-anak VIJ untuk menyatukan klub-klub sepak bola yang ada di Solo, Mataram, Surabaya, untuk buat perkumpulan yang sifatnya nasional. Jadi ide persatuan itu juga bergerak di lapangan sepak bola,” papar Rizal dimuat di Detik.

Karena itu, bagi Rizal lahirnya VIJ juga merupakan lahirnya PSSI. Kebetulan Soeratin juga datang ke Jakarta pada tahun 1930. Baginya pula, di Jakarta bukan hanya sejarah bagi sepak bola Jakarta namun juga sepakbola nasional.

“Dan itu ada peranan penting orang yang namanya Husni Thamrin,” kata Rizal menegaskan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini