Fosil Kura-Kura Purba Berusia 1,2 Juta Tahun Ditemukan, Apa Penjelasannya?

Fosil Kura-Kura Purba Berusia 1,2 Juta Tahun Ditemukan, Apa Penjelasannya?
info gambar utama

Warga Sumedang dikejutkan dengan penemuan fosil yang diduga adalah kura-kura dan buaya purba. Penemuan kedua fosil ini ditemukan di lokasi yang sama, yakni di Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang.

Fosil ini ditemukan dalam proses ekskavasi sejak 13 Juni oleh tim peneliti gabungan dari Disparbudpora Kabupaten Sumedang, Balai Arkeologi Bandung, dan Badan Geologi Paleontologi Kementerian ESDM.

Kepala Disparbudpora Sumedang, Bambang Riyanto mengatakan dalam proses ekskavasi kali ini, sejumlah fosil berhasil ditemukan, selain fosil kura-kura purba. Ada juga fosil serupa gigi geraham sapi, fosil gigi buaya dan kepingan-kepingan fosil lainnya.

Menurut Bambang fosil-fosil ini tersebut ditemukan di sebuah perbukitan yang cukup jauh dengan pemukiman warga. Fosil ini ditemukan pada kedalaman sekitar 20-30 sentimeter dari permukaan tanah.

“Bahkan ada sebagian fosil yang ditemukan di permukaan tanah lantaran tergerus oleh aliran air hujan dipermukaan tanah,” paparnya yang dimuat dari Detik, Sabtu (18/6/2022).

Kepala Bidang Kebudayaan dari Disparbudpora Sumedang, Budi Akbar menambahkan fosil tersebut diperkirakan fosil kura-kura darat yang hidup pada zaman pleistosen (1.808.000-11.500 tahun lalu).

Temuan Seperti Fosil Stegodon di Ngawi

Anton Ferdiyanto, salah seorang tim peneliti mengatakan, fosil kura-kura itu pertama kali ditemukan oleh warga. Fosil ini bisa ditemukan karena sudah tampak di permukaan tanah. Setelah itu warga kemudian melaporkan temuan itu ke kantor desa.

Anton mengatakan temuan fosil kura-kura ini cukup unik lataran dalam keadaan utuh dengan diameter sekitar 80 centimeter. Kondisi temuan utuh seperti ini merupakan temuan yang pertama kali di wilayah Jawa bagian barat.

“Temuan fosil kura-kura dalam kondisi utuh seperti di Jembarwangi ini pernah ditemukan juga di Jawa bagian timur, kalau di Jawa Barat sendiri baru di sini di Jembarwangi,” terangnya.

Sama seperti Budi, Anton juga meyakini fosil kura-kura yang ditemukan telah berusia jutaan tahun lalu atau pada zaman Pleistosen. Kendati demikian untuk lebih memastikan, fosil tersebut masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

“Berikut untuk mengetahui jenis kura-kuranya apakah kura-kura darat atau kura-kura air,” terangnya.

Penelitian lanjutan

Proses ekskavasi fosil binatang purba masih terus dilakukan di Desa Jembarwangi. Tim ekskavasi yang terdiri dari petugas Bidang Kebudayaan Sumedang, peneliti arkeologi BRIN Bandung, peneliti ESDM serta warga masih berupaya mengangkat fosil.

Ekskavasi dilakukan di dua titik yang saling berdekatan atau berjarak sekitar 20 meter. Titik pertama merupakan lokasi tempat ditemukannya fosil kura-kura. Sementara lokasi kedua merupakan tempat ditemukannya fosil buaya.

Kedua fosil yang letaknya berdekatan ini, awalnya ditemukan warga lantaran muncul di permukaan tanah. Menanggapi hal ini Peneliti Museum Geologi Unggul Prasetyo Wibowo menjelaskan terkait penemuan yang ada di lapangan.

“Keduanya ditemukan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Secara geologi, Sumedang dahulunya merupakan daerah estuari. Jadi daerah ini banyak lembah muara, rawa-rawa, sehingga bisa menemukan banyak satwa yang sifatnya amfibi,” ujar Unggul.

Dirinya tak heran bila di daerah tersebut kemungkinan akan ditemukan juga fosil sapi, kerbau, dan beberapa satwa purba lain. Karena daerah estuari jadi ekosistem yang baik bagi hewan, pasalnya ketersediaan makanan pun melimpah.

Dirinya juga menduga bahwa satwa tersebut berada di zaman Pleistosen. Hal ini karena merupakan masa transisi baru, sehingga Pulau Jawa belum menjadi daratan sepenuhnya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya fauna darat yang ditemukan di Pulau Jawa.

Mengulik Museum Purbakala Indonesia yang Disebut Sebagai Salah Satu yang Terlengkap di Asia

Terkait penyebarannya, satwa purba air seperti buaya memang tersebar di Jawa dan tidak punya persebaran spesifik. Sementara kura-kura masih perlu diteliti bentuknya, karena masih hanya terlihat tempurungnya saja.

Namun melihat dari temuan di lapangan, kura-kura purba cangkangnya ditemukan utuh. Ini merupakan kabar baik bagi para peneliti. Karena biasanya temuan itu berupa fragmented atau potongan.

Pihak Disparbudpora Sumedang menyatakan pihaknya akan menyerahkan terlebih dahulu kepada para peneliti untuk dilakukan penelitian. Setelah diteliti dan terungkap terkait fosil-fosil tersebut nantinya akan disimpan terlebih dahulu di Kantor Desa.

“Kami juga memiliki ruangan kecil untuk menyimpan benda-benda dan fosil-fosil purbakala di Kantor Disparbudpora, sementara mungkin akan kita tampung dahulu sebelum dibangun sebuah museum, kita sudah siapkan space untuk menyimpan fosil-fosil itu,” paparnya.

Pemkab Sumedang sendiri mempunyai rencana ke depan terkait pembuatan sebuah museum kepurbakalaan. Museum tersebut rencananya akan dibangun di sekitar Kawasan Desa Jembarwangi pada tahun 2023.

Jembarwangi kaya fosil

Desa Jembarwangi sepintas seperti desa lain pada umumnya. Namun siapa sangka desa tersebut menyimpan banyak peninggalan purbakala. Di sana ditemukan fosil berusia jutaan tahun lalu yang awalnya ditemukan warga.

Selain fosil, Desa Jembarwangi yang memiliki kontur tanah berupa perbukitan itu menyimpan sebuah aliran sungai purba yang saat ini dinamakan Sungai Cisaar. Lantas mengapa di Desa Jembarwangi terdapat banyak fosil hewan purba?

Berdasarkan penelitian dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyebut wilayah bagian barat pulau Jawa yang sebelumnya berupa lautan menjadi wilayah daratan saat pembentukan Pulau Jawa.

“Saat Pulau Jawa belum terbentuk sekian jutaan tahun lalu, kemudian karena ada pergeseran dua kulit bumi, menyebabkan salah satunya terangkat ke permukaan dan bagian pertama yang terangkat adalah wilayah bagian barat Pulau Jawa,” kata Budi yang dimuat Detik.

Kepala Disparbudpora ini mengatakan setelah terbentuknya daratan di Pulau Jawa bagian barat, satwa dari daratan Asia datang berbondong-bondong mencari sumber makanan. Hal ini karena adanya padang savana yang banyak sumber protein.

Sementara itu Anton mengatakan bila dilihat dari kondisi lingkungan di salah satu lokasi temuan fosil satwa purba, dimulai dari dataran bawah, di sana terdapat sebuah sungai purba (Sungai Cisaar).

Energi Terbarukan, Kunci Bertahan Di bawah 1.5 Derajat Celcius Untuk Bumi Yang Lebih Baik

Pada masa itu, selain aliran sungai juga terdapat laut dangkal, serta sebuah daratan dan hutan yang cukup terbuka. Bila dilakukan rekonstruksi lingkungan, pada masa lalu lokasi ini terdiri dari laut dangkal, rawa-rawa, aliran sungai dan daratan sungai.

Peneliti dari Balai Arkeologi BRIN ini bersama peneliti lainnya telah melakukan penelitian di Desa Jembarwangi sejak 2016. Selama penelitian ini mereka telah menemukan sejumlah fosil satwa yang hidup jutaan tahun lalu.

Sejumlah fosil binatang purba yang telah ditemukan di antaranya sejenis sapi, buaya, gajah (stegodon), badak, babi, fosil makaka (sejenis kera), dan binatang purba lain. Dirinya meyakini pada kisaran 800 sampai 1,2 juta tahun lalu wilayah ini telah dihuni fauna purba.

Dengan melihat kondisi lingkungan serta melihat fosil-fosil yang berhasil ditemukan, Anton menduga keberadaan fosil manusia purba sangat memungkinkan di kawasan Desa Jembarwangi.

Hal ini bukan tanpa alasan, pasalnya dalam penelitian sebelumnya ditemukan sejumlah perkakas manusia purba. Dia menyebut perkakas-perkakas yang ditemukan saat itu di antaranya hammer stone (palu batu) dan sejumlah serpihan dari perkakas lainnya.

Meski begitu, pencarian keberadaan manusia purba masih sangat sulit. Mengingat jumlah fauna yang hidup di sana kala itu diprediksi lebih banyak daripada manusia purba. Namun dengan adanya penemuan ini akan menambah pengetahuan bagi generasi selanjutnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini