Legenda Demak yang Pernah Jadi Kota Suci Bagi Masyarakat Muslim Jawa

Legenda Demak yang Pernah Jadi Kota Suci Bagi Masyarakat Muslim Jawa
info gambar utama

Demak, salah satu kabupaten di Jawa Tengah merupakan kota ziarah yang kerap disebut sebagai Kota Wali atau Nagari Para Wali. Kota ini menjadi cikal bakal Islam di tanah Jawa yang meninggalkan kenangan dan ingatan religius.

Kota kecil tersebut berjarak sekitar 28 kilometer dari Semarang, ibu kota Jateng. Untuk menuju Demak cukup mudah, yaitu dengan menyusuri jalan pantai utara, Semarang-Demak menggunakan kendaraan bermotor selama lebih kurang 30 menit.

Setiap bulan Sya’ban atau dalam istilah Jawa Ruwah, banyak peziarah yang mengunjungi Masjid Demak. Selain berziarah ke masjid yang dibangun Wali Songo itu, mereka juga mengunjungi makam sultan pertama Demak, Raden Patah dan Museum Masjid Demak.

Sejarawan Belanda H.J. de Graaf dan Th. G. Th Pigeaud dalam Kerajaan Islam Pertama di Jawa yang dimuat di Indonesia.go.id menyebut legenda atau mitos mengungkapkan betapa pentingnya Masjid Demak di alam pikiran orang Jawa Islam pada abad 17 hingga 19.

Sekalipun konstruksinya tak semegah Masjid Istiqlal, bisa dikatakan Masjid Demak merupakan masjid kharismatik di Jawa. Saking kuatnya, tak sedikit masyarakat Jawa yang meyakini ziarah ke Masjid Demak bernilai sama dengan menjalankan haji ke Mekkah.

Jejak Kemakmuran Demak Sebagai Kota Terkaya di Pesisir Utara Jawa

“Jelas, terasa ada aura sakralitas dan kekeramatan yang kuat pada asosiasi makna masjid ini bagi orang Jawa, khususnya bagi mereka yang memeluk Islam-Jawa,” tulis de Graaf.

Masjid Agung Demak berdiri saat perkembangan Islam di Jawa mencapai puncak pada akhir abad ke 15 dan awal abad 16 yang ditandai dengan munculnya Kerajaan Islam Demak yang bersamaan dengan keruntuhan Kerajaan Majapahit.

Seperti diketahui, penulisan sejarah Jawa cenderung ditulis dengan mencampuradukkan antara fakta, legenda atau mitos. Dalam Babad Tanah Jawa, konon para wali mendirikan Masjid Agung Demak hanya dalam satu malam.

Empat tiang utama, soko guru, ditegakkan untuk menyokong atapnya. Yang tiga terbuat dari balok kayu utuh. Satu lagi adalah tiang yang disusun Sunan Kalijaga dengan potongan-potongan balok yang tersisa dari pekerjaan wali lainnya.

Di masjid itu pula Sunan Kalijaga memperoleh baju wasiat “Antakusuma” yang kabarnya secara ajaib jatuh dari langit saat para wali sedang bermusyawarah di dalam masjid. Baju “Antakusuma” ini kelak menjadi salah satu pusaka raja-raja Jawa.

Mukjizat lain terjadi kepada moyang keluarga raja Mataram yakni Ki Ageng Selo. Suatu hari ketika berada di ladang, dia menangkap petir lalu membawanya ke Masjid Agung Demak atau Sultan Demak.

Kisah Ki Ageng Selo menangkap petir diabadikan dalam ukiran lawang bledheg atau pintu petir di Masjid Agung Demak. Lawang bledheg sekaligus dibaca naga mulat salira wani yang menunjukan tahun 1388 saka (1466) yang konon tahun pembangunan Masjid Demak.

Kekuasaan Imam Masjid

Pembangunan Masjid Agung Demak dan munculnya jamaah di sana, merupakan permulaan pengislaman Pulau Jawa. Masjid pun menjadi salah satu pusat keislaman. Kedudukan ulama atau para wali pun menjadi lebih besar.

Di Kerajaan Demak, para imam masjid kemudian mendapatkan kekuasaan lebih, salah satunya karena mereka memimpin salat wajib lima waktu. Dari beberapa imam ini pun juga mendapat gelar penghulu.

Menurut De Graaf dan Pigeaud, di Jawa imam masjid hampir selalu disebut penghulu. Hal ini menunjukkan sejak masa awal perkembangan Islam di Jawa, jabatan pemangku hukum syariat dan imam masjid berhubungan erat.

“Gelar penghulu yang sudah dipakai oleh imam-imam di Demak mungkin suatu bukti betapa besarnya kekuasaan yang mereka peroleh, juga di bidang hukum,” jelas De Graaf dan Pigeaud yang dimuat Historia.

Kerajaan Islam di Jawa; Kerajaan Demak

Dalam cerita tradisi Jawa, jelas keduanya, para imam ini memegang peranan penting dalam merebut kota Kerajaan Majapahit. Cerita tradisi ini membuktikan bahwa pada zaman itu masjid beserta para pengurusnya sangat terpandang.

Kesakralannya juga muncul saat ada sabda Susuhunan Pakubuwono I terkait eksistensi Masjid Demak. Adanya sabda raja ini dilatarbelakangi kasus pembuangan Amangkurat III ke Srilangka oleh Belanda.

Celakanya, sang raja ternyata telah membawa serta semua pusaka kerajaan. Sementara ketika itu, pusaka-pusaka kerajaan ialah salah satu sumber legitimasi kekuasaan. Sehingga status Pakubuwono I sebagai penerus Mataram Islam bisa dipertanyakan.

Merespon hal itu, Pakubuwuno I bersabda bahwa hanya Masjid Demak dan makam suci di Kadilangu sajalah pusaka mutlak bagi raja-raja di Mataram. Lebih jauh, dirinya juga memerintahkan perbaikan bangunan masjid dan mengganti atapnya dengan sirap baru.

De Graaf dan Pigeaud yang merujuk berita dari sumber VOC mencatat Sunan Amangkurat II pada 1688 pernah menawarkan untuk bersumpah setia di Masjid Demak. Hal ini terkait traktat yang telah disepakatinya dengan VOC.

Karena itulah, De Graaf dan Pigeaud meyakini peran penting masjid ini bagi Muslim kuno di Jateng masih terjadi hingga abad ke 19. Selain dianggap sebagai masjid tua, juga berstatus sebagai masjid negara bagi kerajaan Demak.

Para Wali yang dihormati

Legenda dan cerita tradisi banyak mengaitkan Masjid Demak dengan Wali Songo. misalnya ada kisah Pangeran Kudus dan dua sanak keluarganya yang lebih tua, Sunan Ngampel Denta dan Sunan Bonang.

De Graaf dan Pigeaud menyimpulkan bahwa legenda-legenda ini sengaja diciptakan untuk menghormati orang-orang suci itu. Terutama sosok Sunan Kalijaga yang dipercaya sebagai wali dan pelindung generasi penguasa di Jawa.

Dalam Islamic State in Java 1500-1700, De Graaf dan Pigeaud menyebut orang Jawa yang saleh pada abad ke 17 dan masa kemudian, percaya kalau Islam disebarkan oleh Wali Songo yang berpusat di masjid suci Demak.

Oleh karena itu, tidak heran, kesetiaan orang Jawa ini sangat berurat terhadap para wali yang membuat Masjid Demak tetap menjadi pusat kehidupan agama di Jateng. Meski kekuasaan raja-raja Demak jatuh pada paruh kedua abad ke 16.

Karena itulah, ada anggapan bila mengunjungi kota Demak dan makam orang-orang suci di sana dapat disamakan dengan naik haji ke Mekah. Rasa hormat itu di banyak daerah di tanah Jawa masih bertahan sampai abad ke 19.

Jejak Kerajaan Islam di Tanah Papua

“Itulah yang terutama menyebabkan nama Demak dalam sejarah Jawa tetap tidak terlupakan di samping nama Majapahit,” tulis De Graaf dan Pigeaud.

Hingga kini para peziarah masih tetap menyambangi kota Demak. Menurut catatan Kantor Pengelola Masjid Demak pada Juni 2011, ada 122.577 peziarah, 194 peziarah berasal dari Malaysia dan Singapura.

Sementara itu Sekretariat Kasepuhan Sunan Kalijaga menyebutkan, peziarah di makam Sunan Kalijaga pada Juni 2011 berjumlah 586.967 orang. Sebanyak 103 peziarah di antaranya berasal dari Malaysia dan Singapura.

Daya tarik Demak yang lain adalah makam dan masjid Sunan Kalijaga di Desa Kadilangu. Lokasi itu berjarak sekitar 2 kilometer dari Masjid Demak. Hampir setiap hari para peziarah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an di makam Sunan Kalijaga.

Daya tarik yang lain adalah tradisi tabuh beduk peninggalan Sunan Kalijaga dan shalat malam setiap pukul 24.00 WIB. Tradisi ini memadukan budaya tirakat malam Jawa dan ibadah salat.

Selain itu tipa penjamasan baju kebesaran Sunan Kalijaga, Kutang Ontokusuma, pada 10 Zulhijah, pengurus masjid dan peserta akan mengenakan pakaian adat Jawa dan baju takwa atau baju Muslim ala Sunan Kalijaga.

“Kami ingin para peziarah tidak sekadar mencari berkah, tetapi juga mengingat kembali ajaran Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama Islam secara damai dan menghormati keberagaman,” kata keturunan Sunan Kalijaga generasi ke 13, Wiedjayanto yang dimuat Kompas.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini