Musim Seni Salihara Bersemi Kembali: Hadirkan Diskusi dan Teater Boneka

Musim Seni Salihara Bersemi Kembali: Hadirkan Diskusi dan Teater Boneka
info gambar utama

Masa pandemi yang mulai mereda membuat beragam kegiatan secara bertahap mulai normal kembali. Khususnya kegiatan-kegiatan seni budaya yang sudah mulai diterapkan secara 100 persen di mana-mana.

Melihat momen ini, Komunitas Salihara akan mempersembahkan acara Musim Seni Salihara 2022 atau MS 2022. Melalui jargon “Bersemi Kembali”, MSS 2022 memberikan sajian semangat baru yang tidak hanya ada pertunjukan seni namun juga pameran.

Nirwan Dewanto, Direktur Program Komunitas Salihara Arts Center memaparkan bahwa bersemi kembali memiliki arti bukan di hari-hari kemarin masyarakat kekurangan akan seni, namun sudah waktunya seni kembali mengambil tempat lagi.

“Bahwa kita, pemirsa, hadir berhadapan langsung dengan karya-karya seni. Pameran seni rupa dan pertunjukan teater, misalnya, adalah peristiwa yang sebaik-baiknya kita alami langsung,” ucapnya di Serambi Salihara, Jakarta Selatan, Rabu (27/7/2022).

Nirwan menyebut kehadiran MSS 2022 ini sebagai wujud komitmen untuk terus menghidupkan semangat berkesenian setelah pembatasan sosial berskala besar di masa pandemi. Meski pandemi belum selesai, namun diharapkan Salihara bisa berkontribusi kepada masyarakat.

Pertunjukan dalam MSS 2022 akan dimeriahkan oleh penampilan dari 14 seniman individu dari kelompok seni Indonesia maupun mancanegara. Dari total 14 seniman yang bisa disaksikan penampilannya, empat di antaranya pernah tampil di Salihara.

Belajar Sejarah Jawa dan Pembacaan Weton di Museum Radya Pustaka

Nirwan mengatakan MSS tahun ini akan hadir dengan rangkaian program yang lebih lengkap dari perhelatan dua tahun sebelumnya. Selain berbeda karena dihelat secara hybrid, MSS 2022 juga mengusung gagasan khusus tentang teater boneka.

MSS 2022 akan menampilkan sejumlah pertunjukan yang berbasis pada tradisi seni boneka di Indonesia, serta pameran seni rupa yang dikembangkan dari khazanah seni boneka yang merupakan akar dari berbagai seni modern Indonesia

Perhatian khusus, jelas Nirwan ini berangkat dari pandangan tentang perkembangan seni modern Indonesia yang sejatinya banyak diilhami oleh berbagai bentuk seni boneka, baik itu wayang ataupun boneka dalam bentuk-bentuk lainnya.

Dirinya berharap teater di Indonesia memberikan kesempatan lebih besar kepada eksperimen di dalamnya yang diilhami dari boneka dan wayang. Baginya banyak eksperimen yang belum sempat tampil leluasa dalam khasanah teater.

“Maka itu harus diberi rangsangan lebih jauh,” ungkap Nirwan.

Teater boneka

Dalam rangkaiannya nanti, MSS 2022 akan diisi program pertunjukan teater, tari hingga musik. Para penampil itu di antaranya yakni Ugo Untoro dan Komunitas Sakayota, Josh Marcy, Bar(u)atimur Ensemble, Motekar, hingga seniman Fitri Setyaningsih.

Salihara juga akan menggelar sejumlah pertunjukan lama yang akan ditampilkan melalui arsip video. Di samping pertunjukan MSS 2022 juga akan menghadirkan pameran boneka teater nusantara di Galeri Salihara.

Pameran yang bertajuk “Kelana Boneka” ini menghadirkan puluhan boneka dari sembilan seniman Indonesia. Di antaranya yaitu Boneka Koran Sena Didi Mime, Kuntilanak Miss Tjitjih, Papermoon Puppet Theatre, Wayang Golek Den Kisot, hingga Wayang Heri Dono.

Ugo Untoro, merupakan seniman dan perupa boneka yang karyanya akan ditampilkan dalam pertunjukan MSS 2022 untuk pertama kalinya. Dirinya akan berkolaborasi dengan grup teater Komunitas Sakatoya.

“Awalnya kalau tidak salah diminta untuk main sendiri padahal saya belum memainkan boneka-boneka saya dalam bentuk sebuah pertunjukan. Namun akhirnya dipertemukanlah saya (oleh Komunitas Salihara) dengan komunitas Sakatoya dan jadilah kami berdua berkolaborasi bersama,” ujarnya.

Museum Kayu Tuah Himba, Alternatif Wisata Edukasi di Kutai Kartanegara

Selain Ugo Untoro, salah satu seniman yang akan tampil adalah Heri Dono. Dirinya mengaku sangat antusias dalam pameran MSS 2022 kali ini. Dalam memeriahkan acara ini, Heri akan menampilkan pameran karyanya yang lama.

“Pameran Kelana Boneka ini sangat menarik. Di MSS 2022 ini, saya pamerkan beberapa karya lama saya,” jelas Heri Dono, seorang seniman dalam pameran Kelana Boneka.

Tahun ini juga berbeda, karena dalam penyelenggaran MSS 2022, Salihara akan menghadirkan diskusi seni berbasis kesejarahan dengan nama Fokus! Dengan tema Pertumbuhan Teater Modern (di) Indonesia.

Seri diskusi daring ini akan mengajak peserta untuk mengikuti perjalanan teater di Indonesia dari era kolonial hingga pasca reformasi 1998 melalui enam sesi diskusi. Beberapa pembicara pun akan hadir.

Seperti, Arthur S. Nalan, Barbara Hatley, Benny Yohannes, Cahyaningrum Dewojati, Goenawan Mohammad, Ibed S Yuga, Kurniasih Zaitun, M.Yoesoef, Matthew Isaac, Nano Riantiarno, Slamet Rahardjo, dan Yudi Ahmad Tajudin.

Misi pendidikan

Kurator Gagasan Komunitas Salihara, Zen Hae menyebutkan hadirnya seri diskusi ini merupakan artikulasi dari semangat komunitas untuk menghadirkan program-program yang tak terlepas dari misi pendidikan.

“Festival ini sebetulnya tidak semata-mata mempertunjukan apa yang menjadi kreativitas kita di bidang seni pertunjukan, tetapi juga kita memperbincangkan apa apa yang menjadi isu penting dalam kesenian. Jadi ada aspek intelektualisme,” jelas Zen.

Setiap karya seni, pasti mempunyai nilainya masing-masing dan bisa juga tergantung dari bagaimana pandangan penonton terhadap karya seni tersebut. Komunitas Salihara melalui programnya ingin turut mengembangkan pendidikan serta edukasi.

Salah satu penampil MSS 2022, Josh Marcy yang merupakan seorang koreografer berpendapat bahwa tiap karya yang ditampilkan bisa jadi proses bersama antara penampil dan penonton.

Telusuri Kebudayaan Sunda di Museum Bale Indung Rahayu

Walau para penonton tidak berada di satu ruang yang sama, bagi Josh, nantinya akan tetap menimbulkan pandangan yang berbeda. Termasuk pada pertunjukan seni yang dia tampilkan, Josh menjelaskan makna di baliknya.

“Saya membiarkan ini menjadi karya sebagai refleksi, silahkan, tetapi untuk pesan khusus, karya ini berasal dari saya yang mengamati tubuh bergerak secara demikian. Antara penari satu dengan yang lain punya gerak berbeda. Hal itu yang membuat saya tertarik untuk mengikuti satu persatu,” ungkap Josh.

Bagi Salihara, interaksi dalam pertunjukan seni adalah sesuatu yang penting. Karena itu jelas Nirwan, seni pertunjukan adalah gabungan dari semua unsur baik dari seniman atau pun para penontonnya.

Sementara itu, meski keadaan semakin berangsur pulih, Komunitas Salihara tetap menggelar acara MSS 2022 secara hybrid. Para penampil nanti akan dibagi ke dalam tiga kategori yaitu luring (on-site), daring (online), dan pertunjukan arsip.

Menurut Nirwan, alasan mengapa MSS 2022 tidak sepenuhnya diadakan secara offline adalah terbatasnya kemungkinan untuk turut mengundang para seniman yang ada di luar negeri ke Indonesia.

“Kita gak menyelenggarakan secara offline, karena kita belum bisa mengundang mereka yang jauh di luar negeri, walaupun banyak sekali seniman yang merindukan untuk hadir. Jadi ya porsinya 50-50,” sambung Nirwan.

MSS 2022 akan berlangsung mulai 6 Agustus-4 September 2022 mendatang. Bila tertarik, kalian bisa melihat seluruh jadwal pertunjukan, pemesan tiket, dan detail acara secara lengkap di website resmi MSS 2022.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini