Kekuatan Legenda Jaka Tarub dalam Pelestarian Alam di Kulonprogo

Kekuatan Legenda Jaka Tarub dalam Pelestarian Alam di Kulonprogo
info gambar utama

Desa Taruban yang berlokasi di Sentolo, Kulonprogo, sekitar 23 kilometer di Barat laut Yogyakarta masih merawat legenda sebagai pesan leluhur. Sesuai toponimi, desa ini berkait dengan kisah Jaka Tarub.

Masyarakat Jawa memang akrab dengan legenda tutur Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan. Beberapa daerah memiliki beberapa versi, namun esensi cerita yang sama. Kisah ini terekam dalam lukisan, kesenian ketoprak sampai dongeng pengantar tidur.

Babad Tanah Jawi juga mencatat kisah ini. Dikisahkan ada seorang pemuda yang bernama Jaka dari desa Tarub sedang berburu di hutan. Ketika sedang menunggu buruannya, dirinya melihat ada para bidadari turun dari kahyangan untuk mandi.

Jaka kemudian mengintip para bidadari yang sedang mandi di sendang. Dirinya terpikat dengan kecantikan para bidadari. Sembari mengendap-endap, Jaka lantas mencuri busana salah satu bidadari.

Ketika para bidadari mengetahui adanya lelaki yang sedang mengintip, mereka kemudian pergi mengangkasa. Namun, salah satu bidadari yang Dewi Nawang Wulan tidak kuasa mengangkasa karena busananya hilang.

Benarkah Dewi Nawang Wulan Berasal dari Khayangan?

Jaka kemudian berkata kepada Nawang Wulan, apabila dirinya bersedia menjadi istrinya, busana itu akan dikembalikan. Sang Dewi terpaksa menyetujuinya. Akhirnya mereka menikah dan dikaruniai seorang anak.

Kisah tentang Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari ini masih tetap terawat dan warisan bagi warga Taruban. Mereka memuliakan pesan dari para leluhurnya ini melalui medium yang bisa diraba dan dipertahankan.

Mahandis Yoanata Thamrin menyebut ada tiga tempat yang dijaga, pertama adalah makam Jaka Tarub-Nawang Wulan. Kedua, Wit Sambi yang merupakan pohon besar keramat. Ketiga adalah sumber air atau sendang kamulyan.

“Berikut dengan upacara bersih desa dan ziarah,” tulisnya dalam Kekuatan Legenda Jaka Tarub dalam Keselarasan Semesta di Yogyakarta yang dimuat di National Geographic, Selasa (21/6/2022).

Merawat warisan

Ida Fitri Astuti, staf dan peneliti Indonesian Consortium for Religious Studies di Yogyakarta menyebut gabungan dari tiga hal itu merupakan upaya dari warga Taruban untuk melestarikan nilai-nilai leluhur atau kearifan yang memuliakan alam.

Dirinya mengungkapkan bahwa orang-orang desa Taruban sangat mempercayai sosok Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan benar ada dan dianggap leluhur. Hasilnya, warisan dua sosok ini yakni pohon-pohon besar dan sumber air masih terjaga.

Ida menunjukan adanya keterlibatan warga dengan situs-situs sakral di desa mereka, seperti pohon, makam, dan sendang. Mereka sangat mengenali dan memandang pohon sebagai orang atau sosok yang memiliki kemampuan mewarat, menerima, dan memberi.

“Hubungan mereka, antara pohon dan penduduk desa, mengikuti persepsi penduduk desa, saling menguntungkan, dan bertanggung jawab,” ucapnya.

Legenda dituturkan dalam bentuk abstrak, katanya, tetapi warga kemudian membendakan dalam bentuk makam atau petilasan. Inilah yang menjadi penghubung antara penduduk dengan leluhurnya, yakni Jaka Tarub dan Nawang Wulan.

Kisah Celengan dari Kerajaan Majapahit

Dirinya menambahkan, kisah legenda ini juga ditumbuhkan dalam bentuk ritual, baik yang dilakukan oleh tubuh secara personal seperti merapalkan doa, ritual komunal seperti bersih desa, maupun ritual aturan dalam menebang pohon.

Ida mengungkapkan bahwa berkat perspektif ekologi yakni warga desa Taruban yang sangat akrab dengan lingkungannya. Mereka akan terlibat dalam ikatan ganda yang memberikan hak istimewa untuk memanfaatkan dan menghormatinya.

Misalnya dalam hubungannya warga dengan pohon-pohon besar yang dikenal sebagai sosok. Mereka, kata Ida, akan melakukan ritual demi menjaga hubungan harmoni itu, kendati musim kemarau yang kering, sendang tetap terjaga alirannya.

“Pohon, atau makam dan sendang itu sebagai person atau sebagai orang yang bisa memberikan sesuatu kepada kita,” ujarnya.

Merawat alam

Ida mengatakan masyarakat desa Taruban memiliki persepsi ekologis, misalnya mereka dilarang menebang pohon dan melakukan tindakan yang merugikan kehidupan pohon. Aturan ini memang lahir dari legenda atau mitos di Taruban.

Warga sangat menghormati dan memelihara ketiga situs sakral itu, salah satunya dengan rangkaian ritual komunal setiap tahun. Warga melakukan bersih desa yang digelar setelah panen setiap tahun.

Biasanya pada puncak perayaan, warga Taruban dan sekitarnya akan melakukan kenduri dengan membagikan lebih dari 100 nasi. Kemudian acara dilanjutkan dengan kirab gunungan diikuti grup kesenian tradisi dan religius, seperti jathilan klasik.

Kirab yang diawali oleh bregodo melewati dua desa, Taruban Wetan dan Kulon. Mereka juga membakar patung ogoh-ogoh sebagai wujud penyampaian doa sekaligus sebagai simbol membuang sifat buruk.

Kirab iring-iringan warga berjalan menuju Sendang Kamulyan untuk mengambil tirto/air suci. Kemudian rombongan ini akan melanjutkan ziarah ke makam Ki Joko Tarub yang dipimpin KH Sirodjan Muniro AR.

Kemudian kerja bakti akan dilakukan warga disekitar lingkungan Sendang Kamulyan dan sekitar Makam Ki Joko Tarub. Rangkaian akan berlanjut dengan gelar pentas seni seperti gelaran wayang kulit semalam suntuk, dan pengajian.

Pada saat itu warga bersama-sama berkumpul merapal doa yang mengiringi sesajen, juga menari Tayuban. Setiap Kamis Malam dan malam Tahun Baru Islam, Warga juga merapalkan doa, menyalakan kemenyan dan mempersembahkan sesaji.

Cerita Harta Karun Majapahit yang Diburu dan Diabaikan

“Ritual dan legenda dilestarikan secara lisan dari generasi ke generasi,” ucap dirinya.

Namun, dirinya menyebut tradisi ini sering dianggap oleh umat beragama sebagai praktik sesat dan menyesatkan. Padahal bagi Ida, kearifan ini diperlukan sebagai benteng terakhir warga untuk melindungi dan menghindari dampak buruk pembangunan desa mereka.

“Bayangkan apabila tidak ada mitos, tidak ada makam, tidak ada ritual bersih desa? Apakah masih bisa pohon-pohon besar terpelihara, sumber air terjaga?” ujar Ida.

Kabid Pengembangan Kapasitas Dinas Pariwisata DIY, Wardoyo juga mengapresiasi kegeiatan pelestraian budaya oleh warga Tuksono sebagai upaya melestarikan adat dan tradisi yang ada di masyarakat sekaligus menarik kunjungan wisata.

“Kami harapkan kegiatan ini juga dapat mendukung keberadaan Desa Tuksono sebagai desa budaya,” papar Wardoyo.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini